Matri Bermimpi Cetak Gol Penentu di Final Liga Champions
Jum'at, 22 Mei 2015 - 08:14 WIB
Matri Bermimpi Cetak Gol Penentu di Final Liga Champions
A
A
A
Alessandro Matri rata-rata menghabiskan sekitar satu setengah musim di sebuah klub. Kini, penyerang berusia 30 tahun tersebut antusias menyambut kemungkinan menjadi pencetak gol penentu kemenangan di final Liga Champions.
Impian itu muncul dalam benak Matri seusai membantu Juventus menjuarai Coppa Italia 2014/2015. Matri merobek gawang SS Lazio di Olimpico, dini hari kemarin. Kontribusinya cukup mengejutkan mengingat dirinya hanya empat kali masuk tim utama La Vecchia Signoramusim ini. Keberhasilan tersebut pun menumbuhkan kepercayaan diri. Matri membidik gawang Barcelona saat Juventus memperebutkan takhta tertinggi Eropa di Olimpiastadion, 6 Juni mendatang.
“Kami tidak sabar menanti tantangan berikutnya. Barcelona lawan tangguh. Tapi, siapa tahu saya bisa bermain dan menentukan hasil pertandingan,” tutur Matri, dikutip Tuttosport. Dengan Alvaro Morata dilarang merumput akibat sanksi disiplin, Matri mendapat kesempatan memimpin serangan Juventus pada final Coppa Italia. Menggantikan Fernando Llorente, dia menjadi pahlawan pada tujuh menit memasuki perpanjangan waktu.
Matri memang harus sabar menunggu. Dia striker pilihan keempat di La Vecchia Signora, di belakang Carlos Tevez, Morata, dan Llorente. Jika dihitung, Matri cuma merumput 450 menit sejak kembali bergabung bersama Juventus. Tiba di Turin pada bursa transfer Januari lalu, Matri sempat membela raksasa Italia itu pada 2011–2013. Entah karena suka berpetualang atau tidak pernah dapat meyakinkan klub agar mempertahankannya untuk kurun waktu panjang, Juventus merupakan salah satu dari delapan klub yang dibela Matri dalam karier selama 13 tahun.
Bermula sejak mencuat ke tim utama AC Milan pada 2002/2003, Matri dipinjamkan ke Prato (2004/2005), Lumezzane (2005/2006), dan Rimini (2006/2007). Dirasa kurang menjanjikan, Milan kemudian menjualnya ke Cagliari pada 2007/2008. Pada titik ini Matri mulai membangun reputasi. Selama tiga setengah musim dia bermain mengesankan dan mencetak 36 gol di liga. Rapor tersebut mendorong Juventus agar memboyongnya pada pasar transfer musim dingin 2010/2011.
Catatan Matri pada periode pertama di Juventus tidak terlalu buruk. Dia mencetak 27 gol di Seri A pada dua setengah musim. Performa ini membuat Milan tertarik dan mengajaknya kembali ke San Siro musim 2013/2014. Sayang, produktivitas Matri menurun. Dia cuma menyumbang satu gol pada paruh pertama kompetisi. Kondisi demikian memaksa Milan meminjamkannya ke Fiorentina ketika bursa pemain Januari dibuka.
Tapi, Fiorentina kurang yakin dan mengabaikan opsi membeli Matri secara permanen. Milan kemudian menitipkannya di Genoa musim panas tahun lalu. Genoa juga menolak Matri dan memulangkannya ke Milan, sebelum akhirnya Juventus mengajaknya bergabung dengan status sementara.
Harley Ikhsan
Impian itu muncul dalam benak Matri seusai membantu Juventus menjuarai Coppa Italia 2014/2015. Matri merobek gawang SS Lazio di Olimpico, dini hari kemarin. Kontribusinya cukup mengejutkan mengingat dirinya hanya empat kali masuk tim utama La Vecchia Signoramusim ini. Keberhasilan tersebut pun menumbuhkan kepercayaan diri. Matri membidik gawang Barcelona saat Juventus memperebutkan takhta tertinggi Eropa di Olimpiastadion, 6 Juni mendatang.
“Kami tidak sabar menanti tantangan berikutnya. Barcelona lawan tangguh. Tapi, siapa tahu saya bisa bermain dan menentukan hasil pertandingan,” tutur Matri, dikutip Tuttosport. Dengan Alvaro Morata dilarang merumput akibat sanksi disiplin, Matri mendapat kesempatan memimpin serangan Juventus pada final Coppa Italia. Menggantikan Fernando Llorente, dia menjadi pahlawan pada tujuh menit memasuki perpanjangan waktu.
Matri memang harus sabar menunggu. Dia striker pilihan keempat di La Vecchia Signora, di belakang Carlos Tevez, Morata, dan Llorente. Jika dihitung, Matri cuma merumput 450 menit sejak kembali bergabung bersama Juventus. Tiba di Turin pada bursa transfer Januari lalu, Matri sempat membela raksasa Italia itu pada 2011–2013. Entah karena suka berpetualang atau tidak pernah dapat meyakinkan klub agar mempertahankannya untuk kurun waktu panjang, Juventus merupakan salah satu dari delapan klub yang dibela Matri dalam karier selama 13 tahun.
Bermula sejak mencuat ke tim utama AC Milan pada 2002/2003, Matri dipinjamkan ke Prato (2004/2005), Lumezzane (2005/2006), dan Rimini (2006/2007). Dirasa kurang menjanjikan, Milan kemudian menjualnya ke Cagliari pada 2007/2008. Pada titik ini Matri mulai membangun reputasi. Selama tiga setengah musim dia bermain mengesankan dan mencetak 36 gol di liga. Rapor tersebut mendorong Juventus agar memboyongnya pada pasar transfer musim dingin 2010/2011.
Catatan Matri pada periode pertama di Juventus tidak terlalu buruk. Dia mencetak 27 gol di Seri A pada dua setengah musim. Performa ini membuat Milan tertarik dan mengajaknya kembali ke San Siro musim 2013/2014. Sayang, produktivitas Matri menurun. Dia cuma menyumbang satu gol pada paruh pertama kompetisi. Kondisi demikian memaksa Milan meminjamkannya ke Fiorentina ketika bursa pemain Januari dibuka.
Tapi, Fiorentina kurang yakin dan mengabaikan opsi membeli Matri secara permanen. Milan kemudian menitipkannya di Genoa musim panas tahun lalu. Genoa juga menolak Matri dan memulangkannya ke Milan, sebelum akhirnya Juventus mengajaknya bergabung dengan status sementara.
Harley Ikhsan
(ars)