Program doping terorganisir dalam sejarah olahraga
Rabu, 17 Oktober 2012 - 13:55 WIB
Program doping terorganisir dalam sejarah olahraga
A
A
A
Sindonews.com - Mantan rekan setim Lance Armstrong, Paul Willerton memimpin sekelompok penggemar sepeda untuk melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor pusat Nike di Beaverton, Oregon. Dalam aksinya tersebut mereka meminta sponsor utama juara tujuh kali Tour de France itu untuk menghentikan melakukan pembelaan terhadap Armstrong mengenai penggunaan doping.
Willerton mengatakan ia mendapat dorongan untuk melakukan aksi ini setelah Nike mengumumkan bahwa mereka akan selalu siap berdiri disamping Armstrong, meskipun skandal mengenai penggunaan obat terlarang (doping) sudah terkuak ketika Badan Anti Doping Amerika Serikat (USADA) merilis laporan tersebut.
Dalam laporan yang berisi 1000 halaman tersebut, pembalap sepeda berusia 41 tahun ini tidak hanya menggunakan doping untuk meningkatkan kinerjanya. Tetapi, dia juga memaksa rekan setimnya menggunakan barang haram itu. Jika ada yang menolak tawarannya maka mereka siap keluar dari tim.
"Nike harus mengakui keterlibatannya selama hampir sepuluh tahun," kata Willerton seperti dilansir DailyNews, Rabu (16/10/2012).
"Armstrong tidak hanya menggunakan obat untuk mendapatkan hasil yang Nike inginkan dalam dunia olahraga. Tapi, mereka juga memaksa pembalap sepeda lainnya yang berada di tim untuk mengkonsumsi barang haram itu jika mereka ingin tetap berada di dalam tim. Mereka telah mengatur program doping yang paling terorganisir yang pernah ditemukan dalam sejarah olahraga," sambung Willerton, yang pernah bersama Armstrong dalam suatu kejuaraan pada 1992.
Sementara itu, Komite Olimpiade Internasional (IOC) mengatakan, akan menunggu sikap International Cycling Union (UCI) untuk menanggapi laporan USADA sebelum mempertimbangkan badan anti doping itu merampas medali perunggu Armstrong Olimpiade 2000 di Sydney.
Setelah rilis laporan USADA, UCI diberikan kesempatan selama 21 hari untuk memutuskan apakah akan secara resmi melucuti gelar Armstrong atau malah mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrasi Olahraga. Wakil Presiden IOC, Thomas Bach meminta Armstrong untuk berterus terang mengenai penggunaan doping tersebut.
"Dengan adanya kejadian ini maka akan membantu membersihkan doping dari dunia olahraga," pungkas Bach.
Sebelumnya sponsor utama tim Armstrong membantah tuduhan yang mengatakan bahwa perusahaan itu telah mendapatkan dana segar sebesar USD500 ribu dari mantan Presiden International Cycling Union (UCI), Hein Verbruggen untuk menutupi hasil tes doping yang terjadi beberapa tahun lalu.
Willerton mengatakan ia mendapat dorongan untuk melakukan aksi ini setelah Nike mengumumkan bahwa mereka akan selalu siap berdiri disamping Armstrong, meskipun skandal mengenai penggunaan obat terlarang (doping) sudah terkuak ketika Badan Anti Doping Amerika Serikat (USADA) merilis laporan tersebut.
Dalam laporan yang berisi 1000 halaman tersebut, pembalap sepeda berusia 41 tahun ini tidak hanya menggunakan doping untuk meningkatkan kinerjanya. Tetapi, dia juga memaksa rekan setimnya menggunakan barang haram itu. Jika ada yang menolak tawarannya maka mereka siap keluar dari tim.
"Nike harus mengakui keterlibatannya selama hampir sepuluh tahun," kata Willerton seperti dilansir DailyNews, Rabu (16/10/2012).
"Armstrong tidak hanya menggunakan obat untuk mendapatkan hasil yang Nike inginkan dalam dunia olahraga. Tapi, mereka juga memaksa pembalap sepeda lainnya yang berada di tim untuk mengkonsumsi barang haram itu jika mereka ingin tetap berada di dalam tim. Mereka telah mengatur program doping yang paling terorganisir yang pernah ditemukan dalam sejarah olahraga," sambung Willerton, yang pernah bersama Armstrong dalam suatu kejuaraan pada 1992.
Sementara itu, Komite Olimpiade Internasional (IOC) mengatakan, akan menunggu sikap International Cycling Union (UCI) untuk menanggapi laporan USADA sebelum mempertimbangkan badan anti doping itu merampas medali perunggu Armstrong Olimpiade 2000 di Sydney.
Setelah rilis laporan USADA, UCI diberikan kesempatan selama 21 hari untuk memutuskan apakah akan secara resmi melucuti gelar Armstrong atau malah mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrasi Olahraga. Wakil Presiden IOC, Thomas Bach meminta Armstrong untuk berterus terang mengenai penggunaan doping tersebut.
"Dengan adanya kejadian ini maka akan membantu membersihkan doping dari dunia olahraga," pungkas Bach.
Sebelumnya sponsor utama tim Armstrong membantah tuduhan yang mengatakan bahwa perusahaan itu telah mendapatkan dana segar sebesar USD500 ribu dari mantan Presiden International Cycling Union (UCI), Hein Verbruggen untuk menutupi hasil tes doping yang terjadi beberapa tahun lalu.
(akr)