Lincahnya Pecatur Cilik Saat Berlaga dalam Turnamen Catur Piala 3 M

Minggu, 27 Januari 2019 - 19:22 WIB
Lincahnya Pecatur Cilik...
Lincahnya Pecatur Cilik Saat Berlaga dalam Turnamen Catur Piala 3 M
A A A
JAKARTA - Gerakannya begitu lincah. Tangannya bergerak cepat dan fasih memindahkan biduk catur sembari menekan jam catur di depannya. Itulah yang ditampilkan Morado, seorang pecatur cilik berusia sembilan tahun saat berlaga dalam turnamen catur yang memperebutkan Piala "3 M" di GOR Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu, 26 Januari 2019.

Piala 3 M yang dimaksud di sini bukanlah nominal uang sebesar Rp3 miliar, melainkan tiga politisi yang menjadi sponsor turnamen tersebut. Mereka adalah dua politikus Senayan, yakni M. Misbakhun dan Maruarar Sirait, serta mantan anggota DPR RI M Hatta Taliwang.

Selain trofi, turnamen ini menggelontorkan hadiah berupa uang total sebesar Rp119.400.000. Jumlah tersebut disiapkan untuk 160 pemain terbaik. Kembali ke Morado. Bocah asal Bekasi, Jawa Barat sudah jago bertanding catur dan mampu mengalahkan lawan-lawannya dengan mudah.

Bahkan, dalam pertandingan yang ia tampilkan dengan dua temannya, Amira dan Ardi, ia hanya memainkan catur dengan durasi 1 menit. "Saya belajar catur sejak usia 6 tahun. Dulu ikut kursus, terus latihan tiap hari Selasa, Rabu, dan Jumat," kata Morado sambil memindahkan biduk catur di depannya.

Hasil dari kerja kerasnya sejak usia dini, Morado mengaku sudah sering menjuarai pertandingan catur untuk kategori anak usia di bawah 12 tahun. "Saya juara sudah lebih 10 kali," ujarnya.

Pemandangan pecatur cilik yang lincah juga ditunjukkan Amira dan Ardi. Amira, bocah delapan tahun asal Pamulang, Tangerang Selatan ini, juga sudah cekatan dalam menjalankan biduk-biduk catur.

Tapi berbeda dengan Morado, Amira mempelajari catur bukan dari tempat kursus atau sekolah catur, melainkan dari orang tuanya. "Saya belajar dari ayah, dia seorang wasit catur," ketus gadis cilik yang mengenakan jilbab ini.

Hal serupa juga diungkapkan Ardi, pecatur cilik lainnya yang ikut serta dalam turnamen ini. Ia mengaku mempelajari catur juga dari orang tuanya. "Bapak saya memang pemain catur. Jadi saya belajar ke Bapak," ujar bocah asal Tangerang Selatan, yang mengaku sudah pernah memenangkan turnamen catur cilik selama dua kali ini.

Morado, Amira, dan Ardi adalah sedikit dari para pecatur yang berlaga dalam Turnamen "3 M" yang berjumlah lebih dari 850 peserta. Mereka dikumpulkan dalam berbagai kategori, yakni kategori master diikuti 150 orang, dengan perincuan satu Grand Master, 13 Master Internasional, 24 Fide Master, dan 82 Master Nasional. Sedangkan peserta Non Master sebanyak 560 orang.

Kategori lainnya dalam turnamen ini adalah pecatur kelompok usia (KU) 12 tahun sebanyak 70 dan KU 16 tahun sebanyak 46 orang. Turnamen ini juga diikuti wasit dari 20 provinsi, yakni sebanyak 24 orang. Sedangkan satu pemain yang cukup menyita perhatian berasal dari luar negeri, yakni dari Filipina.

Hatta Taliwang, salah satu penyelenggara mengaku cukup kaget dengan jumlah yang luar biasa ini. Apalagi kata dia, turnamen kali ini diikuti oleh para pecatur master internasional. "Saya kira ini rekor, kita bisa mengumpulkan 150 master," kata Hatta di arena sela-sela pertandingan catur.

Hatta memaklumi dengan gairah yang sangat besar dari para pecatur di Tanah Air. Menurutnya, hal ini terjadi karena catur merupakan olahraga otak yang tidak memerlukan biaya mahal.

"Gairah masyarakat di sini terasa, peminat catur setiap tahun bertumbuh di seluruh Tanah Air, karena ini olahraga otak dan murah. Dengan makin meningkatnya peminat catur di seluruh Indonesia, kita berharap perhatian pemerintah di seluruh daerah untuk ikut setiap PON atau Porda," kata Hatta.

Oleh karenanya, Hatta berharap agar pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dapat meningkatkan anggaran untuk olahraga catur. "Kita berharap pemerintah daerah dapat menaikkan anggarannya untuk catur. Juga pemerintah pusat, termasuk juga BUMN atau perusahaan-perusahaan swasta lebih banyak berpartisipasi mensponsori acara-acara yang semakin tahun semakin banyak ini, karena olahraga ini relatif murah. Bayangkan mereka dari luar daerah berlomba-lomba, padahal kalau mengejar hadiah, mereka belum tentu dapat. Ini artinya motivasi mereka semakin meningkat," jelasnya.

"Ya, target kegiatan ini ujungnya adalah peningkatan prestasi, bagaimana Indonesia bisa lebih baik di dalam pertandingan catur internasional."
(bbk)
Berita Terkait
Herfesa Shafira Devi,...
Herfesa Shafira Devi, Pecatur Muda Indonesia Lolos Piala Dunia 2025
Diikuti 1.506 Atlet,...
Diikuti 1.506 Atlet, Kejurnas Catur 2023 Pecahkan Rekor Muri
Kejurda Catur DKI Jakarta...
Kejurda Catur DKI Jakarta 2025: Hardiyanto Kenneth Bidik Gelar Juara Nasional
Strategi Catur yang...
Strategi Catur yang Mengalahkan Benjamin Franklin dan Napoleon Terkuak
Pecatur Muda Indonesia...
Pecatur Muda Indonesia Zach Alexander Tjong, Baru Umur 7 Tahun tapi Sukses di Level Asia
Yogyakarta Minim Turnamen...
Yogyakarta Minim Turnamen Catur, Pelatih Catur UGM: Latihan Sering, Kompetisi Jarang
Berita Terkini
Inggris vs Ghana: The...
Inggris vs Ghana: The Three Lions Menuju Rekor Baru
54 menit yang lalu
Mbappe Ungkap Momen...
Mbappe Ungkap Momen Terjebak 2 Jam di Ruang Ganti
1 jam yang lalu
Air Mata 2016, Sejarah...
Air Mata 2016, Sejarah 2026: Saat Dunia Tak Berhenti Bicarakan Messi
3 jam yang lalu
Portugal vs Uzbekistan:...
Portugal vs Uzbekistan: Saatnya Ronaldo Menjawab Keraguan
4 jam yang lalu
Messi, Mbappe, Haaland...
Messi, Mbappe, Haaland Gacor: Ronaldo Masih Layak Disebut Kandidat Peraih Sepatu Emas?
5 jam yang lalu
Sepak Pojok Jadi Mimpi...
Sepak Pojok Jadi Mimpi Buruk! Aljazair Comeback Dramatis, Yordania Tersingkir
7 jam yang lalu
Infografis
10 Wonderkid Calon Bintang...
10 Wonderkid Calon Bintang di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved