Ujian sebenarnya pelatih baru timnas negara Eropa
Rabu, 05 September 2012 - 10:33 WIB
Ujian sebenarnya pelatih baru timnas negara Eropa
A
A
A
Sindonews.com - Pelaih baru tim nasional negara Eropa tampaknya akan memperoleh ujian sebenarnya dengan sudah dimulainya kualifikasi Piala Dunia 2014. Apabila beberapa pelatih anyar tersebut kurang memberikan kesan yang baik pada debut mereka maka ini adalah ajang mereka untuk membuktikan diri.
Salah satu sosok yang coba memperbaiki peruntungan adalah Pelatih Belanda Louis van Gaal. Menggantikan Bert van Marwijk, dia gagal mengangkat De Oranje, julukan Belanda pada duel persahabatan melawan negara tetangga Belgia, bulan lalu. Belanda takluk 2-4 pada pertandingan tersebut.
Van Gaal boleh menuding kebugaran sebagai alasan kekalahan. Digelar di awal kompetisi 2012/2013, mayoritas pemain masih membawa lemak sehabis berlibur musim panas. Banyak di antara mereka yang belum fit. Namun, faktor tersebut tetap dipertimbangkan mantan arsitek Bayern Muenchen itu. Karena itu dia tidak memanggil kuartet Nigel de Jong, Rafael van der Vaart, Gregory van der Wiel dan Ibrahim Afellay.
Van Gaal sejenak mengabaikan mereka mengingat keempatnya jarang diturunkan klub masing-masing akibat proses transfer yang dijalani. “Meski begitu, pintu tetap saya buka bagi mereka. Keempatnya pemain berkualitas dan berpengalaman,” kata Van Gaal, dilansir Eurosport.
Van Gaal memang tidak boleh main-main. Laga melawan rival terbesar di Grup D, Turki,sudah menunggu di Amsterdam Arena, Jumat 7 September 2012 mendatang.Disusul kemudian laga menantang versus tuan rumah Hungaria, empat hari berselang. Belanda wajib memenangkan dua partai nanti demi mempermulus jalan menuju Brasil.
Dia tentu enggan pengalaman pahit satu dekade silam terulang. Pada periode pertamanya sebagai bonds coach De Oranje,Van Gaal gagal membawa tim lolos ke Piala Dunia 2002. Penyebabnya adalah ketidakmampuan meraih poin sempurna di dua duel awal. Ruud van Nistelrooy dkk ditahan Republik Irlandia (2-2) dan dibekuk Portugal (0-2) dalam persaingan Grup B. Belanda akhirnya mesti merelakan tiket otomatis dan jatah play-off kepada dua pesaing mereka tersebut.
“Saya cukup lama menunggu kesempatan membayar utang. Saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Target saya adalah masuk semifinal Piala Dunia 2014. Itu tugas berat, tapi tidak mustahil,” tandasVan Gaal.
Selain Van Gaal, Didier Deschamps juga bertekad memulihkan reputasi Prancis pada penyisihan Piala Dunia. Performa Les Bleus, julukan Prancis, selepas kesuksesan ganda menjuarai Piala Dunia 1998-Piala Eropa 2000 memang menunjukkan penurunan. Terlepas usaha terakhir Zinedine Zidane pada Piala Dunia 2006, kokok Prancis tidak terdengar lagi suaranya.
Deschamps merupakan usaha teranyar Prancis mengatasi keadaan ini. Mengambil tongkat estafet dari Laurent Blanc, peliknya masalah yang dihadapi Deschamps terlihat ketika Prancis hanya bermain 0-0 melawan Ukraina, Agustus lalu. Hasil itu merupakan penurunan mengingat Prancis sebelumnya dapat mengecundangi lawan sama dengan skor 2-0 di Piala Eropa 2012.
“Prancis butuh regenerasi dan disiplin jika mau memperbaiki diri. Saya merasa cuma hal itu yang kurang. Urusan teknik tidak ada masalah. Kami punya banyak pemain berkualitas,” tutur Deschamps.
Salah satu sosok yang coba memperbaiki peruntungan adalah Pelatih Belanda Louis van Gaal. Menggantikan Bert van Marwijk, dia gagal mengangkat De Oranje, julukan Belanda pada duel persahabatan melawan negara tetangga Belgia, bulan lalu. Belanda takluk 2-4 pada pertandingan tersebut.
Van Gaal boleh menuding kebugaran sebagai alasan kekalahan. Digelar di awal kompetisi 2012/2013, mayoritas pemain masih membawa lemak sehabis berlibur musim panas. Banyak di antara mereka yang belum fit. Namun, faktor tersebut tetap dipertimbangkan mantan arsitek Bayern Muenchen itu. Karena itu dia tidak memanggil kuartet Nigel de Jong, Rafael van der Vaart, Gregory van der Wiel dan Ibrahim Afellay.
Van Gaal sejenak mengabaikan mereka mengingat keempatnya jarang diturunkan klub masing-masing akibat proses transfer yang dijalani. “Meski begitu, pintu tetap saya buka bagi mereka. Keempatnya pemain berkualitas dan berpengalaman,” kata Van Gaal, dilansir Eurosport.
Van Gaal memang tidak boleh main-main. Laga melawan rival terbesar di Grup D, Turki,sudah menunggu di Amsterdam Arena, Jumat 7 September 2012 mendatang.Disusul kemudian laga menantang versus tuan rumah Hungaria, empat hari berselang. Belanda wajib memenangkan dua partai nanti demi mempermulus jalan menuju Brasil.
Dia tentu enggan pengalaman pahit satu dekade silam terulang. Pada periode pertamanya sebagai bonds coach De Oranje,Van Gaal gagal membawa tim lolos ke Piala Dunia 2002. Penyebabnya adalah ketidakmampuan meraih poin sempurna di dua duel awal. Ruud van Nistelrooy dkk ditahan Republik Irlandia (2-2) dan dibekuk Portugal (0-2) dalam persaingan Grup B. Belanda akhirnya mesti merelakan tiket otomatis dan jatah play-off kepada dua pesaing mereka tersebut.
“Saya cukup lama menunggu kesempatan membayar utang. Saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Target saya adalah masuk semifinal Piala Dunia 2014. Itu tugas berat, tapi tidak mustahil,” tandasVan Gaal.
Selain Van Gaal, Didier Deschamps juga bertekad memulihkan reputasi Prancis pada penyisihan Piala Dunia. Performa Les Bleus, julukan Prancis, selepas kesuksesan ganda menjuarai Piala Dunia 1998-Piala Eropa 2000 memang menunjukkan penurunan. Terlepas usaha terakhir Zinedine Zidane pada Piala Dunia 2006, kokok Prancis tidak terdengar lagi suaranya.
Deschamps merupakan usaha teranyar Prancis mengatasi keadaan ini. Mengambil tongkat estafet dari Laurent Blanc, peliknya masalah yang dihadapi Deschamps terlihat ketika Prancis hanya bermain 0-0 melawan Ukraina, Agustus lalu. Hasil itu merupakan penurunan mengingat Prancis sebelumnya dapat mengecundangi lawan sama dengan skor 2-0 di Piala Eropa 2012.
“Prancis butuh regenerasi dan disiplin jika mau memperbaiki diri. Saya merasa cuma hal itu yang kurang. Urusan teknik tidak ada masalah. Kami punya banyak pemain berkualitas,” tutur Deschamps.
(akr)