Klub yang Hampir Bangkrut Itu Kini Ada di Liga Primer
Sabtu, 08 Agustus 2015 - 11:18 WIB
Klub yang Hampir Bangkrut Itu Kini Ada di Liga Primer
A
A
A
Roda kehidupan berjalan sangat cepat di Dean Court alias Vitality Stadium, kandang Bournemouth. Pada 2008, The Cherries nyaris bangkrut.
Kini, tujuh tahun berselang, klub yang lahir pada 1890 dengan nama Boscombe Saint John’s Institute FC itu akan menjalani debut di Liga Primer. Dengan utang mencapai 4 juta pounds, klub yang saat itu tampil di League One (level tiga) harus menerima pengurangan 10 poin.
Akibatnya, pada akhir musim 2007/2008, mereka terdegradasi ke League Two (level empat). Karena masalah keuangan yang belum selesai, Bournemouth juga harus mendapatkan pengurangan 17 poin di League Two 2008/2009.
Saat segalanya terlihat gelap, Jeff Mostyn, pemilik sekaligus CEO Bournemouth, diminta administrator liga untuk membayar 100.000 pounds atau klub akan ditutup. Menggunakan uang dari rekening pribadinya, Mostyn terpaksa menuruti permintaan tersebut demi menyelamatkan Bournemouth dari likuidasi.
“Orang-orang di sini bernapas dengan Bournemouth. Klub ini segalanya bagi mereka. Lihatlah berapa banyak orang di daerah ini yang bergantung kepada klub ini selama bertahun-tahun. Mereka tidak akan membiarkan kami melakukan kesalahan lagi,” ujar Mostyn, dilansir Daily Mail.
Setelah pengusaha asal Rusia Maxim Demin masuk pada 2011, kondisi keuangan klub mulai membaik. Bersama Eddie Mitchell, Demin dan Mostyn membangun kembali Bournemouth. Mereka memulai dari tempat latihan dan stadion. Fasilitas kelas satu dibangun untuk menunjang kinerja tim asuhan Eddie Howe itu.
Buktinya, hanya butuh dua musim di Championship Division (level dua), The Cherriesberhasil menembus kasta tertinggi sepak bola Inggris. “Saya ingat ketika klub tidak memiliki uang. Saat kami ingin mendapatkan pakaian dan perlengkapan yang bagus, kami harus mencucinya sendiri di rumah atau membayar orang sebesar 20 pounds.
Kini, kami mendapatkan lapangan yang sempurna. Kami berlatih dengan GPS dan menggunakan ilmu olahraga. Saat ini kami siap tampil di Liga Primer,” ungkap Harry Arter, gelandang Irlandia yang membela Bournemouth sejak 2010.
Setelah menjalani pramusim dengan tiga kemenangan, dua hasil imbang, dan dua kekalahan, Bournemouth akan menghadapi laga perdana Liga Primer. Sesuai jadwal, mereka akan menjamu Aston Villa.
Meski sang lawan adalah klub tradisional di Liga Primer, para punggawa Bournemouth tidak gentar. Mereka optimistis bisa mendapatkan tiga poin. “Para pemain telah mempersiapkan diri dengan baik sepanjang musim panas ini.
Tidak ada alasan mundur. Mereka sudah tidak sabar berada di lapangan pada laga Liga Primer. Ini akan menjadi momen bersejarah bagi kami,” kata Howe. Howe adalah pelatih yang menyelamatkan Bournemouth dari degradasi ke kompetisi amatir pada akhir musim 2008/2009.
Saat itu, The Cherries sukses bertahan di League Two setelah menang 2-1 atas Grimsby Town pada laga terakhir. Gol penentu kemenangan terjadi pada 10 menit sebelum laga berakhir. Fansmengenal duel itu sebagai The Great Escape.
Andri Ananto
Kini, tujuh tahun berselang, klub yang lahir pada 1890 dengan nama Boscombe Saint John’s Institute FC itu akan menjalani debut di Liga Primer. Dengan utang mencapai 4 juta pounds, klub yang saat itu tampil di League One (level tiga) harus menerima pengurangan 10 poin.
Akibatnya, pada akhir musim 2007/2008, mereka terdegradasi ke League Two (level empat). Karena masalah keuangan yang belum selesai, Bournemouth juga harus mendapatkan pengurangan 17 poin di League Two 2008/2009.
Saat segalanya terlihat gelap, Jeff Mostyn, pemilik sekaligus CEO Bournemouth, diminta administrator liga untuk membayar 100.000 pounds atau klub akan ditutup. Menggunakan uang dari rekening pribadinya, Mostyn terpaksa menuruti permintaan tersebut demi menyelamatkan Bournemouth dari likuidasi.
“Orang-orang di sini bernapas dengan Bournemouth. Klub ini segalanya bagi mereka. Lihatlah berapa banyak orang di daerah ini yang bergantung kepada klub ini selama bertahun-tahun. Mereka tidak akan membiarkan kami melakukan kesalahan lagi,” ujar Mostyn, dilansir Daily Mail.
Setelah pengusaha asal Rusia Maxim Demin masuk pada 2011, kondisi keuangan klub mulai membaik. Bersama Eddie Mitchell, Demin dan Mostyn membangun kembali Bournemouth. Mereka memulai dari tempat latihan dan stadion. Fasilitas kelas satu dibangun untuk menunjang kinerja tim asuhan Eddie Howe itu.
Buktinya, hanya butuh dua musim di Championship Division (level dua), The Cherriesberhasil menembus kasta tertinggi sepak bola Inggris. “Saya ingat ketika klub tidak memiliki uang. Saat kami ingin mendapatkan pakaian dan perlengkapan yang bagus, kami harus mencucinya sendiri di rumah atau membayar orang sebesar 20 pounds.
Kini, kami mendapatkan lapangan yang sempurna. Kami berlatih dengan GPS dan menggunakan ilmu olahraga. Saat ini kami siap tampil di Liga Primer,” ungkap Harry Arter, gelandang Irlandia yang membela Bournemouth sejak 2010.
Setelah menjalani pramusim dengan tiga kemenangan, dua hasil imbang, dan dua kekalahan, Bournemouth akan menghadapi laga perdana Liga Primer. Sesuai jadwal, mereka akan menjamu Aston Villa.
Meski sang lawan adalah klub tradisional di Liga Primer, para punggawa Bournemouth tidak gentar. Mereka optimistis bisa mendapatkan tiga poin. “Para pemain telah mempersiapkan diri dengan baik sepanjang musim panas ini.
Tidak ada alasan mundur. Mereka sudah tidak sabar berada di lapangan pada laga Liga Primer. Ini akan menjadi momen bersejarah bagi kami,” kata Howe. Howe adalah pelatih yang menyelamatkan Bournemouth dari degradasi ke kompetisi amatir pada akhir musim 2008/2009.
Saat itu, The Cherries sukses bertahan di League Two setelah menang 2-1 atas Grimsby Town pada laga terakhir. Gol penentu kemenangan terjadi pada 10 menit sebelum laga berakhir. Fansmengenal duel itu sebagai The Great Escape.
Andri Ananto
(ftr)