PSSI Harus Geber Kongres Atau Kembalikan Mandat Ke Klub
Kamis, 14 Januari 2016 - 19:48 WIB
PSSI Harus Geber Kongres Atau Kembalikan Mandat Ke Klub
A
A
A
SEMARANG - Sejumlah klub Divisi Utama (DU) di Jawa Tengah mendesak kepada PSSI agar menggelar Kongres tahunan. Persijap Jepara, Persip Pekalongan, dan PSIS Semarang berharap ada evaluasi dan rencana untuk menyusun program pada tahun berikutnya.
PSSI harus segera mengambil sikap, karena kompetisi selama satu musim tidak berjalan dan imbasnya sangat luas.”Jika memang sudah merasa tidak mampu menjalankan organisasi, harusnya amanat dikembalikan kepada klub sebagai anggota PSSI. Jadi jangan dibiarkan berlarut-larut seperti ini,”kata CEO PSIS Yoyok Sukawi.
Menurut Yoyok, Kongres tersebut bisa menjadi momentum untuk membangkitan sepak bola nasional yang masih terpuruk. Dia menegaskan, tidak bermaksud untuk ikut salah satu kubu, melainkan ini demi kepentingan yang lebih luas lagi, yakni agar kompetisi kembali normal. ''Mosok koyo ngene terus (apa seperti ini terus),''ucapnya.
CEO Persijap Jepara Aris Isnandar juga sepakat, agar PSSI mengambil langkah-langkah dengan menggelar Kongres. Pihaknya tidak mempermasalakan siapa yang berada di pucuk pimpinan PSSI, namun yang terpenting agar kompetisi berjalan dan tidak menunggu tanpa ada kepastian.
''Terlepas ada cekcok dengan menteri atau Presiden, kompetisi harus tetap berjalan. Ini terkait dengan prestasi, kalau mau ditata ya sambil berjalan,” ungkapnya.
Dia mengaku tidak berani mengumpulkan pemain untuk pembentukan tim lantaran tidak ada kejelasan kompetisi. Turnamen hanya sekadar untuk mengisi kekosongan saja. Karena jika manajemen memutuskan bergerak, tentu juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. ”Kita mau bergerak, harus memikirkan cost,” katanya.
Sementara, CEO Persip Pekalongan Budi Setiawan berpendapat, mengumpulkan pemain jika hanya sekadar untuk ikut turnamen, itu sama saja menghambur-hamburkan uang. Apa yang dikejar oleh sebuah klub, jika hanya sekadar ikut turnamen. ”Kan hanya sebatas menang dan kalah, tidak ada prestasinya,” ujar dia.
Menurut dia, ada benarnya jika ada desakan dari bawah yang menginginkan segera digelar kongres. Karena pada kenyataannya, PSSI tidak bisa menggelar kompetisi. ”Tentu, seluruh stakeholder sepak bola ingin kompetisi kembali berjalan,” kata Budi.
Budi mengatakan, jika PSSI hanya terkesan diam, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) harus berinisiatif untuk menggelar Kongres Luar Biasa (KLB). Menurutnya, KLB tidak harus menunggu dukungan 2/3 atau 50 % +1, dari jumlah anggota PSSI. Mengingat saat ini PSSI sudah disanksi oleh FIFA dan dibekukan Kemenpora, maka aturan yang ada di PSSI tidak berlaku.
”Logika sederhananya kan seperti itu. Pemerintah jangan hanya diam saja. Mereka bisa membantu memfasilitasi digelarnya KLB, agar kompetisi bisa berjalan, lalu menjalankan kompetisi,”ujarnya, seraya menambahkan setelah itu baru membentuk kepengurusan PSSI definitif dan membenahi sepak bola.
PSSI harus segera mengambil sikap, karena kompetisi selama satu musim tidak berjalan dan imbasnya sangat luas.”Jika memang sudah merasa tidak mampu menjalankan organisasi, harusnya amanat dikembalikan kepada klub sebagai anggota PSSI. Jadi jangan dibiarkan berlarut-larut seperti ini,”kata CEO PSIS Yoyok Sukawi.
Menurut Yoyok, Kongres tersebut bisa menjadi momentum untuk membangkitan sepak bola nasional yang masih terpuruk. Dia menegaskan, tidak bermaksud untuk ikut salah satu kubu, melainkan ini demi kepentingan yang lebih luas lagi, yakni agar kompetisi kembali normal. ''Mosok koyo ngene terus (apa seperti ini terus),''ucapnya.
CEO Persijap Jepara Aris Isnandar juga sepakat, agar PSSI mengambil langkah-langkah dengan menggelar Kongres. Pihaknya tidak mempermasalakan siapa yang berada di pucuk pimpinan PSSI, namun yang terpenting agar kompetisi berjalan dan tidak menunggu tanpa ada kepastian.
''Terlepas ada cekcok dengan menteri atau Presiden, kompetisi harus tetap berjalan. Ini terkait dengan prestasi, kalau mau ditata ya sambil berjalan,” ungkapnya.
Dia mengaku tidak berani mengumpulkan pemain untuk pembentukan tim lantaran tidak ada kejelasan kompetisi. Turnamen hanya sekadar untuk mengisi kekosongan saja. Karena jika manajemen memutuskan bergerak, tentu juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. ”Kita mau bergerak, harus memikirkan cost,” katanya.
Sementara, CEO Persip Pekalongan Budi Setiawan berpendapat, mengumpulkan pemain jika hanya sekadar untuk ikut turnamen, itu sama saja menghambur-hamburkan uang. Apa yang dikejar oleh sebuah klub, jika hanya sekadar ikut turnamen. ”Kan hanya sebatas menang dan kalah, tidak ada prestasinya,” ujar dia.
Menurut dia, ada benarnya jika ada desakan dari bawah yang menginginkan segera digelar kongres. Karena pada kenyataannya, PSSI tidak bisa menggelar kompetisi. ”Tentu, seluruh stakeholder sepak bola ingin kompetisi kembali berjalan,” kata Budi.
Budi mengatakan, jika PSSI hanya terkesan diam, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) harus berinisiatif untuk menggelar Kongres Luar Biasa (KLB). Menurutnya, KLB tidak harus menunggu dukungan 2/3 atau 50 % +1, dari jumlah anggota PSSI. Mengingat saat ini PSSI sudah disanksi oleh FIFA dan dibekukan Kemenpora, maka aturan yang ada di PSSI tidak berlaku.
”Logika sederhananya kan seperti itu. Pemerintah jangan hanya diam saja. Mereka bisa membantu memfasilitasi digelarnya KLB, agar kompetisi bisa berjalan, lalu menjalankan kompetisi,”ujarnya, seraya menambahkan setelah itu baru membentuk kepengurusan PSSI definitif dan membenahi sepak bola.
(aww)