Persib Tersungkur, Emral pun Tergusur
Kamis, 04 Juni 2015 - 16:56 WIB
Persib Tersungkur, Emral pun Tergusur
A
A
A
BANDUNG - Tersingkirnya Persib Bandung dari pentas AFC Cup 2015 memaksa manajemen Maung Bandung tidak lagi memakai jasa Emral Bin Bustamam sebagai pelatih. Persib secara menyakitkan disingkirkan Kitchee SC di babak 16 besar AFC Cup 2015 yang telah digelar beberapa waktu lalu.
Sejak awal, intrukstur kepelatihan ini memang diproyeksikan untuk menjadi pelatih kepala Persib Bandung selama berlaga di AFC Cup 2015, menggantikan peran Djadjang Nurdjaman yang hanya mengantongi lisensi B AFC.
Emral yang sudah mengantongi lisensi A AFC, tentu saja menjadi pilihan utama manajemen Persib untuk bekerja sebagai juru taktik selama mengarungi kompetisi kasta kedua level Asia tersebut. Namun, sangat disayangkan perjalanan Persib di AFC Cup 2015 terhenti di babak 16 besar, setelah dikalahkan wakil Hongkong dengan skor akhir 2-0 tanpa balas. Tak ayal, dampak kekalahan tersebut berimbas pada putusnya kontrak Emral sebagai pelatih kepala Maung Bandung.
Emral pun tak memungkiri merasakan kekecewaan, selain tak bisa membawa Persib menuju babak selanjutnya, babak 16 besar menjadi karir terakhirnya bekerjasama dengan tim jawara Indonesia Super League (ISL) 2014.
"Saya hanya terlibat dalam pertandingan internasional. Tapi yang lebih disayangkan, saat ini tim Indonesia dilarang untuk mengikuti kegiatan skala internasional lagi yang diadakan FIFA maupun AFC. Karena mendapatkan sanksi," ungkap Emral, saat dihubungi melalui telepon selularnya, Kamis (4/6/2015).
Sanksi yang diberikan FIFA terhadap persepak bolaan Indonesia, tak dapat dipungkiri telah merugikan banyak pihak. Selain tidak bisa mengikuti ajang internasional, kursus kepelatihan C AFC yang seharusnya digelar sejak 1 hingga 13 Juni mendatang batal terlaksana.
"Termasuk kursus kemarin, padahal saya sudah sampai di Sawangan untuk C AFC, batal karena enggak boleh, kalau dilanjutkan juga tidak diakui. Firman (Utina) juga ikut sayangkan tidak jadi kursus, padahal sudah datang teman-teman dari Papua dari Sulawesi dari Aceh tapi batal, betapa rugi mereka itu," kata Emral.
Dengan begitu, Emral pun menjadi segelintir orang yang tidak setuju dengan sanksi yang dikeluarkan FIFA. Apalagi kabarnya, sanksi tersebut digadang-gadang akan mengubah sepak bola nasional kearah yang lebih positif. "Justru sebaliknya, karena kita berlatih tanding dengan tim sejajar saja tidak bisa, ikut laga enggak juga. Uji coba sama tingkat internasional itu sangat penting," tegasnya.
Emral meyakini pembekuan yang dilakukan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Menpora) kepada PSSI salah kaprah. "Ya seharusnya, kalau ada yang tidak sehat ambil pelakunya, bukan dibekukan kompetisinya," tuturnya.
Tentu saja, ditambahkan Emral, banyaknya segelintir orang khususnya para klub yang terlibat merasa dirugikan. Sehingga cukup banyak juga para klub lebih membubarkan timnya, dengan alasan kerugian finansial semakin membengkak.
"Pembinaan di klub itu kan uangnya tidak sedikit, gaji pemain pelatih kan harus dibayar, jadi manajemen berpikir juga karena sepak bola Indonesia belakangan ini arahnya kan tidak jelas," katanya.
Untuk itu, Emral berharap kubu Menpora dan PSSI segera berdamai, agar pihak-pihak yang merasa dirugikan kembali menjalani aktivitasnya seperti semula. "Mudah-mudahan dalam waktu dekat Kemenpora dan PSSI sudah sejalan, kalau sanksi sudah dicabut PSSI juga lepas dari hukuman FIFA. Kasihan ini banyak pengangguran, akibat sepakbola kita yang tidak jalan," harapnya
Sejak awal, intrukstur kepelatihan ini memang diproyeksikan untuk menjadi pelatih kepala Persib Bandung selama berlaga di AFC Cup 2015, menggantikan peran Djadjang Nurdjaman yang hanya mengantongi lisensi B AFC.
Emral yang sudah mengantongi lisensi A AFC, tentu saja menjadi pilihan utama manajemen Persib untuk bekerja sebagai juru taktik selama mengarungi kompetisi kasta kedua level Asia tersebut. Namun, sangat disayangkan perjalanan Persib di AFC Cup 2015 terhenti di babak 16 besar, setelah dikalahkan wakil Hongkong dengan skor akhir 2-0 tanpa balas. Tak ayal, dampak kekalahan tersebut berimbas pada putusnya kontrak Emral sebagai pelatih kepala Maung Bandung.
Emral pun tak memungkiri merasakan kekecewaan, selain tak bisa membawa Persib menuju babak selanjutnya, babak 16 besar menjadi karir terakhirnya bekerjasama dengan tim jawara Indonesia Super League (ISL) 2014.
"Saya hanya terlibat dalam pertandingan internasional. Tapi yang lebih disayangkan, saat ini tim Indonesia dilarang untuk mengikuti kegiatan skala internasional lagi yang diadakan FIFA maupun AFC. Karena mendapatkan sanksi," ungkap Emral, saat dihubungi melalui telepon selularnya, Kamis (4/6/2015).
Sanksi yang diberikan FIFA terhadap persepak bolaan Indonesia, tak dapat dipungkiri telah merugikan banyak pihak. Selain tidak bisa mengikuti ajang internasional, kursus kepelatihan C AFC yang seharusnya digelar sejak 1 hingga 13 Juni mendatang batal terlaksana.
"Termasuk kursus kemarin, padahal saya sudah sampai di Sawangan untuk C AFC, batal karena enggak boleh, kalau dilanjutkan juga tidak diakui. Firman (Utina) juga ikut sayangkan tidak jadi kursus, padahal sudah datang teman-teman dari Papua dari Sulawesi dari Aceh tapi batal, betapa rugi mereka itu," kata Emral.
Dengan begitu, Emral pun menjadi segelintir orang yang tidak setuju dengan sanksi yang dikeluarkan FIFA. Apalagi kabarnya, sanksi tersebut digadang-gadang akan mengubah sepak bola nasional kearah yang lebih positif. "Justru sebaliknya, karena kita berlatih tanding dengan tim sejajar saja tidak bisa, ikut laga enggak juga. Uji coba sama tingkat internasional itu sangat penting," tegasnya.
Emral meyakini pembekuan yang dilakukan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Menpora) kepada PSSI salah kaprah. "Ya seharusnya, kalau ada yang tidak sehat ambil pelakunya, bukan dibekukan kompetisinya," tuturnya.
Tentu saja, ditambahkan Emral, banyaknya segelintir orang khususnya para klub yang terlibat merasa dirugikan. Sehingga cukup banyak juga para klub lebih membubarkan timnya, dengan alasan kerugian finansial semakin membengkak.
"Pembinaan di klub itu kan uangnya tidak sedikit, gaji pemain pelatih kan harus dibayar, jadi manajemen berpikir juga karena sepak bola Indonesia belakangan ini arahnya kan tidak jelas," katanya.
Untuk itu, Emral berharap kubu Menpora dan PSSI segera berdamai, agar pihak-pihak yang merasa dirugikan kembali menjalani aktivitasnya seperti semula. "Mudah-mudahan dalam waktu dekat Kemenpora dan PSSI sudah sejalan, kalau sanksi sudah dicabut PSSI juga lepas dari hukuman FIFA. Kasihan ini banyak pengangguran, akibat sepakbola kita yang tidak jalan," harapnya
(bbk)