Trauma Jalur Play Off, Swiss Akan Habis-habisan Hadapi Portugal
Selasa, 10 Oktober 2017 - 11:52 WIB
Trauma Jalur Play Off, Swiss Akan Habis-habisan Hadapi Portugal
A
A
A
CUKUP panjang kenangan pahit Die Nati, julukan timnas Swiss, di lapangan hijau. Salah satunya dalam babak play-off melawan Turki di pengujung 2005, khususnya ketika harus bertandang ke Istanbul. Meski lolos ke putaran final Piala Dunia 2006 dengan agregate 4-4, Die Nati mendapatkan pengalaman pahit dikeroyok pemain dan ofisial Turki dalam perjalanan keluar lapangan.
“Kami tidak ingin masuk babak play-off, selain lawannya berat, juga pertandingannya terlalu panas,” ujar Granit Xhaka sebelum bertolak ke Lisabon, Portugal. Itu artinya, punggawa Arsenal ini bertekad berjuang habis-habisan di Estadio da Luz, Lisabon, dini hari nanti. (Baca juga: Portugal Pastikan Ronaldo Tampil Lawan Swiss )
Syukur-syukur bisa menang, meskipun dengan hasil seri sudah cukup mengamankan tiket tahun depan di Moskow, Rusia. Meskipun akan mendapatkan tekanan pendukung penonton tuan rumah yang dikenal fanatik, juga keberadaan Cristiano Ronaldo, Xhaka mengaku optimis bisa lolos ke Rusia tanpa harus menghadapi pengalaman pahit seperti di Istanbul tahun 2005 lalu.
Optimisme itu berasal dari hasil pertandingan melawan Hongaria. Meskipun tanpa diperkuat empat pilar utama, yakni absennya Ricardo Rodriguez (akumulasi kartu kuning), Valon Behrami (cedera), Admir Memehdi (dua kartu kuning), dan Blerim Dzemaili (dua kartu kuning), Xhaka dkk berhasil menggulung Hongaria. Empat pemain pelapis, Francois Moubandje, Remo Freuler, Fabian Frei, dan Steven Zuber, berhasil menutup kekosongan yang selama ini dianggap tidak tergantikan.
“Kami sekarang ini memiliki banyak pemain pilihan. Impian saya tak sekadar lolos ke Moskow, tapi juga juara dunia,” kata Yann Sommer, penjaga gawang Swiss.
Tiga tahun silam, Sommer dan kawan-kawan nyaris masuk perempat final Piala Dunia di Brasil jika tidak kalah tipis 0-1 melawan Argentina. Keberhasilan penampilan pemain lapis kedua itu juga akan membuat Petkovic menghadapi dilema di Lisabon. Akankah tetap mempertahankan the winning team atau kembali memasang empat pemain intinya.
Ricardo Rodriguez diperkirakan akan diturunkan, begitu juga Admir Memehdi. Sementara Blerim Dzemaili akan dipasang sebagai pemain cadangan. Steven Zuber, pemain lapis kedua yang berhasil mencetak dua gol ke gawang Hongaria, akan menjadi pilihan sulit untuk Petkovic.
Jika hasilnya lain dari harapan, kalah misalnya, akan mengulang sejarah betapa tragisnya perjalanan Die Nati. Bayangkan, selama sembilan kali pertandingan dalam penyisihan Grup B, sebanyak sembilan kali pula meraih kemenangan, termasuk mengalahkan Portugal di Basel. Meskipun agak susah payah saat mengalahkan Hongaria pada leg pertama, juga menang mati-matian melawan Andora dan Latvia, rekor sembilan kali kemenangan Die Nati cukup membanggakan. Petkovic bahkan langsung diperpanjang kontrak kepelatihannya, meskipun dikabarkan meminta bayaran yang tinggi.
“Kalaupun kalah, masih ada harapan di babak play-off, meskipun kami tidak berharap untuk itu,” kata Xhaka.(Krisna Diantha)
“Kami tidak ingin masuk babak play-off, selain lawannya berat, juga pertandingannya terlalu panas,” ujar Granit Xhaka sebelum bertolak ke Lisabon, Portugal. Itu artinya, punggawa Arsenal ini bertekad berjuang habis-habisan di Estadio da Luz, Lisabon, dini hari nanti. (Baca juga: Portugal Pastikan Ronaldo Tampil Lawan Swiss )
Syukur-syukur bisa menang, meskipun dengan hasil seri sudah cukup mengamankan tiket tahun depan di Moskow, Rusia. Meskipun akan mendapatkan tekanan pendukung penonton tuan rumah yang dikenal fanatik, juga keberadaan Cristiano Ronaldo, Xhaka mengaku optimis bisa lolos ke Rusia tanpa harus menghadapi pengalaman pahit seperti di Istanbul tahun 2005 lalu.
Optimisme itu berasal dari hasil pertandingan melawan Hongaria. Meskipun tanpa diperkuat empat pilar utama, yakni absennya Ricardo Rodriguez (akumulasi kartu kuning), Valon Behrami (cedera), Admir Memehdi (dua kartu kuning), dan Blerim Dzemaili (dua kartu kuning), Xhaka dkk berhasil menggulung Hongaria. Empat pemain pelapis, Francois Moubandje, Remo Freuler, Fabian Frei, dan Steven Zuber, berhasil menutup kekosongan yang selama ini dianggap tidak tergantikan.
“Kami sekarang ini memiliki banyak pemain pilihan. Impian saya tak sekadar lolos ke Moskow, tapi juga juara dunia,” kata Yann Sommer, penjaga gawang Swiss.
Tiga tahun silam, Sommer dan kawan-kawan nyaris masuk perempat final Piala Dunia di Brasil jika tidak kalah tipis 0-1 melawan Argentina. Keberhasilan penampilan pemain lapis kedua itu juga akan membuat Petkovic menghadapi dilema di Lisabon. Akankah tetap mempertahankan the winning team atau kembali memasang empat pemain intinya.
Ricardo Rodriguez diperkirakan akan diturunkan, begitu juga Admir Memehdi. Sementara Blerim Dzemaili akan dipasang sebagai pemain cadangan. Steven Zuber, pemain lapis kedua yang berhasil mencetak dua gol ke gawang Hongaria, akan menjadi pilihan sulit untuk Petkovic.
Jika hasilnya lain dari harapan, kalah misalnya, akan mengulang sejarah betapa tragisnya perjalanan Die Nati. Bayangkan, selama sembilan kali pertandingan dalam penyisihan Grup B, sebanyak sembilan kali pula meraih kemenangan, termasuk mengalahkan Portugal di Basel. Meskipun agak susah payah saat mengalahkan Hongaria pada leg pertama, juga menang mati-matian melawan Andora dan Latvia, rekor sembilan kali kemenangan Die Nati cukup membanggakan. Petkovic bahkan langsung diperpanjang kontrak kepelatihannya, meskipun dikabarkan meminta bayaran yang tinggi.
“Kalaupun kalah, masih ada harapan di babak play-off, meskipun kami tidak berharap untuk itu,” kata Xhaka.(Krisna Diantha)
(amm)