Singkirkan ego bintang, Persib bisa juara
Jum'at, 14 Desember 2012 - 15:53 WIB
Singkirkan ego bintang, Persib bisa juara
A
A
A
Sindonews.com - Pelatih Persib Bandung Djadjang Nurdjaman tergolong sukses menekan ego para pemain bintang. Penyakit psikologis ini diyakini merupakan salah satu problem terbesar Persib dalam beberapa musim terakhir.
Meski memiliki sejumlah pemain bintang, Persib tak pernah kembali mendapatkan tempat terhormat sejak Liga Indonesia 1994/1995. Penyebabnya, sang pelatih kala itu gagal menyatukan seluruh kualitas individual yang dimiliki. Hal itu bercermin pada kasus yang terjadi di beberapa musim.
Karena itu, bagi Djanur –panggilan akrab Djadjang- memiliki sebuah tim yang mampu menunjukkan kolektivitas bermain lebih baik daripada memiliki tim dengan barisan pemain bintang yang sulit disatukan. Hal ini juga yang diharapkan Djanur ditunjukkan Maung Bandung saat menghadapi Persisam Samarinda di semifinal Inter Island Cup (IIC) 2012 di Stadion Manahan, Solo, Minggu (16/12).
''Dengan sistem sekali pertandingan, akan jadi sebuah pertandingan yang menguras konsentrasi. Ini merupakan partai hidup-mati. Kita butuh upaya kolektif dan saya harapkan pemain memahami betul hal itu saat berada di lapangan,” ujar Djanur.
Djanur mengingatkan anak buahnya untuk bermain mengalir dan tidak terbebani oleh tuntutan menang. ''Mereka harus menunjukkan karakter asli dan tidak terbebani oleh tuntutan menang. Mengalir saja dan enjoy dalam bermain, tapi dengan semangat penuh tentunya,” terang Djanur.
Apalagi Djanur menegaskan jika ajang IIC 2012 tak lebih dari sasaran antara menuju kompetisi sebenarnya musim depan. Di mana tantangan yang bakal dihadapi Persib baik di ajang Indonesia Super League (ISL) maupun Piala Indonesia akan jauh lebih berat.
Firman Utina sepaham dengan Djanur soal pentingnya kolektivitas permainan. Menurutnya, para pemain harus melupakan sikap individualis saat berada di lapangan. Karena hal itu juga Persib mampu lolos ke semifinal dengan melewati hadangan tiga tim di fase penyisihan grup.
''Asal semua pemain menjaga kekompakkan, pola permainan biasanya bisa berjalan dengan baik. Intinya kita jangan sampai terpusat pada satu pemain. Di antara pemain juga harus bisa saling mendukung dan memotivasi. Pertandingan melawan Persisam juga jadi kesempatan untuk menumbuhkan mental bertanding tandang,” terang Firman.
Sejauh ini, Firman mengungkapkan cukup senang melihat perkembangan tim yang cukup mengedepankan kebersamaan yang juga bisa ditunjukkan pemain di luar lapangan. Baginya kebersamaan bisa menjadi modal penting bagi sebuah tim.
''Pemain muda juga jangan sampai merasa segan. Mereka butuh komunikasi yang baik dengan para pemain yang sudah lama (senior). ita harus memosisikan diri menjadi rekan yang baik tanpa harus melihat pada status senior atau junior,” ucap Firman.
Meski memiliki sejumlah pemain bintang, Persib tak pernah kembali mendapatkan tempat terhormat sejak Liga Indonesia 1994/1995. Penyebabnya, sang pelatih kala itu gagal menyatukan seluruh kualitas individual yang dimiliki. Hal itu bercermin pada kasus yang terjadi di beberapa musim.
Karena itu, bagi Djanur –panggilan akrab Djadjang- memiliki sebuah tim yang mampu menunjukkan kolektivitas bermain lebih baik daripada memiliki tim dengan barisan pemain bintang yang sulit disatukan. Hal ini juga yang diharapkan Djanur ditunjukkan Maung Bandung saat menghadapi Persisam Samarinda di semifinal Inter Island Cup (IIC) 2012 di Stadion Manahan, Solo, Minggu (16/12).
''Dengan sistem sekali pertandingan, akan jadi sebuah pertandingan yang menguras konsentrasi. Ini merupakan partai hidup-mati. Kita butuh upaya kolektif dan saya harapkan pemain memahami betul hal itu saat berada di lapangan,” ujar Djanur.
Djanur mengingatkan anak buahnya untuk bermain mengalir dan tidak terbebani oleh tuntutan menang. ''Mereka harus menunjukkan karakter asli dan tidak terbebani oleh tuntutan menang. Mengalir saja dan enjoy dalam bermain, tapi dengan semangat penuh tentunya,” terang Djanur.
Apalagi Djanur menegaskan jika ajang IIC 2012 tak lebih dari sasaran antara menuju kompetisi sebenarnya musim depan. Di mana tantangan yang bakal dihadapi Persib baik di ajang Indonesia Super League (ISL) maupun Piala Indonesia akan jauh lebih berat.
Firman Utina sepaham dengan Djanur soal pentingnya kolektivitas permainan. Menurutnya, para pemain harus melupakan sikap individualis saat berada di lapangan. Karena hal itu juga Persib mampu lolos ke semifinal dengan melewati hadangan tiga tim di fase penyisihan grup.
''Asal semua pemain menjaga kekompakkan, pola permainan biasanya bisa berjalan dengan baik. Intinya kita jangan sampai terpusat pada satu pemain. Di antara pemain juga harus bisa saling mendukung dan memotivasi. Pertandingan melawan Persisam juga jadi kesempatan untuk menumbuhkan mental bertanding tandang,” terang Firman.
Sejauh ini, Firman mengungkapkan cukup senang melihat perkembangan tim yang cukup mengedepankan kebersamaan yang juga bisa ditunjukkan pemain di luar lapangan. Baginya kebersamaan bisa menjadi modal penting bagi sebuah tim.
''Pemain muda juga jangan sampai merasa segan. Mereka butuh komunikasi yang baik dengan para pemain yang sudah lama (senior). ita harus memosisikan diri menjadi rekan yang baik tanpa harus melihat pada status senior atau junior,” ucap Firman.
(aww)