Suporter Tewas, Panpel PSS Khawatir Izin Pertandingan Dicabut
Senin, 23 Mei 2016 - 07:03 WIB
Suporter Tewas, Panpel PSS Khawatir Izin Pertandingan Dicabut
A
A
A
SLEMAN - Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) PSS, Sleman Ediyanto mengaku khawatir, kemungkinan izin laga Derby Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yakni PSS Sleman kontra Persiba Bantul yang akan berlangsung pada Senin (23/5/2016) ini bisa dicabut. Akibat imbas dari salah satu suporter Sleman yang dikabarkan meninggal dunia diduga karena bentrok antar-kelompok suporter di Jalan Magelang KM 14 pada Minggu (22/5) dini hari.
"Hingga saat ini kami masih menunggu kepastian dari pihak keamanan, walaupun sebelumnya izin pertandingan sudah turun sejak Jum'at (20/5/2016) sore lalu. Semoga tidak dicabut dan pertandingan tetap berjalan (sesuai jadwal)," ujar Ediyanto kepada Koran Sindo.
Untuk diketahui, bentrok antarkelompok suporter kembali pecah. Hingga mengakibatkan salah satu suporter Sleman yakni Stanislaus Gandhang Deswara meninggal dunia. Korban yang diduga dikeroyok kelompok suporter yang baru saja pulang mendukung timnya bertanding di Semarang itu tidak bisa diselamatkan setelah sempat mendapatkan perawatan medis. Korban sendiri direncanakan akan dimakamkan di rumah duka Krentelan Lor, Hargantoro, Wonogiri, Jawa Tengah.
"Sangat disesalkan peristiwa itu bisa terjadi. Kami tidak lapor polisi karena itu sudah masuk ke ranahnya polisi. Dari kami cuma bisa mengawal, semoga bisa tertangkap (pelakunya)," jelas mantan Ketua Umum Slemania Lilik Yulianto.
Setelah peristiwa tersebut, pihaknya mengaku telah berkoordinasi dan melakukan komunikasi dengan kelompok suporter klub lainnya yang ada di DIY. Harapannya dengan komunikasi yang baik, suasana bisa cair dan tidak ada ketegangan antarkelompok terutama selama kompetisi Indonesian Soccer Championship (ISC) B 2016 berlangsung.
Pria yang juga merupakan Koordinator Laskar Slemania 2000 itu juga menyayangkan, tidak adanya inisiatif dari tiga klub sepakbola DIY untuk mengumpulkan perwakilan suporter masing-masing dan menggelar silaturahmi bersama sebelum laga ISC B berlangsung. Menurutnya dengan dihelatnya pertemuan tersebut, peristiwa itu pun bisa terhindarkan.
"Berharap semoga masing-masing pihak bisa menahan diri, saling menghormati dan selalu jaga tali silaturahmi antarsuporter. Sayangnya tidak ada inisiatif untuk (melakukan pertemuan silaturahmi) itu sebelumnya. Apa iya suporter itu hanya untuk pelengkap klub saja," kata dia.
Ketika disinggung tentang latar belakang peristiwa pengeroyokan tersebut, menurutnya berasal dari unsur dendam antara kelompok yang bertikai. Dia sendiri berharap, peristiwa ini menjadi yang terakhir dan tidak terulang lagi ke depannya.
Sementara itu Presiden Brajamusti yang merupakan salah satu kelompok suporter PSIM Yogyakarta Rahmad Kurniawan ketika dikonfirmasi tentang peristiwa tersebut belum merespon kembali hingga Minggu (22/5) sore. Pria yang akrab disapa dengan Mamek itu masih disibukkan dengan rapat koordinasi. (Baca juga: Suporter PSS Sleman Tewas, Brajamusti Minta Polisi Usut Tuntas)
"Hingga saat ini kami masih menunggu kepastian dari pihak keamanan, walaupun sebelumnya izin pertandingan sudah turun sejak Jum'at (20/5/2016) sore lalu. Semoga tidak dicabut dan pertandingan tetap berjalan (sesuai jadwal)," ujar Ediyanto kepada Koran Sindo.
Untuk diketahui, bentrok antarkelompok suporter kembali pecah. Hingga mengakibatkan salah satu suporter Sleman yakni Stanislaus Gandhang Deswara meninggal dunia. Korban yang diduga dikeroyok kelompok suporter yang baru saja pulang mendukung timnya bertanding di Semarang itu tidak bisa diselamatkan setelah sempat mendapatkan perawatan medis. Korban sendiri direncanakan akan dimakamkan di rumah duka Krentelan Lor, Hargantoro, Wonogiri, Jawa Tengah.
"Sangat disesalkan peristiwa itu bisa terjadi. Kami tidak lapor polisi karena itu sudah masuk ke ranahnya polisi. Dari kami cuma bisa mengawal, semoga bisa tertangkap (pelakunya)," jelas mantan Ketua Umum Slemania Lilik Yulianto.
Setelah peristiwa tersebut, pihaknya mengaku telah berkoordinasi dan melakukan komunikasi dengan kelompok suporter klub lainnya yang ada di DIY. Harapannya dengan komunikasi yang baik, suasana bisa cair dan tidak ada ketegangan antarkelompok terutama selama kompetisi Indonesian Soccer Championship (ISC) B 2016 berlangsung.
Duka mendalam utk salah satu anggota BCS, Stanislaus Gandhang Deswara. Kami harap pihak kepolisian mengusut tuntas kasus ini. #SlemanBerduka
— PSS Sleman (@PSSleman) May 22, 2016
Pria yang juga merupakan Koordinator Laskar Slemania 2000 itu juga menyayangkan, tidak adanya inisiatif dari tiga klub sepakbola DIY untuk mengumpulkan perwakilan suporter masing-masing dan menggelar silaturahmi bersama sebelum laga ISC B berlangsung. Menurutnya dengan dihelatnya pertemuan tersebut, peristiwa itu pun bisa terhindarkan.
"Berharap semoga masing-masing pihak bisa menahan diri, saling menghormati dan selalu jaga tali silaturahmi antarsuporter. Sayangnya tidak ada inisiatif untuk (melakukan pertemuan silaturahmi) itu sebelumnya. Apa iya suporter itu hanya untuk pelengkap klub saja," kata dia.
Ketika disinggung tentang latar belakang peristiwa pengeroyokan tersebut, menurutnya berasal dari unsur dendam antara kelompok yang bertikai. Dia sendiri berharap, peristiwa ini menjadi yang terakhir dan tidak terulang lagi ke depannya.
Sementara itu Presiden Brajamusti yang merupakan salah satu kelompok suporter PSIM Yogyakarta Rahmad Kurniawan ketika dikonfirmasi tentang peristiwa tersebut belum merespon kembali hingga Minggu (22/5) sore. Pria yang akrab disapa dengan Mamek itu masih disibukkan dengan rapat koordinasi. (Baca juga: Suporter PSS Sleman Tewas, Brajamusti Minta Polisi Usut Tuntas)
(bbk)