Harusnya Mobil F1 Bisa Melaju Hingga Kecepatan 450 Km/Jam
Jum'at, 30 Desember 2016 - 05:00 WIB
Harusnya Mobil F1 Bisa Melaju Hingga Kecepatan 450 Km/Jam
A
A
A
MONACO - Mampukah mobil Formula Satu melaju hingga kecepatan 450 kilometer/jam di lintasan? Kalau hal itu ditanyakan kepada mantan pembalap F1 yang satu ini, jawabannya bisa.
Ya, kepala Asosiasi Pembalap Grand Prix (GPDA) Alexander Wurz, berharap adanya peningkatan di aspek keselamatan F1 sehingga mobil dapat melaju lebih kencang sekaligus membuat balapan menjadi lebih seru.
Mantan pembalap Formula 1 dari Austria itu ingin melihat mobil-mobil F1 melaju lebih kencang dan dengan tingkat downforce yang lebih tinggi. Namun, dia juga menekankan bahwa hal tersebut hanya akan dapat dicapai selama risiko kematian dapat terus diturunkan.
“Jika saya seorang visioner di F1, saya ingin mobil yang lebih aman, dan juga dapat melaju lebih kencang,” ujar Wurz kepada Motorsport.com.
“Ketika saya berbicara ‘lebih kencang’ yang saya maksud adalah mobil yang dapat melaju hingga 450 km/jam, dan juga downforce yang lebih tinggi. Selama aspek keselamatan juga bisa ditingkatkan, kita akan bisa melihat mobil-mobil tersebut membalap di sirkuit-sirkuit ekstrem.
Wurz yang tahun ini sempat melobi agar F1 memasang perangkat ‘Halo’ di musim 2017, sebelum akhirnya diundur hingga 2018. Percaya bahwa peningkatan aspek keselamatan dapat mengeliminasi beberapa peraturan yang saat ini membuat balapan F1 menjadi sedikit membosankan bagi para fans.
“Kita jadi tidak perlu membutuhkan area run-off yang terlalu besar. Kami ingin fans di rumah berpikir: ‘Wow saya tidak yakin saya bisa mengemudi seperti itu. Hanya pembalap yang paling berani dan berbakat yang bisa mengemudi sekencang itu’, tambah Wurz.
“Mobil juga harus bisa dibangun lebih aman lagi, karena direktur balap tentunya harus menjaga keselamatan tiap pembalap. Jika sesuatu yang buruk terjadi, kita akan balik ke nol lagi,” kata mantan pembalap F1 tim Benetton dan McLaren itu.
Wurz kemudian berkata, jika F1 berniat mengadopsi ide tersebut di masa depan, dia menginginkan adanya rencana jangka panjang yang dapat diterapkan.
“Ide tersebut lebih cocok dianggap sebagai visi jangka panjang saya, dan ide tersebut tidak akan cocok dengan orang-orang yang masih memiliki visi jangka pendek. Meski begitu, saya sendiri tidak yakin apakah ide saya sudah benar. Tetapi, itulah alasan mengapa kami harus selalu mengambil keputusan sebagai grup,” tandas pria 42 tahun yang masih aktif balapan di Le Mans 24 Hours setiap tahun bersama tim Toyota itu.
Ya, kepala Asosiasi Pembalap Grand Prix (GPDA) Alexander Wurz, berharap adanya peningkatan di aspek keselamatan F1 sehingga mobil dapat melaju lebih kencang sekaligus membuat balapan menjadi lebih seru.
Mantan pembalap Formula 1 dari Austria itu ingin melihat mobil-mobil F1 melaju lebih kencang dan dengan tingkat downforce yang lebih tinggi. Namun, dia juga menekankan bahwa hal tersebut hanya akan dapat dicapai selama risiko kematian dapat terus diturunkan.
“Jika saya seorang visioner di F1, saya ingin mobil yang lebih aman, dan juga dapat melaju lebih kencang,” ujar Wurz kepada Motorsport.com.
“Ketika saya berbicara ‘lebih kencang’ yang saya maksud adalah mobil yang dapat melaju hingga 450 km/jam, dan juga downforce yang lebih tinggi. Selama aspek keselamatan juga bisa ditingkatkan, kita akan bisa melihat mobil-mobil tersebut membalap di sirkuit-sirkuit ekstrem.
Wurz yang tahun ini sempat melobi agar F1 memasang perangkat ‘Halo’ di musim 2017, sebelum akhirnya diundur hingga 2018. Percaya bahwa peningkatan aspek keselamatan dapat mengeliminasi beberapa peraturan yang saat ini membuat balapan F1 menjadi sedikit membosankan bagi para fans.
“Kita jadi tidak perlu membutuhkan area run-off yang terlalu besar. Kami ingin fans di rumah berpikir: ‘Wow saya tidak yakin saya bisa mengemudi seperti itu. Hanya pembalap yang paling berani dan berbakat yang bisa mengemudi sekencang itu’, tambah Wurz.
“Mobil juga harus bisa dibangun lebih aman lagi, karena direktur balap tentunya harus menjaga keselamatan tiap pembalap. Jika sesuatu yang buruk terjadi, kita akan balik ke nol lagi,” kata mantan pembalap F1 tim Benetton dan McLaren itu.
Wurz kemudian berkata, jika F1 berniat mengadopsi ide tersebut di masa depan, dia menginginkan adanya rencana jangka panjang yang dapat diterapkan.
“Ide tersebut lebih cocok dianggap sebagai visi jangka panjang saya, dan ide tersebut tidak akan cocok dengan orang-orang yang masih memiliki visi jangka pendek. Meski begitu, saya sendiri tidak yakin apakah ide saya sudah benar. Tetapi, itulah alasan mengapa kami harus selalu mengambil keputusan sebagai grup,” tandas pria 42 tahun yang masih aktif balapan di Le Mans 24 Hours setiap tahun bersama tim Toyota itu.
(sbn)