Kapolres Bandung: Ada Bobotoh Tewas, Itu Kabar Burung
Sabtu, 10 Oktober 2015 - 19:04 WIB
Kapolres Bandung: Ada Bobotoh Tewas, Itu Kabar Burung
A
A
A
BANDUNG - Sebanyak 6.000 lembar tiket pertandingan Persib Bandung melawan Mitra Kukar yang diperjualbelikan di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung, Jumat (9/10/2015) pagi, ludes dalam hitungan menit. Namun, antusiasme penonton tidak diikuti dengan sistem penjualan yang baik, sehingga dalam penjualan tiket tersebut ada bobotoh yang pingsan dan rusuh saat mengantri.
Menurut Kapolres Bandung AKBP Erwin Kurniawan, bobotoh yang pingsan akibat terlalu memaksakan diri, apalagi dari segi umur sudah lanjut. Jadi, wajar saat melakukan antrian bobotoh tersebut pingsan. Kapolres membantah ada bobotoh yang meninggal dunia saat antre.
"Ya, yang pingsan memang ada, satu orang. Kalau yang tewas atau ribut-ribut itu hanya berita simpang siur. Karena kami dari pagi jam 08.00 ada di sini (Jalak Harupat)," ujar Erwin.
Namun, Erwin berharap kejadian ini tidak boleh terulang di laga selanjutnya. Panitia pelaksana (panpel) laga kandang Persib harus bisa mengevaluasi diri agar bobotoh pun dengan nyaman menyaksikan laga tim idolanya.
"Ini penting untuk bagian dari analisa kita kedepan untuk pertandingan berikut. Pagi (kemarin) tadi juga saya menyaksikan sendiri bahwa tiket cepat habis, apakah yang dijual itu sesuai dengan yang disampaikan panitia pelaksana jumlahnya? Apakah kurang dan tidak sesuai?," tanyanya.
"Nanti kami akan melakukan beberapa penyeledikan-penyelidikan untuk berkaitan dengan hal tersebut saya harapkan pertandingan ini kan laga semifinal kita harapkan menjaga ketertiban dan kelancaraan keamanan, terutama saat sebelum dan sesudah laga pertandingan," tambahnya.
Bahkan, lanjut dia, apabila Persib tidak bisa melanjutkan ke babak selanjutnya, para bobotoh diharapkan tidak melampiaskan kemarahan dengan melakukan tindakan-tindakan yang tidak dibenarkan oleh hukum, seperti merusak, menganiaya, anarkis. "Kalau seperti itu, tentu kami pun tidak akan tinggal diam," tegasnya.
Dengan begitu, pihaknya berharap para bobotoh sadar diri dengan melakukan tindakan yang tidak diinginkan. "Bolehlah ini pertandingan hidup dan mati untuk Persib, tapi bukan berarti hidup dan mati untuk mereka (bobotoh), jadi ini suatu hal yang harus diluruskan kita harus menjunjung fairplay‎," jelasnya.
Menyingkapi hal itu, salah satu pentolan Viking Persib Club (VPC), Yana Umar mengatakan jika kondisi ini merupakan pemandangan yang biasa dalam setiap pertandingan bigmatch saat Persib bertindak sebagai tuan rumah. "Sudah biasa. Gak usah dibesar-besarin karena kalau di liga melawan tim besar selalu seperti ini," kata Yana.
Namun Yana berharap kepada bobotoh yang tidak mendapatkan tiket sebaiknya pulang dan menyaksikan tim kesayangannya dirumah. "Kalauu gak punya tiket udah aja pulang. Nonton di rumah dari pada di Stadion gak bisa apa-apa," tutupnya.
Menurut Kapolres Bandung AKBP Erwin Kurniawan, bobotoh yang pingsan akibat terlalu memaksakan diri, apalagi dari segi umur sudah lanjut. Jadi, wajar saat melakukan antrian bobotoh tersebut pingsan. Kapolres membantah ada bobotoh yang meninggal dunia saat antre.
"Ya, yang pingsan memang ada, satu orang. Kalau yang tewas atau ribut-ribut itu hanya berita simpang siur. Karena kami dari pagi jam 08.00 ada di sini (Jalak Harupat)," ujar Erwin.
Namun, Erwin berharap kejadian ini tidak boleh terulang di laga selanjutnya. Panitia pelaksana (panpel) laga kandang Persib harus bisa mengevaluasi diri agar bobotoh pun dengan nyaman menyaksikan laga tim idolanya.
"Ini penting untuk bagian dari analisa kita kedepan untuk pertandingan berikut. Pagi (kemarin) tadi juga saya menyaksikan sendiri bahwa tiket cepat habis, apakah yang dijual itu sesuai dengan yang disampaikan panitia pelaksana jumlahnya? Apakah kurang dan tidak sesuai?," tanyanya.
"Nanti kami akan melakukan beberapa penyeledikan-penyelidikan untuk berkaitan dengan hal tersebut saya harapkan pertandingan ini kan laga semifinal kita harapkan menjaga ketertiban dan kelancaraan keamanan, terutama saat sebelum dan sesudah laga pertandingan," tambahnya.
Bahkan, lanjut dia, apabila Persib tidak bisa melanjutkan ke babak selanjutnya, para bobotoh diharapkan tidak melampiaskan kemarahan dengan melakukan tindakan-tindakan yang tidak dibenarkan oleh hukum, seperti merusak, menganiaya, anarkis. "Kalau seperti itu, tentu kami pun tidak akan tinggal diam," tegasnya.
Dengan begitu, pihaknya berharap para bobotoh sadar diri dengan melakukan tindakan yang tidak diinginkan. "Bolehlah ini pertandingan hidup dan mati untuk Persib, tapi bukan berarti hidup dan mati untuk mereka (bobotoh), jadi ini suatu hal yang harus diluruskan kita harus menjunjung fairplay‎," jelasnya.
Menyingkapi hal itu, salah satu pentolan Viking Persib Club (VPC), Yana Umar mengatakan jika kondisi ini merupakan pemandangan yang biasa dalam setiap pertandingan bigmatch saat Persib bertindak sebagai tuan rumah. "Sudah biasa. Gak usah dibesar-besarin karena kalau di liga melawan tim besar selalu seperti ini," kata Yana.
Namun Yana berharap kepada bobotoh yang tidak mendapatkan tiket sebaiknya pulang dan menyaksikan tim kesayangannya dirumah. "Kalauu gak punya tiket udah aja pulang. Nonton di rumah dari pada di Stadion gak bisa apa-apa," tutupnya.
(sha)