Kontrak tak jelas, Tibo batal merumput di Thailand
Minggu, 05 Agustus 2012 - 08:49 WIB
Kontrak tak jelas, Tibo batal merumput di Thailand
A
A
A
Sindonews.com - Bintang timnas Garuda Titus ’Tibo’ Bonai yang rencananya akan bermain di klub asal Thailand yaitu BEC Tero Sasana tampaknya harus pupus. Masalah international transfer certificate (ITC) dan juga cacatnya kontrak yang disepakati sang pemain menjadi beberapa faktor kemungkinan itu akan terjadi.
Kabar itu jelas mengejutkan karena rencana kepindahan Tibo ke salah satu klub papan atas Thailand itu sempat memberikan pengaruh positif bagi persepakbolaan Indonesia. Minat klub-klub luar kepada pemain Indonesia menunjukkan sepakbola Indonesia begitu diperhatikan perkembangannya. Akan tetapi, hal itu harus ditunda terkait adanya kasus yang dialami bomber berusia 23 tahun tersebut.
Perjanjian Tibo dengan BEC Tero dikabarkan miliki banyak kejanggalan. Kabar yang berkembang, Tibo memakai nama Persebaya Surabaya bukan mantan klubnya, Persipura Jayapura. Kemungkinan itu terjadi karena ingin surat izin perpindahan bisa keluar.
“Bisa dibilang batal. Untuk apa pemain bintang timnas Indonesia yang jadi aset bangsa ini hanya keliatan keren main di luar negeri. Padahal, haknya diinjak-injak. Nanti,kami akan tunjuk agen FIFA yang resmi untuk membawa Tibo ke tempat layak. Kalau perlu di Eropa,” ungkap Direktur Status dan Transfer PSSI Marco Paulo, saat dihubungi wartawan, kemarin.
Dengan adanya masalah-masalah di atas, PSSI akhirnya mengambil alih semua urusan Tibo terkait masalah transfernya tersebut. Dengan artian, saat ini, Tibo belum bisa merumput dan merasakan atmosfer sepak bola Negeri Gajah Putih tersebut.
“Saat ini,saya diberikan mandat dan amanat dari PSSI untuk menyelesaikan masalah ini. Karena sebelumnya kontrak antara Tibo dan BEC Tero dirasa sembunyi-sembunyi, bahkan dari segi legalitas kontrak itu sendiri,” papar Marco.
“Ada indikasi pelanggaran regulasi baik sepak bola dan hukum umum. Pelanggaran yang paling parah adalah pelanggaran terhadap hak pemain dan klub, dalam hal ini Tibo dan Persipura. Karena itu, federasi menginstruksikan untuk melindungi hak-hak pemain Indonesia (Tibo) dan paling utama adalah klub-klub Indonesia (Persipura),” ujarnya.
Langkah yang diambil PSSI bisa dibilang tepat jika memang kesepakatan Tibo dan BEC Tero malah akan merugikan sang pemain sendiri. Selama proses penyelesaian sedang berlangsung, Tibo hanya difokuskan untuk bersama timnas Indonesia. Setelah itu, kemungkinan dia akan kembali ke Papua.
“Setelah kami melihat dan mempelajari kontraknya seperti kontrak abal-abal, maka kami berinisiatif membatalkan proses transfernya. Saya sangat yakin akan menjerumuskan Tibo jika proses itu terus berjalan. Malahan akan mempertaruhkan masa depannya bila Tibo jadi pindah ke BEC Tero dengan kontrak seperti itu,” tandas Marco.
Kabar itu jelas mengejutkan karena rencana kepindahan Tibo ke salah satu klub papan atas Thailand itu sempat memberikan pengaruh positif bagi persepakbolaan Indonesia. Minat klub-klub luar kepada pemain Indonesia menunjukkan sepakbola Indonesia begitu diperhatikan perkembangannya. Akan tetapi, hal itu harus ditunda terkait adanya kasus yang dialami bomber berusia 23 tahun tersebut.
Perjanjian Tibo dengan BEC Tero dikabarkan miliki banyak kejanggalan. Kabar yang berkembang, Tibo memakai nama Persebaya Surabaya bukan mantan klubnya, Persipura Jayapura. Kemungkinan itu terjadi karena ingin surat izin perpindahan bisa keluar.
“Bisa dibilang batal. Untuk apa pemain bintang timnas Indonesia yang jadi aset bangsa ini hanya keliatan keren main di luar negeri. Padahal, haknya diinjak-injak. Nanti,kami akan tunjuk agen FIFA yang resmi untuk membawa Tibo ke tempat layak. Kalau perlu di Eropa,” ungkap Direktur Status dan Transfer PSSI Marco Paulo, saat dihubungi wartawan, kemarin.
Dengan adanya masalah-masalah di atas, PSSI akhirnya mengambil alih semua urusan Tibo terkait masalah transfernya tersebut. Dengan artian, saat ini, Tibo belum bisa merumput dan merasakan atmosfer sepak bola Negeri Gajah Putih tersebut.
“Saat ini,saya diberikan mandat dan amanat dari PSSI untuk menyelesaikan masalah ini. Karena sebelumnya kontrak antara Tibo dan BEC Tero dirasa sembunyi-sembunyi, bahkan dari segi legalitas kontrak itu sendiri,” papar Marco.
“Ada indikasi pelanggaran regulasi baik sepak bola dan hukum umum. Pelanggaran yang paling parah adalah pelanggaran terhadap hak pemain dan klub, dalam hal ini Tibo dan Persipura. Karena itu, federasi menginstruksikan untuk melindungi hak-hak pemain Indonesia (Tibo) dan paling utama adalah klub-klub Indonesia (Persipura),” ujarnya.
Langkah yang diambil PSSI bisa dibilang tepat jika memang kesepakatan Tibo dan BEC Tero malah akan merugikan sang pemain sendiri. Selama proses penyelesaian sedang berlangsung, Tibo hanya difokuskan untuk bersama timnas Indonesia. Setelah itu, kemungkinan dia akan kembali ke Papua.
“Setelah kami melihat dan mempelajari kontraknya seperti kontrak abal-abal, maka kami berinisiatif membatalkan proses transfernya. Saya sangat yakin akan menjerumuskan Tibo jika proses itu terus berjalan. Malahan akan mempertaruhkan masa depannya bila Tibo jadi pindah ke BEC Tero dengan kontrak seperti itu,” tandas Marco.
(akr)