Kontrak Putus-Nyambung Solusi di Tengah Matinya Kompetisi

Senin, 21 September 2015 - 15:53 WIB
Kontrak Putus-Nyambung...
Kontrak Putus-Nyambung Solusi di Tengah Matinya Kompetisi
A A A
PAMEKASAN - Sistem kontrak 'putus-nyambung' pun menjadi solusi finansial paling jitu di tengah ketidakpastian kompetisi. Pasalnya, sistem yang dipakai klub saat mengontrak pemain di Piala Presiden atau Piala Kemerdekaan itu tidak membebani.

Hampir semua klub Jawa Timur yang sudah tidak bertanding di turnamen, memulangkan pemainnya. Karena tidak ada aktivitas dan kontrak pun
otomatis terputus lagi.

Persepam Madura Utama mengambil langkah ini demi efisiensi. Selain untuk kepentingan finansial, klub juga merasa belum ada perlunya berlatih intensif karena belum ada event yang jelas. "Sekarang pemain bebas kontrak lagi," kata Manajer Persepam Said Abdullah.

Namun dirinya mengatakan pemain masih ada ikatan komitmen bahwa mereka akan kembali ke Madura saat tim 'dihidupkan' lagi. Persepam sebelumnya juga melontarkan keseriusan membangun tim lagi jika ada event yang bakal diikuti dalam waktu dekat.

"Sampai saat ini belum ada kepastian soal turnamen atau pertandingan dalam bentuk lain. Sementara pemain istirahat dan tak ada ikatan dengan klub. Tapi mereka menyatakan siap kembali jika sewaktu-waktu tim membutuhkan," jelas dia.

Klub dari level lebih tinggi juga menempuh langkah seperti ini, yakni Persegres Gresik United dan Persela Lamongan. Kebetulan tim bertetangga ini sekadar numpang lewat dan menjadi juru kunci di fase grup lalu. Tim kembali mati suri dan lebih konsentrasi ke tim muda yang bermain di Piala Gubernur Jatim.

"Sejak awal konsepnya sudah begitu, jadi pemain membela tim hanya di turnamen Piala Presiden. Selepas itu tidak ada lagi ikatan kontrak. Yang terpenting pemain bisa memperoleh pendapatan dari event tersebut," jelas Manajer Persegres Bagoes Cahyo Yuwono.

Bisa dibilang keikutsertaan di Piala Presiden murni untuk kepentingan finansial tim. Sebab match fee di turnamen tersebut diberikan ke pemain, sedangkan pihak klub sama sekali tidak memperoleh keuntungan walau mendapatkan subsidi dari penyelenggara.

"Kemarin kami bisa ikut turnamen karena memang ada subsidi, pemain juga mendapatkan match fee. Kalau tidak ada subsidi, jelas sangat berat bagi klub karena tak ada sumber dana berupa sponsor. Makanya setelah turnamen selesai, kami memilih vakum lagi untuk menghemat keuangan," tukas Bagoes.

Persela Lamongan juga menempuh cara seperti ini. Seusai gagal menembus fase knock out Piala Presiden, manajemen putar haluan dengan berkonsentrasi penuh pada Piala Gubernur Jatim yang melibatkan tim di level U-15 dan U-17.
(aww)
Berita Terkait
5 Klausul Aneh dalam...
5 Klausul Aneh dalam Kontrak Pemain Sepak Bola
Pandemi Covid-19 Kacaukan...
Pandemi Covid-19 Kacaukan Bursa Transfer Pemain
Transfer Pemain Teraneh...
Transfer Pemain Teraneh dalam Sejarah Sepak Bola, di Mana Anehnya?
Pandemi Covid-19 Bikin...
Pandemi Covid-19 Bikin Bursa Transfer Pemain Kacau
Sepak Bola Bisa Buktikan...
Sepak Bola Bisa Buktikan Uang Bukan Segalanya
Alasan Radja Nainggolan...
Alasan Radja Nainggolan Merapat ke Bhayangkara FC: Saya Merindukan Sepak Bola
Berita Terkini
Hari Ini, Timnas Indonesia...
Hari Ini, Timnas Indonesia vs Australia Berebut Tiket Final di Piala AFF U-19 2026
3 jam yang lalu
Hasil Australia Open...
Hasil Australia Open 2026: Alwi Farhan ke 16 Besar, Anthony Ginting Tersingkir
10 jam yang lalu
Link Live Streaming...
Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Australia di Piala AFF U-19 2026
11 jam yang lalu
Jadwal Timnas Inggris...
Jadwal Timnas Inggris vs Kosta Rika dan Portugal vs Nigeria Live di VISION+
13 jam yang lalu
10 Pesepak Bola Terkaya...
10 Pesepak Bola Terkaya di Piala Dunia 2026
17 jam yang lalu
Veda Ega Pulang Kampung,...
Veda Ega Pulang Kampung, Mario Suryo Aji Jalani Pemulihan Cedera
17 jam yang lalu
Infografis
Ranking FIFA Terbaru:...
Ranking FIFA Terbaru: Argentina Gusur Spanyol di Puncak, Indonesia Meroket 4 Tingkat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved