Bikin Persib Kuat, Djadjang minta waktu
Jum'at, 09 November 2012 - 13:35 WIB
Bikin Persib Kuat, Djadjang minta waktu
A
A
A
Sindonews.com – Pelatih Persib Bandung, Djadjang Nurdjaman menyatakan minimal butuh dua musim bagi dirinya untuk membentuk kekuatan Persib agar menjadi sebuah tim mapan.
Meski memiliki materi pemain kelas satu, Djadjang menyadari tidak mudah membentuk dan menyatukan mereka menjadi sebuah kekuatan kolektif yang bisa cukup diandalkan. “Untuk membentuk dan memiliki tim yang tangguh dalam satu musim sebenarnya kurang ideal. Minimal dua musim baru bisa mapan,” cetus Djadjang.
Dengan kata lain, di atas kertas Djadang menganggap Persib baru bisa benar-benar cukup pantas untuk bersaing di jalur juara setelah meletakan fondasi yang kuat musim ini, sebelum menyempurnakannya musim depan dengan melakukan sejumlah perubahan.
Namun, dengan memiliki pemain sekelas Firman Utina yang memiliki visi bermain cukup baik. Ditambah kemampuan bertahan dan menyerang yang baik dalam diri Supardi serta akurasi umpan dan ketajaman seorang M. Ridwan. Djadjang boleh berharap Persib minimal bisa memperbaiki peringkat musim lalu.
“Pasti target itu selalu bicara yang terbaik buat klub, jadi mau tidak mau beban target ini harus kita upayakan sebaik mungkin untuk diwujudkan. Bukannya saya ‘takut’ dengan beban target yang diberikan, tapi Insya Allah saya ingin berusaha sebaik mungkin untuk tim,” tegas Djadjang.
Kendati menyatakan butuh waktu, Djadjang mau tidak mau harus berusaha untuk memenuhi target membawa Persib juara pada musim pertamanya sebagai pelatih kepala. Seperti halnya beberapa pelatih yang pernah menangani Maung Bandung, Djadjang dihadapkan pada tekanan karena tingginya harapan baik dari pengurus maupun Bobotoh untuk melihat Persib kembali juara.
Faktor lainnya yang menurut Djadjang perlu diperhatikan adalah kebijakan program yang bersifat jangka panjang. Bukan hanya terkait materi pemain, sebab menurutnya dengan tidak banyak melakukan perubahan komposisi staf teknis.
“Sistem kepelatihan yang bersifat berkelanjutan juga bisa cukup mendukung proses terbentuknya sebuah tim secara mapan dan itu menjadi salah satu faktor pendukung. Tapi soal ini kan tetap jadi keputusan dari manajemen,” ujarnya.
Djadjang sendiri resmi ditunjuk sebagai pelatih Persib, pertengahan Agustus lalu. Dengan latar belakang sebagai pemain Persib dan beberapaa kali menjabat sebagai asisten pelatih di Persib. Serta pengalamannya yang cukup lama berkecimpung di level tim junior seperti saat dirinya menangani Persib U-23 dan Pelita Jaya U-21, Djadjang diyakini jadi pelatih salah satu lokal terbaik yang saat ini dimiliki Bandung.
Dengan catatan perjalannya selama ini sebagai pelatih, penantian Persib diharapkan berakhir di tangan Djadjang, satu dari dua orang sosok yang pernah merasakan juara bersama Persib sebagai pemain dan staf pelatih.
Meski memiliki materi pemain kelas satu, Djadjang menyadari tidak mudah membentuk dan menyatukan mereka menjadi sebuah kekuatan kolektif yang bisa cukup diandalkan. “Untuk membentuk dan memiliki tim yang tangguh dalam satu musim sebenarnya kurang ideal. Minimal dua musim baru bisa mapan,” cetus Djadjang.
Dengan kata lain, di atas kertas Djadang menganggap Persib baru bisa benar-benar cukup pantas untuk bersaing di jalur juara setelah meletakan fondasi yang kuat musim ini, sebelum menyempurnakannya musim depan dengan melakukan sejumlah perubahan.
Namun, dengan memiliki pemain sekelas Firman Utina yang memiliki visi bermain cukup baik. Ditambah kemampuan bertahan dan menyerang yang baik dalam diri Supardi serta akurasi umpan dan ketajaman seorang M. Ridwan. Djadjang boleh berharap Persib minimal bisa memperbaiki peringkat musim lalu.
“Pasti target itu selalu bicara yang terbaik buat klub, jadi mau tidak mau beban target ini harus kita upayakan sebaik mungkin untuk diwujudkan. Bukannya saya ‘takut’ dengan beban target yang diberikan, tapi Insya Allah saya ingin berusaha sebaik mungkin untuk tim,” tegas Djadjang.
Kendati menyatakan butuh waktu, Djadjang mau tidak mau harus berusaha untuk memenuhi target membawa Persib juara pada musim pertamanya sebagai pelatih kepala. Seperti halnya beberapa pelatih yang pernah menangani Maung Bandung, Djadjang dihadapkan pada tekanan karena tingginya harapan baik dari pengurus maupun Bobotoh untuk melihat Persib kembali juara.
Faktor lainnya yang menurut Djadjang perlu diperhatikan adalah kebijakan program yang bersifat jangka panjang. Bukan hanya terkait materi pemain, sebab menurutnya dengan tidak banyak melakukan perubahan komposisi staf teknis.
“Sistem kepelatihan yang bersifat berkelanjutan juga bisa cukup mendukung proses terbentuknya sebuah tim secara mapan dan itu menjadi salah satu faktor pendukung. Tapi soal ini kan tetap jadi keputusan dari manajemen,” ujarnya.
Djadjang sendiri resmi ditunjuk sebagai pelatih Persib, pertengahan Agustus lalu. Dengan latar belakang sebagai pemain Persib dan beberapaa kali menjabat sebagai asisten pelatih di Persib. Serta pengalamannya yang cukup lama berkecimpung di level tim junior seperti saat dirinya menangani Persib U-23 dan Pelita Jaya U-21, Djadjang diyakini jadi pelatih salah satu lokal terbaik yang saat ini dimiliki Bandung.
Dengan catatan perjalannya selama ini sebagai pelatih, penantian Persib diharapkan berakhir di tangan Djadjang, satu dari dua orang sosok yang pernah merasakan juara bersama Persib sebagai pemain dan staf pelatih.
(wbs)