Ironi pelatih yang terinvasi di negeri sendiri
Kamis, 15 November 2012 - 09:07 WIB
Ironi pelatih yang terinvasi di negeri sendiri
A
A
A
Sindonews.com - Sudah bukan rahasia jika Inggris kekurangan pelatih berkualitas. Karena itu, pelatih impor didatangkan agar pelatih lokal dapat menyerap ilmunya. Namun, invasi berlebihan dapat menghambat perkembangan pelatih pribumi.
Inggris merasakan efek buruk globalisasi ini. Tercatat hanya ada empat nakhoda asli yang dipercaya manajemen klub Liga Primer untuk bekerja di kasta tertinggi sistem kompetisi sepak bola setempat. Mereka adalah Sam Allardyce (West Ham United), Alan Pardew (Newcastle United), Nigel Adkins (Southampton), dan Brian McDermott (Reading).
Memang ada sembilan pelatih lain yang berbasis di Kepulauan Inggris.Artinya, sebenarnya cuma ada tujuh arsitek “impor” yang tampil di Liga Primer.Tetap saja kehadiran mereka tidak menutupi fakta bahwa Inggris kekurangan pelatih berbakat. Keadaan inilah yang membuat Football Association (FA) mendobrak sejarah ketika merekrut nakhoda asing untuk pertama kali tahun 2001.
Mereka memercayakan nasib tim nasional kepada pelatih asal Swedia Sven- Goran Eriksson. Setelah itu, FA menunjuk arsitek berkebangsaan Italia Fabio Capello. Waktu menunjukkan keberadaan pelatih impor belum tentu berbuah manis. Eriksson dan Capello gagal mengakhiri puasa gelar Inggris yang berlangsung sejak 1966. FA pun berpaling ke filosofi awal,yakni kembali ke pelatih pribumi.
Namun, keterbatasan sumber daya membuat opsi FA begitu terbatas.Alasan inilah yang membuat banyak yang heran mengapa mereka merangkul Roy Hodgson sepeninggal Capello. Kenyataannya,jumlah pelatih berkualitas Inggris sangat minim. Ketika itu cuma ada Harry Redknapp yang bersaing memperebutkan jabatan.Redknapp akhirnya tersisih akibat kasus hukum yang menjeratnya.
“Apa yang akan terjadi ketika Hodgson pensiun? Tidak banyak pilihan.Kebanyakan calon-calon pelatih muda kini berprofesi sebagai komentator.FA mesti segera mencari sistem pembinaan ideal agar saat posisi pelatih timnas lowong, tidak hanya ada dua calon yang tersedia (Hodgson dan Redknapp),” tulis mantan bek Inggris Martin Keown pada kolomnya di Daily Mail.
Sedikitnya pelatih Inggris terasa jika dibandingkan dengan empat liga domestik terbaik Eropa lainnya. Prancis mendominasi Ligue 1 lewat kehadiran 19 nama.Satu-satunya nakhoda impor di sana, yakni Carlo Ancelotti (Italia) yang memimpin Paris St Germain. Sebanyak 15 dari 18 jabatan yang tersedia di Bundesliga dikuasai arsitek pribumi. Huub Stevens (Belanda), Sami Hyypia (Finlandia), dan Lucien Favre (Swiss) merupakan pelatih asing yang hadir di sana.
Sementara pelatih yang bekerja di Seri A hanya Vladimir Petkovic (Bosnia) dan Zdenek Zeman (Republik Ceko). Bisa dikatakan cuma Primera Liga yang menandingi keberagaman Liga Primer. Sebanyak delapan nama di sana bukan pelatih asli Spanyol.
Setengah di antaranya memegang paspor Argentina (Diego Simeone,Marcelo Bielsa,Mauricio Pochettino,Mauricio Pellegrino),sisanya Portugal (Jose Mourinho), Cile (Manuel Pellegrini),Prancis (Philippe Montanier),dan Serbia (Miroslav Dukic).
Inggris merasakan efek buruk globalisasi ini. Tercatat hanya ada empat nakhoda asli yang dipercaya manajemen klub Liga Primer untuk bekerja di kasta tertinggi sistem kompetisi sepak bola setempat. Mereka adalah Sam Allardyce (West Ham United), Alan Pardew (Newcastle United), Nigel Adkins (Southampton), dan Brian McDermott (Reading).
Memang ada sembilan pelatih lain yang berbasis di Kepulauan Inggris.Artinya, sebenarnya cuma ada tujuh arsitek “impor” yang tampil di Liga Primer.Tetap saja kehadiran mereka tidak menutupi fakta bahwa Inggris kekurangan pelatih berbakat. Keadaan inilah yang membuat Football Association (FA) mendobrak sejarah ketika merekrut nakhoda asing untuk pertama kali tahun 2001.
Mereka memercayakan nasib tim nasional kepada pelatih asal Swedia Sven- Goran Eriksson. Setelah itu, FA menunjuk arsitek berkebangsaan Italia Fabio Capello. Waktu menunjukkan keberadaan pelatih impor belum tentu berbuah manis. Eriksson dan Capello gagal mengakhiri puasa gelar Inggris yang berlangsung sejak 1966. FA pun berpaling ke filosofi awal,yakni kembali ke pelatih pribumi.
Namun, keterbatasan sumber daya membuat opsi FA begitu terbatas.Alasan inilah yang membuat banyak yang heran mengapa mereka merangkul Roy Hodgson sepeninggal Capello. Kenyataannya,jumlah pelatih berkualitas Inggris sangat minim. Ketika itu cuma ada Harry Redknapp yang bersaing memperebutkan jabatan.Redknapp akhirnya tersisih akibat kasus hukum yang menjeratnya.
“Apa yang akan terjadi ketika Hodgson pensiun? Tidak banyak pilihan.Kebanyakan calon-calon pelatih muda kini berprofesi sebagai komentator.FA mesti segera mencari sistem pembinaan ideal agar saat posisi pelatih timnas lowong, tidak hanya ada dua calon yang tersedia (Hodgson dan Redknapp),” tulis mantan bek Inggris Martin Keown pada kolomnya di Daily Mail.
Sedikitnya pelatih Inggris terasa jika dibandingkan dengan empat liga domestik terbaik Eropa lainnya. Prancis mendominasi Ligue 1 lewat kehadiran 19 nama.Satu-satunya nakhoda impor di sana, yakni Carlo Ancelotti (Italia) yang memimpin Paris St Germain. Sebanyak 15 dari 18 jabatan yang tersedia di Bundesliga dikuasai arsitek pribumi. Huub Stevens (Belanda), Sami Hyypia (Finlandia), dan Lucien Favre (Swiss) merupakan pelatih asing yang hadir di sana.
Sementara pelatih yang bekerja di Seri A hanya Vladimir Petkovic (Bosnia) dan Zdenek Zeman (Republik Ceko). Bisa dikatakan cuma Primera Liga yang menandingi keberagaman Liga Primer. Sebanyak delapan nama di sana bukan pelatih asli Spanyol.
Setengah di antaranya memegang paspor Argentina (Diego Simeone,Marcelo Bielsa,Mauricio Pochettino,Mauricio Pellegrino),sisanya Portugal (Jose Mourinho), Cile (Manuel Pellegrini),Prancis (Philippe Montanier),dan Serbia (Miroslav Dukic).
(aww)