Hancurkan Ambisi Liverpool, Ini Kunci Kemenangan Watford
Senin, 02 Maret 2020 - 11:45 WIB
Hancurkan Ambisi Liverpool, Ini Kunci Kemenangan Watford
A
A
A
WATFORD - Ambisi Liverpool mempertahankan rekor tak terkalahkan di Liga Primer sepanjang musim ini gagal terwujud. Kesempurnaan The Reds ternoda seusai dipermalukan Watford FC 3-0 di Vicarage Road, Minggu (1/3). Tiga gol tuan rumah masing-masing disumbangkan Ismaila Sarr pada menit ke-54 dan 60 serta Troy Deeney (72). Kemenangan ini membuat The Hornets menjadi tim pertama yang mengalahkan Liverpool di Liga Primer sejak Manchester City, Januari 2019.
Hasil tersebut juga merupakan kemenangan terbesar tim di zona degradasi melawan tim pemuncak klasemen sementara Liga Primer sejak Leicester mengalahkan Manchester United (MU) 3-0 pada 23 November 1985. Seperti diketahui, saat ini Watford berada di peringkat ke-17 klasemen sementara (27 poin).
Semua tak lepas dari kejelian pelatih Nigel Pearson dalam menerapkan strategi dan tentu saja keberuntungan. Sekarang dia menjadi pelatih ketiga setelah Carlo Ancelotti saat menukangi Napoli dan pelatih Atletico Madrid Diego Simeone yang mampu menundukkan Liverpool pada musim ini.
Kunci kemenangan Watford ala Pearson sejatinya tidak jauh berbeda dengan Atletico, tetapi dengan versi yang lebih berani. Pola 6-3-1 membuat pertahanan mereka begitu solid. Duet bek Christian Kabasele dan Craig Cathcart menjadi dinding tebal yang melindungi penjaga gawang Ben Foster.
Kabasele berhasil membuat 13 clearance, sementara Cathcart peringkat kedua dengan 10 clearence. Akibatnya, sepanjang pertandingan, Liverpool hanya mampu melakukan satu shoot on target. Tim tamu bahkan kesulitan menemukan celah ataupun menggiring bola ke wilayah pertahanan Watford.
Pearson memuji respons positif pasukannya yang berhasil meraih kemenangan pertamanya dalam tujuh pertandingan terakhir di semua kompetisi. Dia menyebut kunci kemenangan timnya atas The Reds. “Saya pikir kami pantas menang. Kami mengancam dengan bola, bertahan dengan disiplin, energi dan komitmen,” ungkap Pearson dilansir BBC.
Di sisi lain, kebanggaan Watford terasa getir bagi Liverpool. Itu adalah kekalahan pertama The Reds dalam 28 pertandingan Liga Primer musim ini. Mereka urung memecahkan rekor meraih 19 kemenangan beruntun atau terpanjang dalam sejarah Liga Primer. “Liverpool adalah tim yang luar biasa, kami memperbaiki kinerja kami semaksimal mungkin,” kata Pearson.
Kini ambisi menyamai dan melampaui catatan invincible Arsenal yang tidak terkalahkan dalam 49 pertandingan (2004) sirna. Liverpool terhenti di angka 44 pertandingan tak terkalahkan. Virgil van Dijk dkk juga gagal mencetak gol dalam pertandingan Liga Primer untuk pertama kalinya sejak Maret 2019 (0-0 vs Everton), mengakhiri rangkaian mencetak gol dalam 36 pertandingan Liga Primer berturut-turut.
Penyakit The Reds yang gagal melakukan shoot on target kontra Atletico Madrid di leg pertama 16 besar Liga Champions, Rabu (19/2), seakan terulang. Melawan Watford yang juga pada pertandingan tandang, Liverpool hanya berhasil melakukan satu kali shoot on target. Lini pertahanan turut disorot lantaran telah kebobolan enam gol dalam tiga pertandingan terakhir di semua kompetisi.
Buruknya performa Liverpool diakui pelatih Juergen Klopp. Dia mengatakan Watford melakukan persis seperti apa yang ingin mereka lakukan, sedangkan timnya justru tak berdaya. “Begitulah cara sepak bola bekerja. Kami harus menerimanya, itu tidak mudah, tetapi itu adalah bukti bahwa kami tidak bermain bagus. Jika menang tentu baik, namun jika kalah, cobalah untuk melakukannya dengan cara yang benar dan berlaku seperti pria,” kata Klopp.
Kendati demikian, Liverpool masih bisa tenang lantaran kokoh di puncak klasemen sementara Liga Primer dengan 79 poin. The Reds unggul 22 poin dari Manchester City (Man City) yang berada di posisi kedua. Karena melakoni final Piala Liga melawan Aston Villa, tadi malam, The Citizens baru bertanding kembali di Liga Primer melawan MU, Minggu (8/3).
Karenanya, meski kecewa Van Dijk meminta rekan-rekannya tidak larut dalam kekecewaan. Bek asal Belanda tersebut menegaskan sejak awal Liverpool tidak peduli dengan rekor dan optimistis kembali ke jalur kemenangan saat menjamu AFC Bournemouth, Sabtu (7/3). Sebelum itu, Liverpool akan berduel dengan Chelsea di babak kelima Piala FA, Rabu dini hari (4/3).
“Kesalahan sulit diterima dan kami harus melakukan yang lebih baik. Rekor dan pembicaraan rekor adalah media yang membesarkannya. Kami hanya berusaha memenangkan setiap pertandingan. Kami akan fokus pada pertandingan berikutnya melawan Chelsea di Piala FA,” kata Van Dijk. (Alimansyah)
Hasil tersebut juga merupakan kemenangan terbesar tim di zona degradasi melawan tim pemuncak klasemen sementara Liga Primer sejak Leicester mengalahkan Manchester United (MU) 3-0 pada 23 November 1985. Seperti diketahui, saat ini Watford berada di peringkat ke-17 klasemen sementara (27 poin).
Semua tak lepas dari kejelian pelatih Nigel Pearson dalam menerapkan strategi dan tentu saja keberuntungan. Sekarang dia menjadi pelatih ketiga setelah Carlo Ancelotti saat menukangi Napoli dan pelatih Atletico Madrid Diego Simeone yang mampu menundukkan Liverpool pada musim ini.
Kunci kemenangan Watford ala Pearson sejatinya tidak jauh berbeda dengan Atletico, tetapi dengan versi yang lebih berani. Pola 6-3-1 membuat pertahanan mereka begitu solid. Duet bek Christian Kabasele dan Craig Cathcart menjadi dinding tebal yang melindungi penjaga gawang Ben Foster.
Kabasele berhasil membuat 13 clearance, sementara Cathcart peringkat kedua dengan 10 clearence. Akibatnya, sepanjang pertandingan, Liverpool hanya mampu melakukan satu shoot on target. Tim tamu bahkan kesulitan menemukan celah ataupun menggiring bola ke wilayah pertahanan Watford.
Pearson memuji respons positif pasukannya yang berhasil meraih kemenangan pertamanya dalam tujuh pertandingan terakhir di semua kompetisi. Dia menyebut kunci kemenangan timnya atas The Reds. “Saya pikir kami pantas menang. Kami mengancam dengan bola, bertahan dengan disiplin, energi dan komitmen,” ungkap Pearson dilansir BBC.
Di sisi lain, kebanggaan Watford terasa getir bagi Liverpool. Itu adalah kekalahan pertama The Reds dalam 28 pertandingan Liga Primer musim ini. Mereka urung memecahkan rekor meraih 19 kemenangan beruntun atau terpanjang dalam sejarah Liga Primer. “Liverpool adalah tim yang luar biasa, kami memperbaiki kinerja kami semaksimal mungkin,” kata Pearson.
Kini ambisi menyamai dan melampaui catatan invincible Arsenal yang tidak terkalahkan dalam 49 pertandingan (2004) sirna. Liverpool terhenti di angka 44 pertandingan tak terkalahkan. Virgil van Dijk dkk juga gagal mencetak gol dalam pertandingan Liga Primer untuk pertama kalinya sejak Maret 2019 (0-0 vs Everton), mengakhiri rangkaian mencetak gol dalam 36 pertandingan Liga Primer berturut-turut.
Penyakit The Reds yang gagal melakukan shoot on target kontra Atletico Madrid di leg pertama 16 besar Liga Champions, Rabu (19/2), seakan terulang. Melawan Watford yang juga pada pertandingan tandang, Liverpool hanya berhasil melakukan satu kali shoot on target. Lini pertahanan turut disorot lantaran telah kebobolan enam gol dalam tiga pertandingan terakhir di semua kompetisi.
Buruknya performa Liverpool diakui pelatih Juergen Klopp. Dia mengatakan Watford melakukan persis seperti apa yang ingin mereka lakukan, sedangkan timnya justru tak berdaya. “Begitulah cara sepak bola bekerja. Kami harus menerimanya, itu tidak mudah, tetapi itu adalah bukti bahwa kami tidak bermain bagus. Jika menang tentu baik, namun jika kalah, cobalah untuk melakukannya dengan cara yang benar dan berlaku seperti pria,” kata Klopp.
Kendati demikian, Liverpool masih bisa tenang lantaran kokoh di puncak klasemen sementara Liga Primer dengan 79 poin. The Reds unggul 22 poin dari Manchester City (Man City) yang berada di posisi kedua. Karena melakoni final Piala Liga melawan Aston Villa, tadi malam, The Citizens baru bertanding kembali di Liga Primer melawan MU, Minggu (8/3).
Karenanya, meski kecewa Van Dijk meminta rekan-rekannya tidak larut dalam kekecewaan. Bek asal Belanda tersebut menegaskan sejak awal Liverpool tidak peduli dengan rekor dan optimistis kembali ke jalur kemenangan saat menjamu AFC Bournemouth, Sabtu (7/3). Sebelum itu, Liverpool akan berduel dengan Chelsea di babak kelima Piala FA, Rabu dini hari (4/3).
“Kesalahan sulit diterima dan kami harus melakukan yang lebih baik. Rekor dan pembicaraan rekor adalah media yang membesarkannya. Kami hanya berusaha memenangkan setiap pertandingan. Kami akan fokus pada pertandingan berikutnya melawan Chelsea di Piala FA,” kata Van Dijk. (Alimansyah)
(ysw)