Indra ancam tinggalkan Sumsel, ada apa?
Senin, 26 November 2012 - 20:26 WIB
Indra ancam tinggalkan Sumsel, ada apa?
A
A
A
Sindonews.com - Atlet ski air andalan Sumatera Selatan Indra Hardinata mengancam hengkang. Pemicunya, dia merasa kurang mendapat perhatian dari Pemerinta Provinsi Sumsel dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sumsel.
"Jika dibandingkan DKI Jakarta, Sumsel sangat kurang sekali dalam memberikan perhatian. Contohnya saja, bonus medali emas PON sampai sekarang belum diterima, sementara atlet DKI sudah langsung dicairkan setibanya di Jakarta. Padahal ajang paling akbar itu telah lama berlalu," kata Indra, Senin (26/11).
Selain itu, dia juga mempermasalahkan pola pembinaan atlet di Sumsel karena tidak memberikan uang pembinaan secara berkesinambungan. Di mana setelah memperkuat daerah pada PON Riau, September lalu, dirinya tidak kunjung menerima kucuran uang saku bulan seperti sebelumnya.
Karena kondisi tak menentu itu, pasca PON, Indra terpaksa pulang-pergi dari tempat tinggalnya di Teluk Gelam ke Palembang dengan waktu perjalanan sekitar 3 jam untuk berlatih ski air di danau buatan Kompleks Olahraga Jakabaring.
Dia tidak menampik keadaan itu yang memicu keinginan untuk berpindah daerah karena merasa tidak diperhatikan padahal telah memberikan prestasi terbaik di PON lalu.
"Saat menjalani pelatihan menjelang PON memang mendapatkan uang saku Rp3,5 juta perbulan. Lalu tiba-tiba terhenti setelah PON berakhir. Berbeda dengan DKI Jakarta, yang setiap atlet mendapatkan uang pembinaan secara berkesinambungan berkisar Rp5 juta hingga Rp7 juta perbulan," katanya.
Remaja asal Ogan Komering Ilir ini mengungkapkan telah membulatkan tekad untuk berpindah daerah karena memiliki impian menjadi juara dunia. Menurutnya, Provinsi DKI Jakarta akan memberikan dukungan lebih baik dibandingkan daerah yang selama ini dibela karena memiliki fasilitas seperti speedboat keluaran terbaru (otomatis) serta kesempatan berlatih atau bertanding ke luar negeri.
"Tekad sudah bulat, dan tinggal membuat surat pengunduran diri saja untuk segera bergabung bersama teman-teman di Jakarta. Saya sama sekali tidak menyesal karena memiliki tekad tak hanya berhasil di dalam negeri tapi hingga ke luar negeri," katanya.
Sementara, Imam Suaji sebagai pelatih Indra membenarkan jika anak suhnya tersebut kerap mengeluh akan fasilitas latihan yang diterimanya meski Sumsel saat ini memiliki danau buatan yang menjadi arena ski air terbaik di dunia.
"Sebagai pelatih tugas saya hanya memotivasi atlet untuk giat berlatih meski dalam kondisi terbatas. Indra memang sering mengeluh karena tidak bisa latihan seperti teman-temannya sesama atlet nasional karena ada pembatasan bahan bakar minyak dari KONI sebanyak 70 liter perhari, sementara DKI Jakarta alokasinya 250 liter perhari. Saya pun tidak bisa menahan jika akhirnya mau pindah juga," katanya.
Indra Hardinata merupakan putra daerah Sumsel yang mengenal olahraga ski air karena bertempat tinggal di sekitar Danau Teluk Gelam (OKI) saat kelas II SMP.
Terpisah, Pelatih Tim Nasional Indonesia Rusdi Amir tak segan-segan menyebut Indra "bayi ajaib" karena dalam waktu lima tahun telah mampu mengalahkan atlet ski air yang berpengalaman seperti Daud Fath.
Prestasi sebagai juara dunia junior nomor slalom tahun 2012 di Korea, perunggu SEA Games 2011, dan emas PON Riau, menurut dia dapat dijadikan indikator.
Begitu pula, capaian pada Kejuaraan Dunia di Palembang, 23-25 November ini, yang mampu melampaui prediksi dengan menembus tali 14, meski para juara dunia menggapai tali 11,5 meter. Sementara, seniornya Daud Fath hanya tali 16.
"Atlet seperti Indra itu sangat jarang, karena memiliki bakat alam. Namanya pun sudah dikenal dan diperhitungkan di kawasan Asia meski masih muda dan baru kecimpung di ski air. Jika dilatih secara intensif bisa jadi Sumsel melahirkan juara dunia apalagi memiliki danau sendiri yang terbaik di dunia," ujarnya.
"Jika dibandingkan DKI Jakarta, Sumsel sangat kurang sekali dalam memberikan perhatian. Contohnya saja, bonus medali emas PON sampai sekarang belum diterima, sementara atlet DKI sudah langsung dicairkan setibanya di Jakarta. Padahal ajang paling akbar itu telah lama berlalu," kata Indra, Senin (26/11).
Selain itu, dia juga mempermasalahkan pola pembinaan atlet di Sumsel karena tidak memberikan uang pembinaan secara berkesinambungan. Di mana setelah memperkuat daerah pada PON Riau, September lalu, dirinya tidak kunjung menerima kucuran uang saku bulan seperti sebelumnya.
Karena kondisi tak menentu itu, pasca PON, Indra terpaksa pulang-pergi dari tempat tinggalnya di Teluk Gelam ke Palembang dengan waktu perjalanan sekitar 3 jam untuk berlatih ski air di danau buatan Kompleks Olahraga Jakabaring.
Dia tidak menampik keadaan itu yang memicu keinginan untuk berpindah daerah karena merasa tidak diperhatikan padahal telah memberikan prestasi terbaik di PON lalu.
"Saat menjalani pelatihan menjelang PON memang mendapatkan uang saku Rp3,5 juta perbulan. Lalu tiba-tiba terhenti setelah PON berakhir. Berbeda dengan DKI Jakarta, yang setiap atlet mendapatkan uang pembinaan secara berkesinambungan berkisar Rp5 juta hingga Rp7 juta perbulan," katanya.
Remaja asal Ogan Komering Ilir ini mengungkapkan telah membulatkan tekad untuk berpindah daerah karena memiliki impian menjadi juara dunia. Menurutnya, Provinsi DKI Jakarta akan memberikan dukungan lebih baik dibandingkan daerah yang selama ini dibela karena memiliki fasilitas seperti speedboat keluaran terbaru (otomatis) serta kesempatan berlatih atau bertanding ke luar negeri.
"Tekad sudah bulat, dan tinggal membuat surat pengunduran diri saja untuk segera bergabung bersama teman-teman di Jakarta. Saya sama sekali tidak menyesal karena memiliki tekad tak hanya berhasil di dalam negeri tapi hingga ke luar negeri," katanya.
Sementara, Imam Suaji sebagai pelatih Indra membenarkan jika anak suhnya tersebut kerap mengeluh akan fasilitas latihan yang diterimanya meski Sumsel saat ini memiliki danau buatan yang menjadi arena ski air terbaik di dunia.
"Sebagai pelatih tugas saya hanya memotivasi atlet untuk giat berlatih meski dalam kondisi terbatas. Indra memang sering mengeluh karena tidak bisa latihan seperti teman-temannya sesama atlet nasional karena ada pembatasan bahan bakar minyak dari KONI sebanyak 70 liter perhari, sementara DKI Jakarta alokasinya 250 liter perhari. Saya pun tidak bisa menahan jika akhirnya mau pindah juga," katanya.
Indra Hardinata merupakan putra daerah Sumsel yang mengenal olahraga ski air karena bertempat tinggal di sekitar Danau Teluk Gelam (OKI) saat kelas II SMP.
Terpisah, Pelatih Tim Nasional Indonesia Rusdi Amir tak segan-segan menyebut Indra "bayi ajaib" karena dalam waktu lima tahun telah mampu mengalahkan atlet ski air yang berpengalaman seperti Daud Fath.
Prestasi sebagai juara dunia junior nomor slalom tahun 2012 di Korea, perunggu SEA Games 2011, dan emas PON Riau, menurut dia dapat dijadikan indikator.
Begitu pula, capaian pada Kejuaraan Dunia di Palembang, 23-25 November ini, yang mampu melampaui prediksi dengan menembus tali 14, meski para juara dunia menggapai tali 11,5 meter. Sementara, seniornya Daud Fath hanya tali 16.
"Atlet seperti Indra itu sangat jarang, karena memiliki bakat alam. Namanya pun sudah dikenal dan diperhitungkan di kawasan Asia meski masih muda dan baru kecimpung di ski air. Jika dilatih secara intensif bisa jadi Sumsel melahirkan juara dunia apalagi memiliki danau sendiri yang terbaik di dunia," ujarnya.
(aww)