Keturunan Indonesia persembahkan emas Belanda
Sabtu, 04 Agustus 2012 - 10:53 WIB
Keturunan Indonesia persembahkan emas Belanda
A
A
A
Sindonews.com – Atlet Belanda keturunan Indonesia Ranomi Kromowidjojo, mempersembahkan medali emas cabang renang nomor gaya bebas 100 meter putri di Olimpiade London 2012 ,Kamis (2/8).
Tandatanda Ranomi Kromowidjojo akan meraih medali emas sudah terlihat sejak awal perlombaan.Bintang baru Belanda di Olimpiade London ini maju ke babak final sebagai perenang tercepat di dunia tahun ini dan berhasil menang di London kendati mendapat tekanan keras dari lawanlawannya. Perenang berusia 21 tahun itu membuat catatan pada 50 meter pertama,27,24 detik, sebelum menyentuh tembok kolam membuat rekor Olimpiade 53 detik dan membuahkan medali emas kedua negaranya dalam 12 tahun ini.
Aliaksandra Herasimenia dari Belarus meraih medali perak dengan catatan 53,38 detik dan atlet China Tang Yi berhak atas medali perunggu dengan waktu 53,44.Ranomi,ayahnya berasal dari Suriname dengan buyut berasal dari Indonesia, adalah anggota tim Belanda yang meraih medali emas di nomor gaya bebas 4x100 meter di Beijing.
Ranomi kini masuk daftar panjang perenang bintang Belanda,termasuk Pieter van den Hoogenband dan Inge de Bruijn.De Bruijn adalah perenang putri Belanda yang meraih medali emas di nomor gaya bebas 100 meter Olimpiade di Sydney pada 2000. Sementara itu,bermalam di istana sambil berpesta bir dengan ribuan teman membayangi pikiran Ranomi setelah meraih medali emas di nomor 100 meter gaya bebas putri.
Tim renang Belanda dan pembuat bir ternama dari Negeri Kincir Angin Heineken telah memesan tempat di Alexandra Palace atau dikenal dengan Ally Pallysebagai rumah mereka selama Olimpiade London untuk merayakan kemenangan Ranomi, Sabtu (4/8),sesaat setelah kompetisi itu berakhir.Malam itu tentu akan menjadi malam penuh kemeriahan di London utara. Gadis hitam manis yang dikenal sebagai perenang estafet itu menorehkan namanya sebagai juara individu dengan catatan waktu Olimpiade 53 detik.
Berada di urutan keempat tidak membuat Ranomi ciut nyali untuk menggeser juara dunia Aliaksandra Herasimenia (Belarus) ke urutan kedua dan menempatkan Tang Yi (China) di urutan ketiga. “Mereka yang menonton pertandingan lewat tayangan televisi mungkin lebih gugup daripada saya.
Bagi saya,pertandingan itu luar biasa,tapi bukan penampilan terbaik saya.Catatan waktu itu bukan catatan terbaik saya sepanjang musim ini.Saya tidak terlalu puas dengan pencapaian waktu saya.Artinya,medali emas tetaplah medali emas.Saya senang bisa meraihnya dan menjadi juara Olimpiade,” kata gadis kelahiran Groningen,20 Agustus 1990,itu,dilansir Reuters.
Tandatanda Ranomi Kromowidjojo akan meraih medali emas sudah terlihat sejak awal perlombaan.Bintang baru Belanda di Olimpiade London ini maju ke babak final sebagai perenang tercepat di dunia tahun ini dan berhasil menang di London kendati mendapat tekanan keras dari lawanlawannya. Perenang berusia 21 tahun itu membuat catatan pada 50 meter pertama,27,24 detik, sebelum menyentuh tembok kolam membuat rekor Olimpiade 53 detik dan membuahkan medali emas kedua negaranya dalam 12 tahun ini.
Aliaksandra Herasimenia dari Belarus meraih medali perak dengan catatan 53,38 detik dan atlet China Tang Yi berhak atas medali perunggu dengan waktu 53,44.Ranomi,ayahnya berasal dari Suriname dengan buyut berasal dari Indonesia, adalah anggota tim Belanda yang meraih medali emas di nomor gaya bebas 4x100 meter di Beijing.
Ranomi kini masuk daftar panjang perenang bintang Belanda,termasuk Pieter van den Hoogenband dan Inge de Bruijn.De Bruijn adalah perenang putri Belanda yang meraih medali emas di nomor gaya bebas 100 meter Olimpiade di Sydney pada 2000. Sementara itu,bermalam di istana sambil berpesta bir dengan ribuan teman membayangi pikiran Ranomi setelah meraih medali emas di nomor 100 meter gaya bebas putri.
Tim renang Belanda dan pembuat bir ternama dari Negeri Kincir Angin Heineken telah memesan tempat di Alexandra Palace atau dikenal dengan Ally Pallysebagai rumah mereka selama Olimpiade London untuk merayakan kemenangan Ranomi, Sabtu (4/8),sesaat setelah kompetisi itu berakhir.Malam itu tentu akan menjadi malam penuh kemeriahan di London utara. Gadis hitam manis yang dikenal sebagai perenang estafet itu menorehkan namanya sebagai juara individu dengan catatan waktu Olimpiade 53 detik.
Berada di urutan keempat tidak membuat Ranomi ciut nyali untuk menggeser juara dunia Aliaksandra Herasimenia (Belarus) ke urutan kedua dan menempatkan Tang Yi (China) di urutan ketiga. “Mereka yang menonton pertandingan lewat tayangan televisi mungkin lebih gugup daripada saya.
Bagi saya,pertandingan itu luar biasa,tapi bukan penampilan terbaik saya.Catatan waktu itu bukan catatan terbaik saya sepanjang musim ini.Saya tidak terlalu puas dengan pencapaian waktu saya.Artinya,medali emas tetaplah medali emas.Saya senang bisa meraihnya dan menjadi juara Olimpiade,” kata gadis kelahiran Groningen,20 Agustus 1990,itu,dilansir Reuters.
(wbs)