Tidak sembarang mahasiswa bisa ikuti ajang Lima
Jum'at, 09 November 2012 - 18:24 WIB
Tidak sembarang mahasiswa bisa ikuti ajang Lima
A
A
A
Sindonews.com – Liga Mahasiswa (Lima) 2012 merupakan ajang unjuk kebolehan kalangan Perguruan Tinggi. Namun, ternyata tidak semua mahasiswa dapat mengikuti kejuaraan olahraga bergengsi tingkat nasional ini.
Selain berupaya ikut meningkatkan prestasi olahraga Indonesia, Lima memberi perhatian lebih pada prestasi akademik para atlet yang berpartisipasi. Hal itu terlihat pada syarat administrasi yang menerapkan angka minimal nilai akademis para mahasiswa. “Kami tidak hanya memperhatikan prestasi olahraga para mahasiswa, karena Lima ini bukan sekedar kejuaraan olah raga. Ada misi lain yang dibawa disini, seperti turut meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Karena itu, para mahasiswa yang ikut kejuaraan ini harus memiliki IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) minimal 2,0. Sehingga tidak sembarang mahasiswa bisa ikut ajang ini,” kata Dwui Eriano, Operations Panitia Pelaksana Lima 2012.
Penerapan aturan tersebut, bertujuan untuk mengembangkan prestasi olahraga Indonesia bukan hanya dari sisi internal. Para mahasiswa yang kini bertanding, ujar Dwui, mungkin saja menjadi tokoh atau pejabat publik di masa yang akan datang. Sehingga diharapkan, kebijakan yang mereka ambil bisa mendukung peningkatan prestasi olahraga, baik daerah maupun nasional.
“Mahasiswa itu kan tergolong kaum intelek yang tentunya banyak harapan tertumpu di pundak mereka. Meskipun di masa mendatang mereka tidak berkecimpung di bidang olahraga, diharapkan para mahasiswa ini memiliki kepedulian lebih terhadap dunia olahraga di Indonesia. Tidak masalah apa pun bentuk kepedulian tersebut, yang penting berpartisipasi,” tuturnya.
Karena itu, kata Dwui, gelaran Lima memiliki prospek jauh ke depan. Tidak hanya pembinaan atlet yang diadakan sekejap saja, melainkan harus memiliki visi dan misi hingga beberapa tahun mendatang. Selain kompetisi bola basket yang kini sudah dimulai, Lima juga tengah menyiapkan sejumlah cabang olahraga lainnya untuk dipertandingkan. Beberapa cabang yang mendekati realisasi adalah bulutangkis, golf, dan renang.
Ajang tahunan antarkampus ini pun siap mengembangkan diri pada penyelenggaraan tahun-tahun mendatang. Diantaranya dengan peningkatan kualitas pada sistem kompetisi, venue, dan peserta kejuaraan. Dwui mengatakan, di awal perencanaan Lima bola basket, sempat tercetus sistem home-away. Namun urung dilakukan karena keterbatasan sarana olahraga bola basket. “Untuk cabang bola basket, pernah ada usulan bahwa Lima ini menggunakan sistem kandang dan tandang. Tapi panitia mempertimbangkan ketersediaan lapangan. Menginat tidak semua perguruan tinggi yang mengikuti Lima Bola Basket ini memiliki fasilitas yang memadai. Sehingga jadinya ya dipusatkan di satu tempat dengan sistem wilayah. Tapi tidak menutup kemungkinan di Lima tahun-tahun mendatang sistem tersebut bisa tercapai,” terangnya.
Lima Bola Basket sendiri sudah digelar sejak Oktober lalu. Sedangkan untuk cabang bulutangkis, masih dalam proses persiapan untuk memulai kompetisi pada Maret 2013. Selain itu, kampus-kampus di Indonesia juga siap dimanjakan dengan kejuaraan golf dan renang. Kedua cabang olahraga itu rencananya memulai kejuaraan pada Juni 2013.
Sejumlah peserta Lima mengatakan, kompetisi seperti ini harus diperbanyak untuk meningkatkan kualitas generasi muda Indonesia. Terlebih saat ini banyak fenomena negatif yang diidentikkan dengan pelajar dan mahasiswa. Kompetisi antarkampus juga dianggap dapat memperbaiki kualitas olahraga di tataran internal perguruan tinggi. Minat untuk masuk ke dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) olahraga pun diharapkan dapat meningkat.
“Penyediaan kompetisi yang dikelola secara profesional tentu sangat dibutuhkan dalam dunia olah raga, termasuk bagi kalangan mahasiswa. Ajang-ajang seperti ini juga dapat menarik minat para mahasiswa baru untuk bergabung di tim basket kampusnya masing-masing, karena sangat manusiawi jika seorang anak muda ingin unjuk kemampuan, selama itu positif,” ujar Muhammad Akbar, pemain senior tim bola basket putera Universitas Padjadjaran.
Selain berupaya ikut meningkatkan prestasi olahraga Indonesia, Lima memberi perhatian lebih pada prestasi akademik para atlet yang berpartisipasi. Hal itu terlihat pada syarat administrasi yang menerapkan angka minimal nilai akademis para mahasiswa. “Kami tidak hanya memperhatikan prestasi olahraga para mahasiswa, karena Lima ini bukan sekedar kejuaraan olah raga. Ada misi lain yang dibawa disini, seperti turut meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Karena itu, para mahasiswa yang ikut kejuaraan ini harus memiliki IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) minimal 2,0. Sehingga tidak sembarang mahasiswa bisa ikut ajang ini,” kata Dwui Eriano, Operations Panitia Pelaksana Lima 2012.
Penerapan aturan tersebut, bertujuan untuk mengembangkan prestasi olahraga Indonesia bukan hanya dari sisi internal. Para mahasiswa yang kini bertanding, ujar Dwui, mungkin saja menjadi tokoh atau pejabat publik di masa yang akan datang. Sehingga diharapkan, kebijakan yang mereka ambil bisa mendukung peningkatan prestasi olahraga, baik daerah maupun nasional.
“Mahasiswa itu kan tergolong kaum intelek yang tentunya banyak harapan tertumpu di pundak mereka. Meskipun di masa mendatang mereka tidak berkecimpung di bidang olahraga, diharapkan para mahasiswa ini memiliki kepedulian lebih terhadap dunia olahraga di Indonesia. Tidak masalah apa pun bentuk kepedulian tersebut, yang penting berpartisipasi,” tuturnya.
Karena itu, kata Dwui, gelaran Lima memiliki prospek jauh ke depan. Tidak hanya pembinaan atlet yang diadakan sekejap saja, melainkan harus memiliki visi dan misi hingga beberapa tahun mendatang. Selain kompetisi bola basket yang kini sudah dimulai, Lima juga tengah menyiapkan sejumlah cabang olahraga lainnya untuk dipertandingkan. Beberapa cabang yang mendekati realisasi adalah bulutangkis, golf, dan renang.
Ajang tahunan antarkampus ini pun siap mengembangkan diri pada penyelenggaraan tahun-tahun mendatang. Diantaranya dengan peningkatan kualitas pada sistem kompetisi, venue, dan peserta kejuaraan. Dwui mengatakan, di awal perencanaan Lima bola basket, sempat tercetus sistem home-away. Namun urung dilakukan karena keterbatasan sarana olahraga bola basket. “Untuk cabang bola basket, pernah ada usulan bahwa Lima ini menggunakan sistem kandang dan tandang. Tapi panitia mempertimbangkan ketersediaan lapangan. Menginat tidak semua perguruan tinggi yang mengikuti Lima Bola Basket ini memiliki fasilitas yang memadai. Sehingga jadinya ya dipusatkan di satu tempat dengan sistem wilayah. Tapi tidak menutup kemungkinan di Lima tahun-tahun mendatang sistem tersebut bisa tercapai,” terangnya.
Lima Bola Basket sendiri sudah digelar sejak Oktober lalu. Sedangkan untuk cabang bulutangkis, masih dalam proses persiapan untuk memulai kompetisi pada Maret 2013. Selain itu, kampus-kampus di Indonesia juga siap dimanjakan dengan kejuaraan golf dan renang. Kedua cabang olahraga itu rencananya memulai kejuaraan pada Juni 2013.
Sejumlah peserta Lima mengatakan, kompetisi seperti ini harus diperbanyak untuk meningkatkan kualitas generasi muda Indonesia. Terlebih saat ini banyak fenomena negatif yang diidentikkan dengan pelajar dan mahasiswa. Kompetisi antarkampus juga dianggap dapat memperbaiki kualitas olahraga di tataran internal perguruan tinggi. Minat untuk masuk ke dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) olahraga pun diharapkan dapat meningkat.
“Penyediaan kompetisi yang dikelola secara profesional tentu sangat dibutuhkan dalam dunia olah raga, termasuk bagi kalangan mahasiswa. Ajang-ajang seperti ini juga dapat menarik minat para mahasiswa baru untuk bergabung di tim basket kampusnya masing-masing, karena sangat manusiawi jika seorang anak muda ingin unjuk kemampuan, selama itu positif,” ujar Muhammad Akbar, pemain senior tim bola basket putera Universitas Padjadjaran.
(nug)