Inilah Momen Penting Suharno di Arema
Kamis, 20 Agustus 2015 - 12:55 WIB
Inilah Momen Penting Suharno di Arema
A
A
A
MALANG - Suharno, Pelatih Arema Cronus yang dua musim terakhir berkarier di Stadion Kanjuruhan, meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh elemen di Arema, baik manajemen maupun suporter. Dedikasinya untuk klub tidak terbantahkan.
Baik ketika situasi sepak bola sedang kondusif maupun tak menentu, Suharno terbukti loyal kepada Singo Edan. Memang, pelatih kelahiran Klaten 55 tahun silam tersebut belum sempat mengenyam prestasi puncak sebagai juara ISL.
Walau begitu, ada beberapa momen yang menjadikan semua Aremania dan insan bola nasional angkat topi. Dan ini adalah beberapa momen penting yang pernah dicatat Suharno selama mencurahkan tenaga dan pikiran di Arema.
Selamatkan Arema
Suharno tidak akan pernah dilupakan Aremania jika mengingat sejarah pada ISL 2012 silam. Dia menyelamatkan Arema dari cengkraman degradasi ketika direkrut manajemen pada paruh kedua musim tersebut. Arema yang mengalami krisis finansial dan dualisme klub saat itu, terseok-seok sejak awal musim dan terlihat bakal turun kasta. Tapi situasi berubah ketika Suharno datang dan menggantikan tugas Wolfgang Pikal. Pelan namun pasti, Arema merangkak meninggalkan zona degradasi dan akhirnya benar-benar selamat.
Juarai Inter Island Cup
Arema kecewa berat setelah gagal ke semifinal ISL 2014 setelah dikalahkan Persib Bandung di Palembang. Namun di tempat yang sama, pada 1 Februari 2015, Arema membalas kekalahan di final Inter Island Cup 2014. Walau gelar ini kelasnya di bawah gelar liga, namun level dan gengsinya paling tinggi dibanding turnamen pra musim lainnya. Sekaligus menjadi trofi paling bergengsi yang diraih Suharno sepanjang karirnya bersama Arema.
Sepak Bola Jalanan
Sebagai pelatih, pria yang krab disapa Once ini sangat peduli terhadap nasib sepak bola nasional. Dia sempat berbaur bersama supporter Aremania menggelar sepak bola jalanan sebagai aksi protes dihentikannya QNB League 2015 beberapa bulan silam. Suharno turun langsung dan menjadi wasit untuk supporter yang bermain bola di depan Stasiun Kota Baru, Malang. Tidak banyak pelatih yang kepedulian dan loyalitasnya demikian tinggi untuk klub, sekaligus memikirkan nasib sepak bola nasional.
Raih Lima Gelar Turnamen
Meski belum meraih juara liga, tahun 2015 merupakan momen terbaik bagi Suharno karena memberikan lima trofi untuk turnamen untuk Singo Edan. Secara berturut-turut, Arema memenangi Trofeo Persija, SCM Cup 2015, Inter Island Cup 2014, Bali Island Cup 2015, serta terakhir Sunrise of Java Cup 2015. Dari seorang pelatih spesialis 'tim sakit' Once berubah menjadi pelatih yang haus gelar. Bisa dibilang pada 2015 ini adalah puncak karirnya jika dikalkulasi dari koleksi trofi.
Loyalitas di Tengah Krisis
Loyalitas Suharno pada sepak bola dan Arema sangat terlihat ketika sepak bola mengalami krisis. Dia menjadi salah satu sosok yang ngotot tim Arema tetap eksis walau tim terhenti. Dalam situasi tim yang sering tidak komplit, Once tetap semangat memberikan materi latihan. Bahkan saat mengeluh sakit sejak Ulang Tahun Arema ke-28 pada 11 Agustus lalu, dia masih terus melatih tim hingga kepergiannya pada Rabu (19/8/2015) malam. Bahkan saat menghembuskan nafas terakhirnya dia masih mengenakan jersey Arema.
Baik ketika situasi sepak bola sedang kondusif maupun tak menentu, Suharno terbukti loyal kepada Singo Edan. Memang, pelatih kelahiran Klaten 55 tahun silam tersebut belum sempat mengenyam prestasi puncak sebagai juara ISL.
Walau begitu, ada beberapa momen yang menjadikan semua Aremania dan insan bola nasional angkat topi. Dan ini adalah beberapa momen penting yang pernah dicatat Suharno selama mencurahkan tenaga dan pikiran di Arema.
Selamatkan Arema
Suharno tidak akan pernah dilupakan Aremania jika mengingat sejarah pada ISL 2012 silam. Dia menyelamatkan Arema dari cengkraman degradasi ketika direkrut manajemen pada paruh kedua musim tersebut. Arema yang mengalami krisis finansial dan dualisme klub saat itu, terseok-seok sejak awal musim dan terlihat bakal turun kasta. Tapi situasi berubah ketika Suharno datang dan menggantikan tugas Wolfgang Pikal. Pelan namun pasti, Arema merangkak meninggalkan zona degradasi dan akhirnya benar-benar selamat.
Juarai Inter Island Cup
Arema kecewa berat setelah gagal ke semifinal ISL 2014 setelah dikalahkan Persib Bandung di Palembang. Namun di tempat yang sama, pada 1 Februari 2015, Arema membalas kekalahan di final Inter Island Cup 2014. Walau gelar ini kelasnya di bawah gelar liga, namun level dan gengsinya paling tinggi dibanding turnamen pra musim lainnya. Sekaligus menjadi trofi paling bergengsi yang diraih Suharno sepanjang karirnya bersama Arema.
Sepak Bola Jalanan
Sebagai pelatih, pria yang krab disapa Once ini sangat peduli terhadap nasib sepak bola nasional. Dia sempat berbaur bersama supporter Aremania menggelar sepak bola jalanan sebagai aksi protes dihentikannya QNB League 2015 beberapa bulan silam. Suharno turun langsung dan menjadi wasit untuk supporter yang bermain bola di depan Stasiun Kota Baru, Malang. Tidak banyak pelatih yang kepedulian dan loyalitasnya demikian tinggi untuk klub, sekaligus memikirkan nasib sepak bola nasional.
Raih Lima Gelar Turnamen
Meski belum meraih juara liga, tahun 2015 merupakan momen terbaik bagi Suharno karena memberikan lima trofi untuk turnamen untuk Singo Edan. Secara berturut-turut, Arema memenangi Trofeo Persija, SCM Cup 2015, Inter Island Cup 2014, Bali Island Cup 2015, serta terakhir Sunrise of Java Cup 2015. Dari seorang pelatih spesialis 'tim sakit' Once berubah menjadi pelatih yang haus gelar. Bisa dibilang pada 2015 ini adalah puncak karirnya jika dikalkulasi dari koleksi trofi.
Loyalitas di Tengah Krisis
Loyalitas Suharno pada sepak bola dan Arema sangat terlihat ketika sepak bola mengalami krisis. Dia menjadi salah satu sosok yang ngotot tim Arema tetap eksis walau tim terhenti. Dalam situasi tim yang sering tidak komplit, Once tetap semangat memberikan materi latihan. Bahkan saat mengeluh sakit sejak Ulang Tahun Arema ke-28 pada 11 Agustus lalu, dia masih terus melatih tim hingga kepergiannya pada Rabu (19/8/2015) malam. Bahkan saat menghembuskan nafas terakhirnya dia masih mengenakan jersey Arema.
(bbk)