KONI minta Jabar belajar dari kekurangan Riau
Kamis, 20 September 2012 - 21:22 WIB
KONI minta Jabar belajar dari kekurangan Riau
A
A
A
Sindonews.com - Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII/2012 berakhir. Selain menahbiskan DKI Jakarta sebagai juara umum, para petinggi negeri ini menginginkan kekurangan di Riau tak terulang saat PON kembali digelar di Jawa Barat (Jabar) pada 2016.
Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Tono Suratman menyatakan, segala kesalahan dan kekurangan yang terjadi di PON Riau, seperti minimnya fasilitas serta beberapa sistem yang tidak berjalan tak perlu dibesar-besarkan.
''Walaupun ada beberapa masalah, semoga ini bisa diselesaikan dengan kepala dingin. Yang jelas, atas nama KONI, saya berterima kasih untuk setiap lapisan masyarakat yang telah mendukung suksesnya PON kali ini,” ujar Tono.
''Evaluasi untuk ke depan agar Jawa Barat bisa mencontoh hal-hal baik dan memperbaiki kekurangan yang semestinya tidak terjadi saat mereka menjadi tuan rumah nanti. Dari PON ini, kita harapkan atlet-atlet muda dapat dijaring dan kita matangkan kualitasnya," sambungnya.
Mantan atlet anggar dan menembak ini menegaskan bahwa pembinaan atlet merupakan program utama yang harus segara dicanangkan dan dilaksanakan. Mantan Pangdam VI Mulawarman era 2008 hingga 2010 ini juga menerangkan, KONI akan mempertimbangkan untuk memberikan kesempatan bagi daerah lain menjadi tuan rumah penyelenggaraan PON setelah Jabar. Bahkan, usulan tuan rumah bersama untuk PON, seperti perhelatan Piala Dunia maupun Piala Eropa akan dipertimbangkan secara seksama.
"Usulan ini sangat representatif. Mudah-mudahan ini bisa direalisasikan," ungkap Tono. "Daerah-daerah lain itu punya semangat yang patut didukung untuk jadi tuan rumah. Mereka mungkin tidak berhasrat menjadi juara umum. Sebab, mereka sadar dengan potensi dan kapasitas. Mereka cuma ingin menunjukkan solidaritas, kebersamaan, juga menyemarakkan pesta olahraga persaudaraan ini,” papar Tono di tengah hiruk-pikuk kemeriahan pesta Kalimantan Timur setelah mencatat sejarah untuk medali emas sepak bola pertama kalinya sejak 1948.
Sementara itu, Ketua Umum KONI DKI Winny Erwindia menyatakan, program pembinaan adalah faktor yang paling penting untuk dikemukakan. Menurut mantan Direktur Utama Bank DKI ini, segala kritik dan kekurangan PON Riau harus dijadikan pemacu semangat di PON berikutnya. ''Yang terpenting adalah bagaimana program pembinaan atlet,” tandasnya.
''Program pembinaan ini-kan tergantung pengurusnya. Keberhasilan DKI menjadi juara umum bukan jalan yang mudah. Kita saja menganggarkan dana APBD sebesar 80 persen untuk program pembinaan atlet. Apa gunanya juara di sini jika setelah itu bakat-bakat ini tidak dibangun dan diasah menjadi lebih baik lagi,” lanjut Winny.
Program pembinaan ini pun ditegaskan pula Ketua Umum Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (PB Perbasi) Anggito Abimanyu. Potensi dan bakat muda atlet PON kali ini akan dijaring dan dibina. Bahkan, Anggito telah menyiapkan program pelatihan nasional (pelatnas) jelang pesta olahraga Asia Tenggara SEA Games 2013 di Myanmar.
''Bagi yang berpotensi, mereka akan diikutkan pelatnas. PON bukan akhir dari prestasi. Kami menyiapkan dua opsi, mengirim tim basket utama yang sudah terbentuk atau membentuk yang baru. Tapi saya condong membentuk tim muda untuk dipersiapkan menjadi tim baru agar target utama pada 2015 dapat tercapai,” terang Anggito.
Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Tono Suratman menyatakan, segala kesalahan dan kekurangan yang terjadi di PON Riau, seperti minimnya fasilitas serta beberapa sistem yang tidak berjalan tak perlu dibesar-besarkan.
''Walaupun ada beberapa masalah, semoga ini bisa diselesaikan dengan kepala dingin. Yang jelas, atas nama KONI, saya berterima kasih untuk setiap lapisan masyarakat yang telah mendukung suksesnya PON kali ini,” ujar Tono.
''Evaluasi untuk ke depan agar Jawa Barat bisa mencontoh hal-hal baik dan memperbaiki kekurangan yang semestinya tidak terjadi saat mereka menjadi tuan rumah nanti. Dari PON ini, kita harapkan atlet-atlet muda dapat dijaring dan kita matangkan kualitasnya," sambungnya.
Mantan atlet anggar dan menembak ini menegaskan bahwa pembinaan atlet merupakan program utama yang harus segara dicanangkan dan dilaksanakan. Mantan Pangdam VI Mulawarman era 2008 hingga 2010 ini juga menerangkan, KONI akan mempertimbangkan untuk memberikan kesempatan bagi daerah lain menjadi tuan rumah penyelenggaraan PON setelah Jabar. Bahkan, usulan tuan rumah bersama untuk PON, seperti perhelatan Piala Dunia maupun Piala Eropa akan dipertimbangkan secara seksama.
"Usulan ini sangat representatif. Mudah-mudahan ini bisa direalisasikan," ungkap Tono. "Daerah-daerah lain itu punya semangat yang patut didukung untuk jadi tuan rumah. Mereka mungkin tidak berhasrat menjadi juara umum. Sebab, mereka sadar dengan potensi dan kapasitas. Mereka cuma ingin menunjukkan solidaritas, kebersamaan, juga menyemarakkan pesta olahraga persaudaraan ini,” papar Tono di tengah hiruk-pikuk kemeriahan pesta Kalimantan Timur setelah mencatat sejarah untuk medali emas sepak bola pertama kalinya sejak 1948.
Sementara itu, Ketua Umum KONI DKI Winny Erwindia menyatakan, program pembinaan adalah faktor yang paling penting untuk dikemukakan. Menurut mantan Direktur Utama Bank DKI ini, segala kritik dan kekurangan PON Riau harus dijadikan pemacu semangat di PON berikutnya. ''Yang terpenting adalah bagaimana program pembinaan atlet,” tandasnya.
''Program pembinaan ini-kan tergantung pengurusnya. Keberhasilan DKI menjadi juara umum bukan jalan yang mudah. Kita saja menganggarkan dana APBD sebesar 80 persen untuk program pembinaan atlet. Apa gunanya juara di sini jika setelah itu bakat-bakat ini tidak dibangun dan diasah menjadi lebih baik lagi,” lanjut Winny.
Program pembinaan ini pun ditegaskan pula Ketua Umum Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (PB Perbasi) Anggito Abimanyu. Potensi dan bakat muda atlet PON kali ini akan dijaring dan dibina. Bahkan, Anggito telah menyiapkan program pelatihan nasional (pelatnas) jelang pesta olahraga Asia Tenggara SEA Games 2013 di Myanmar.
''Bagi yang berpotensi, mereka akan diikutkan pelatnas. PON bukan akhir dari prestasi. Kami menyiapkan dua opsi, mengirim tim basket utama yang sudah terbentuk atau membentuk yang baru. Tapi saya condong membentuk tim muda untuk dipersiapkan menjadi tim baru agar target utama pada 2015 dapat tercapai,” terang Anggito.
(aww)