Menanti sepak terjang Firman Utina
Rabu, 31 Oktober 2012 - 10:51 WIB
Menanti sepak terjang Firman Utina
A
A
A
Sindonews.com – Tanpa seorang penyeimbang, akibat hengkangnya Eka Ramdani ke Persisam Samarinda, musim lalu lini tengah Persib Bandung sedikit pincang. Musim ini, kehadiran Firman Utina diharapkan jadi jendral lapangan tengah sekaligus pusat permainan Maung Bandung.
Sebagai contoh bisa dilihat dari fakta yang menunjukkan jika musim lalu, koleksi 11 gol yang diciptakan top skor tim, Miljan Radovic mayoritas dihasilkan bukan dari kreasi serangan yang tertata rapi. Sebab delapan gol diantaranya dihasilkan melalui eksekusi penalti.
Fakta lain yang menunjukan jika Persib memang membutuhkan tenaga seorang pemain pekerja keras dengan visi bermain yang tajam seperti Firman, dapat dilihat dari distribusi gol Persib. Dari total 49 gol memasukan sekitar 60 persen diantaranya diciptakan di babak kedua.
Sosok Firman memang menjadi harapan baru bagi Maung Bandung pascakepergian Eka. Mantan gelandag Persita Tangerang, Arema Indonesia dan Sriwijaya FC itu bisa menjadi otak permainan Persib musim depan. Kolaborasi Firman dengan dua rekannya sejak membela Pelita Jaya empat musim lalu, Supardi Natsir dan M. Ridwan diharapkan bisa meningkatkan kualitas permainan Persib.
Firman mengaku sulit menolak tawaran dari Persib. Karir sepak bolanya yang sudah cukup panjang baginya akan kian lengkap jika membela klub sebesar Persib. Apalagi jika dirinya bisa membawa Persib berprestasi seperti ketika masih berkostum Arema Indonesia lewat dua gelar juara Piala Indonesia dan Sriwijaya FC yang sukses meraih gelar ISL musim lalu.
“Saya juga sebenarnya bingung ketika pertama kali mendapatkan tawaran dari Persib,” ucap Firman sambil terkekeh.
“Dasar saya masuk ke Persib karena Persib tim besar. Siapa sih yang tidak bercita-cita ingin bermain di tim besar, buat saya Persib adalah tim besar. Mumpung tim ini masih membutuhkan saya, ini jadi kesempatan saya untuk berprestasi bersama tim besar,” imbuhnya.
Firman sendiri mengungkapkan ia tak mau seluruh harapan tertumpu pada dirinya. Baginya kesuksesan sebuah tim tidak ditentukan oleh satu orang individu pemain saja. “Sepak bola tetap permainan tim, satu individu pemain membutuhkan kerjasaman dengan individu lainnya di lapangan,” tegas Firman.
“Jadi kalau saya dibebani dan diharapkan jadi tulang punggung utama tim, jangan juga lah. Lebih enak jika sebuah tim bisa bermain kolektivitas. Kalau kita bisa kerja sama, lalu harmonisasi di lapangan baik. Saya yakin tim ini bakal menjadi tim yang bagus dan kuat,” ungkapnya.
Dalam sejarahnya Persib dikenal sebagai sebuah tim yang kerap menghasilkan dan memiliki gelandang dengan kualitas individual cukup baik. Di era perserikatan 1980-an, Maung Bandung sempat memiliki sosok Encas Tonif yang dikenal sebagai sosok petarung. Lalu Bambang Sukowiyono yang memiliki kecepatan dalam menyisir setiap sudut daerah pertahan lawan.
Di era 1990-an, lini tengah Persib cukup kokoh dengan makin matangnya Yusuf Bachtiar dengan kemampuan keep ball cukup baik. Lalu ada juga nama Adjat Sudrajat. Awal 2000-an, muncul nama Yaris Riyadi yang cukup diidolakan Bobotoh.
Setelah Yaris mulai meredup, Persib berhasil mengorbitkan Eka Ramdani yang sempat berlabuh di Persijatim Solo FC dan dalam satu dekade terakhir, barisan playmaker asing cukup mendominasi di skuad Persib. Mulai dari Alejandro Tobar, Lorenzo Cabanas, Suchao Nutnum hingga Miljan Radovic
Sebagai contoh bisa dilihat dari fakta yang menunjukkan jika musim lalu, koleksi 11 gol yang diciptakan top skor tim, Miljan Radovic mayoritas dihasilkan bukan dari kreasi serangan yang tertata rapi. Sebab delapan gol diantaranya dihasilkan melalui eksekusi penalti.
Fakta lain yang menunjukan jika Persib memang membutuhkan tenaga seorang pemain pekerja keras dengan visi bermain yang tajam seperti Firman, dapat dilihat dari distribusi gol Persib. Dari total 49 gol memasukan sekitar 60 persen diantaranya diciptakan di babak kedua.
Sosok Firman memang menjadi harapan baru bagi Maung Bandung pascakepergian Eka. Mantan gelandag Persita Tangerang, Arema Indonesia dan Sriwijaya FC itu bisa menjadi otak permainan Persib musim depan. Kolaborasi Firman dengan dua rekannya sejak membela Pelita Jaya empat musim lalu, Supardi Natsir dan M. Ridwan diharapkan bisa meningkatkan kualitas permainan Persib.
Firman mengaku sulit menolak tawaran dari Persib. Karir sepak bolanya yang sudah cukup panjang baginya akan kian lengkap jika membela klub sebesar Persib. Apalagi jika dirinya bisa membawa Persib berprestasi seperti ketika masih berkostum Arema Indonesia lewat dua gelar juara Piala Indonesia dan Sriwijaya FC yang sukses meraih gelar ISL musim lalu.
“Saya juga sebenarnya bingung ketika pertama kali mendapatkan tawaran dari Persib,” ucap Firman sambil terkekeh.
“Dasar saya masuk ke Persib karena Persib tim besar. Siapa sih yang tidak bercita-cita ingin bermain di tim besar, buat saya Persib adalah tim besar. Mumpung tim ini masih membutuhkan saya, ini jadi kesempatan saya untuk berprestasi bersama tim besar,” imbuhnya.
Firman sendiri mengungkapkan ia tak mau seluruh harapan tertumpu pada dirinya. Baginya kesuksesan sebuah tim tidak ditentukan oleh satu orang individu pemain saja. “Sepak bola tetap permainan tim, satu individu pemain membutuhkan kerjasaman dengan individu lainnya di lapangan,” tegas Firman.
“Jadi kalau saya dibebani dan diharapkan jadi tulang punggung utama tim, jangan juga lah. Lebih enak jika sebuah tim bisa bermain kolektivitas. Kalau kita bisa kerja sama, lalu harmonisasi di lapangan baik. Saya yakin tim ini bakal menjadi tim yang bagus dan kuat,” ungkapnya.
Dalam sejarahnya Persib dikenal sebagai sebuah tim yang kerap menghasilkan dan memiliki gelandang dengan kualitas individual cukup baik. Di era perserikatan 1980-an, Maung Bandung sempat memiliki sosok Encas Tonif yang dikenal sebagai sosok petarung. Lalu Bambang Sukowiyono yang memiliki kecepatan dalam menyisir setiap sudut daerah pertahan lawan.
Di era 1990-an, lini tengah Persib cukup kokoh dengan makin matangnya Yusuf Bachtiar dengan kemampuan keep ball cukup baik. Lalu ada juga nama Adjat Sudrajat. Awal 2000-an, muncul nama Yaris Riyadi yang cukup diidolakan Bobotoh.
Setelah Yaris mulai meredup, Persib berhasil mengorbitkan Eka Ramdani yang sempat berlabuh di Persijatim Solo FC dan dalam satu dekade terakhir, barisan playmaker asing cukup mendominasi di skuad Persib. Mulai dari Alejandro Tobar, Lorenzo Cabanas, Suchao Nutnum hingga Miljan Radovic
(wbs)