Mandiri tak segampang teori

Sabtu, 06 Oktober 2012 - 01:25 WIB
Mandiri tak segampang...
Mandiri tak segampang teori
A A A
Sindonews.com —Semusim sudah klub-klub profesional tidak lagi mengandalkan pendanaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Seperti perkiraan sebelumnya, klub-klub yang dulunya ditanggung pemerintah daerah setempat mengalami kesulitan finansial hebat.

Pengelolaan yang lebih independen tanpa campur tangan pemerintah, belum menemukan solusi terbaik untuk sekadar mencukupi kebutuhan. Di Jawa Timur, semua klub yang dulunya mengasup dana APBD mengalami kesulitan membayar operasional klub maupun gaji pemain.

Klub-klub besar saat ini harus mati-matian mempertahankan eksistensi adalah Persela Lamongan, Persema Malang, Persibo Bojonegoro, Deltras Sidoarjo, hingga Persik Kediri yang bertanding di Divisi Utama. Persema, Persibo dan Persik yang sahamnya diambilalih Konsorsium PT Mitra Bola Indonesia masih tetap merana.

Deltras yang semula sudah seret pendanaan dari pemerintah Sidoarjo, harus rela terperosok ke Divisi Utama musim depan. Begitu pula dengan Persik Kediri yang sudah terjebak di Divisi Utama tanpa mampu promosi karena tidak ada dana mencukupi untuk modal kompetisi.

Persema, Persibo, serta Persela Lamongan, juga tidak kalah pailit dan kesulitan membayar gaji pemain beberapa bulan musim lalu. Menjadi tim mandiri dengan mengandalkan pemasukan tikat (receipt gate) serta sponsor terbukti bukan teori yang mudah dijalani.

Manajemen Persela mengakui musim pertama tanpa APBD sangat sulit. “Musim kemarin luar biasa berat setelah tidak ada dana dari APBD. Tidak pernah Persela mengalami kesulitan seperti ini. Dana dari sponsor dan pemasukan tiket tidak bisa menutup kebutuhan selama semusim,” ucap Yuhronur Efendi, Asisten Manajer Persela.

Yuhronur yang bermusim-musim bercokol di manajemen Persela, mengakui defisit anggaran lumrah dalam menjalankan klub sepakbola. Namun defisit hingga kesulitan membayar gaji pemain baru dirasakan musim 2011-2012. Belum tuntas memikirkan tunggakan musim lalu, Laskar Joko Tingkir sudah harus sibuk mencari sponsor musim depan.

Sebelum APBD terlarang untuk klub profesional, Persela menerima sekitar Rp12-15 miliar setiap musimnya. Ditambah pemasukan tiket dan sponsor, jumlah itu sudah memadai untuk semusim kompetisi. Musim lalu, Persela hanya bermodal dana kurang dari Rp5 miliar hasil kerjasama sponsorship dengan PT Minarak Lapindo.

Dari situ terlihat jelas penurunan finansial yang signifikan sebelum dan sesudah suplai APBD dihentikan. “Ini ujian yang berat bagi klub yang dulunya mengandalkan APBD seperti Persela. Jangankan mendapat profit, untuk menutup kebutuhan juga sangat sulit. Saya berharap ini hanya untuk musim-musim pertama saja dan ada perbaikan di musim berikutnya. Anggap saja latihan,” kata Yuhronur.

Persema Malang juga harus mengakhiri masa-masa gemerlap bersama Pemkot Malang. Kala masih dikelola Pemkot Malang, paling tidak Persema mendapatkan guyuran dana Rp17 miliar per musim. Setelah Pemkot Malang menyerahkan saham sekaligus pengelolaan klub ke konsorsium, Persema miskin mendadak. Laskar Ken Arok hanya menerima uang recehan dari konsorsium.

Konsorsium tidak lancar dalam mentransfer dana ke klub, sehingga gaji pemain dan operasional tim sempat tidak terbayar. Kondisi yang sama dialami Persibo Bojonegoro, Persik Kediri, serta semua klub-klub yang berafiliasi ke PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS).

“Kondisinya memang tak bisa disamakan. Kalau disuruh memilih, jelas kami masih ingin ada dana dari pemerintah daerah (APBD). Namun kan situasi sekarang berubah, karena klub profesional diharuskan bisa menghidupi dirinya sendiri. Saya akui kondisi ini memang sangat sulit,” ungkap Asmuri, Manajer Persema Malang.

Mencari dana sendiri dengan menarik sponsor, sekali lagi bukan proyek sederhana. Lihat saja Persik Kediri yang menderita komplikasi. Sudah tidak mendapat APBD, klub berjuluk Macan Putih juga tak menarik bagi sponsor. PT Gudang Garam yang dulu mendukung penuh Persik, sekarang telah mengalihkan pandangan. Seakan jatuh tertimpa tangga, minat Persikmania ke stadion juga jauh berkurang
(wbs)
Berita Terkait
Drama Liga 2! Persibo...
Drama Liga 2! Persibo Bojonegoro Tolak Bertanding, Deltras FC Tembus 8 Besar
Presiden Persibo Bojonegoro...
Presiden Persibo Bojonegoro Keberatan atas Keputusan LIB soal Laga Kontra Deltras Sidoarjo
Hubungan Memanas, Wabup...
Hubungan Memanas, Wabup Bojonegoro Laporkan Bupati ke Polisi Gegara Harga Diri Disinggung di Grup WA
Puncak Pemilihan Kange...
Puncak Pemilihan Kange Yune Bojonegoro 2023 Digelar Esok Hari dengan Sederet Acara Meriah
Terbukti, Bojonegoro...
Terbukti, Bojonegoro Kalahkan Kabupaten Sekitar Bidang Infrastruktur dan Penurunan Kemiskinan
Diguncang Gempa saat...
Diguncang Gempa saat Sedang Bahas Raperda, DPRD dan Bupati Bojonegoro Sempat Panik
Berita Terkini
ASEAN Hyundai Cup 2026...
ASEAN Hyundai Cup 2026 Tayang di VISION+: Simak Jadwal Pertandingan Minggu Ini!
1 jam yang lalu
Piala Dunia 2026 Sukses...
Piala Dunia 2026 Sukses Digelar, Presiden FIFA Gianni Infantino Dapat Tawaran Jabatan dari Trump
1 jam yang lalu
John Herdman Pede Timnas...
John Herdman Pede Timnas Indonesia Mampu Bersaing Juarai AFF 2026
1 jam yang lalu
Profil Pau Cubarsi,...
Profil Pau Cubarsi, Pemain Muda Terbaik Piala Dunia 2026 yang Pernah Main di Solo
3 jam yang lalu
FIFA Bikin Kejutan!...
FIFA Bikin Kejutan! Leandro Paredes Tak Jadi Dikartu Merah di Final Piala Dunia 2026
6 jam yang lalu
H-3 Piala AFF 2026,...
H-3 Piala AFF 2026, Kapan Daftar Pemain Timnas Indonesia Diumumkan?
6 jam yang lalu
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved