Roy Keane; Ikon MU yang Mengidolakan Tottenham
Senin, 10 Agustus 2015 - 20:14 WIB
Roy Keane; Ikon MU yang Mengidolakan Tottenham
A
A
A
LONDON - Sosok Roy Keane identik dengan Manchester United (MU). Keane menjadi kapten MU sejak 1997 hingga kepergiannya pada 2005. Bergabung dengan The Red Devils pada 1993, mantan pemain Nottingham Forest itu mengantongi 27 trofi major bersama MU.
Lahir di Cork, Irlandia, 10 Agustus 1971, Keane hidup dalam lingkungan keluarga yang menyukai olahraga, terutama sepak bola. Keane meniti karier junior di klub Rockmount A.F.C, pada usia 9 tahun dan menghabiskan beberapa tahun di sana.
Cobh Ramblers, klub semi-profesional Irlandia yang memberikan kesempatan pada Roy Keane untuk mentas di level lebih tinggi, setelah pelatih tim muda Ramblers kala itu Eddie O’Rourke yang menawarkannya bergabung. Ketika melakoni laga kontra Belvedere FC, performa ciamik Keane menarik perhatian salah satu kontestan Liga Inggris, Nottingham Forest. Ia pun mendapatkan ajakan berlatih, dan kualitas mengilap Keane, memikat Brian Clough, pelatih Nottingham Forest saat itu.

Awal musim 1990/1991, Roy Keane menjalani debut Liga Primer. Duel yang mempertemukan Nottingham Forest versus Liverpool menjadi batu lompatan kesuksesannya. Sejak pertandingan itu, Keane muda mendapat kepercayaan bermain secara reguler. Namun, perlu waktu satu tahun baginya untuk menyarangkan gol perdana, yakni saat Forest bersua Sheffield United. Selama membela Nottingham pada 1990–1993, Keane mencetak 22 gol dalam 114 laga.
Manchester United memboyong Roy Keane pada tahun 1993, guyuran dana 3,75 juta pounds (sekitar Rp78 miliar) tak kuasa ditampik oleh Nottingham Forest yang mengalami kebangkrutan. Kepastian Forest terhempas ke kompetisi kasta kedua pun kian membulatkan tekadnya hijrah ke Old Trafford. Musim 1995 ia menjadi satu-satunya gelandang berpengalaman yang tersisa, sepeninggal Paul Ince ke Inter Milan, Mark Hughes ke Chelsea, serta Andrei Kanschelkis ke Everton.

Pemain yang piawai berperan memutus rantai serangan lawan ini pun didapuk menjadi kapten Setan Merah pada tahun 1997, pasca Eric Cantona memutuskan pensiun. Meski ia nyaris kehilangan kesempatan bermain selama musim 1997/1998 akibat cedera ligamen setelah mendapat tekel horor punggawa Leeds United, Alf-Inge Haland.
Performa Roy Keane selama membela panji The Red Devils tergolong cemerlang. Pada musim perdana, ia sukses mengawinkan dua gelar sekaligus, Liga Primer Inggris, serta Piala FA. Catatan mulus tersebut berlangsung hingga ia mengakhiri kerjasamanya dengan Sir Alex Ferguson di medio 2005, setelah kubu United memutuskan melepasnya.
![Roy Keane; Ikon MU yang Mengidolakan Tottenham]()
Total, kolektor 67 caps bersama tim nasional Irlandia telah menyunting 7 gelar Liga Inggris (1993/94, 1995/96, 1996/97, 1998/99, 1999/2000, 2000/01, 2002/03), 4 piala FA (1993/94, 1995/96, 1998/99, 2003/04), 4 trofi Community Shield (1993, 1996, 1997, 2003), satu titel Piala Interkontinental (1999), serta satu mahkota The Big Ear Liga Champions (1998/99). Kemenangan dramatis 2-1 atas Bayern Muenchen pada final Liga Champion tersebut pun memastikan Manchester United merengkuh predikat treble winners (3 gelar semusim).
Meski sukses bersama MU, Keane mengaku bukan penggemar The Red Devils. Saat remaja dia lebih menggandrungi Tottenham Hotspur. "Saya tidak berpikir sebagai fans MU saat membela klub itu. Sejatinya saya penggemar Spurs. Membela MU bukan berarti saya harus menjadi penggemar tim itu," kata Keane.
Setelah meninggalkan rekan-rekannya di Old Trafford, pemilik 676 penampilan di level klub memutuskan bergabung dengan Celtic. Bersama pasukan The Hoops, rekor gemilang kembali ditorehkan. Trofi liga Skotlandia, dan Piala Liga Skotlandia ia berikan pada klub yang bermarkas di Celtic Park tersebut.
Kolektor 9 gol bersama timnas Irlandia, sudah cukup malang-melintang di dunia kepelatihan. Meski baru menangani sejumlah klub medioker, seperti Sunderland, Ipswich Town, timnas Irlandia, serta Aston Villa. Namun DNA juara yang kental dalam dirinya, tentu akan berimbas besar pada kesuksesan setiap tim yang diarsitekinya.
![Roy Keane; Ikon MU yang Mengidolakan Tottenham]()
Lahir di Cork, Irlandia, 10 Agustus 1971, Keane hidup dalam lingkungan keluarga yang menyukai olahraga, terutama sepak bola. Keane meniti karier junior di klub Rockmount A.F.C, pada usia 9 tahun dan menghabiskan beberapa tahun di sana.
Cobh Ramblers, klub semi-profesional Irlandia yang memberikan kesempatan pada Roy Keane untuk mentas di level lebih tinggi, setelah pelatih tim muda Ramblers kala itu Eddie O’Rourke yang menawarkannya bergabung. Ketika melakoni laga kontra Belvedere FC, performa ciamik Keane menarik perhatian salah satu kontestan Liga Inggris, Nottingham Forest. Ia pun mendapatkan ajakan berlatih, dan kualitas mengilap Keane, memikat Brian Clough, pelatih Nottingham Forest saat itu.

Awal musim 1990/1991, Roy Keane menjalani debut Liga Primer. Duel yang mempertemukan Nottingham Forest versus Liverpool menjadi batu lompatan kesuksesannya. Sejak pertandingan itu, Keane muda mendapat kepercayaan bermain secara reguler. Namun, perlu waktu satu tahun baginya untuk menyarangkan gol perdana, yakni saat Forest bersua Sheffield United. Selama membela Nottingham pada 1990–1993, Keane mencetak 22 gol dalam 114 laga.
Manchester United memboyong Roy Keane pada tahun 1993, guyuran dana 3,75 juta pounds (sekitar Rp78 miliar) tak kuasa ditampik oleh Nottingham Forest yang mengalami kebangkrutan. Kepastian Forest terhempas ke kompetisi kasta kedua pun kian membulatkan tekadnya hijrah ke Old Trafford. Musim 1995 ia menjadi satu-satunya gelandang berpengalaman yang tersisa, sepeninggal Paul Ince ke Inter Milan, Mark Hughes ke Chelsea, serta Andrei Kanschelkis ke Everton.

Pemain yang piawai berperan memutus rantai serangan lawan ini pun didapuk menjadi kapten Setan Merah pada tahun 1997, pasca Eric Cantona memutuskan pensiun. Meski ia nyaris kehilangan kesempatan bermain selama musim 1997/1998 akibat cedera ligamen setelah mendapat tekel horor punggawa Leeds United, Alf-Inge Haland.
Performa Roy Keane selama membela panji The Red Devils tergolong cemerlang. Pada musim perdana, ia sukses mengawinkan dua gelar sekaligus, Liga Primer Inggris, serta Piala FA. Catatan mulus tersebut berlangsung hingga ia mengakhiri kerjasamanya dengan Sir Alex Ferguson di medio 2005, setelah kubu United memutuskan melepasnya.

Total, kolektor 67 caps bersama tim nasional Irlandia telah menyunting 7 gelar Liga Inggris (1993/94, 1995/96, 1996/97, 1998/99, 1999/2000, 2000/01, 2002/03), 4 piala FA (1993/94, 1995/96, 1998/99, 2003/04), 4 trofi Community Shield (1993, 1996, 1997, 2003), satu titel Piala Interkontinental (1999), serta satu mahkota The Big Ear Liga Champions (1998/99). Kemenangan dramatis 2-1 atas Bayern Muenchen pada final Liga Champion tersebut pun memastikan Manchester United merengkuh predikat treble winners (3 gelar semusim).
Meski sukses bersama MU, Keane mengaku bukan penggemar The Red Devils. Saat remaja dia lebih menggandrungi Tottenham Hotspur. "Saya tidak berpikir sebagai fans MU saat membela klub itu. Sejatinya saya penggemar Spurs. Membela MU bukan berarti saya harus menjadi penggemar tim itu," kata Keane.
Setelah meninggalkan rekan-rekannya di Old Trafford, pemilik 676 penampilan di level klub memutuskan bergabung dengan Celtic. Bersama pasukan The Hoops, rekor gemilang kembali ditorehkan. Trofi liga Skotlandia, dan Piala Liga Skotlandia ia berikan pada klub yang bermarkas di Celtic Park tersebut.
Kolektor 9 gol bersama timnas Irlandia, sudah cukup malang-melintang di dunia kepelatihan. Meski baru menangani sejumlah klub medioker, seperti Sunderland, Ipswich Town, timnas Irlandia, serta Aston Villa. Namun DNA juara yang kental dalam dirinya, tentu akan berimbas besar pada kesuksesan setiap tim yang diarsitekinya.

(sha)