Beruntunglah para pemain yang berkostum Persib
Kamis, 20 Desember 2012 - 16:27 WIB
Beruntunglah para pemain yang berkostum Persib
A
A
A
Sindonews.com - Siapapun pemain yang masuk skuad Persib Bandung bisa dikatakan beruntung. Pasalnya, di tengah krisis keuangan yang melanda sebagian besar klub, Maung Bandung menjadi salah satu klub yang paling konsisten dalam memenuhi hak para penggawanya.
Sejak PT Persib Bandung Bermartabat (PBB) mengambil alih hak pengelolaan Persib dari Pemerintah Kota Bandung, pertengahan tahun 2009 lalu. Tim yang berdiri pada 14 Maret 1933 tersebut, memiliki kondisi keuangan yang tergolong sehat.
Tidak mengherankan jika kemudian banyak pemain lokal maupun asing yang tak kuasa menolak saat mendapatkan tawaran bermain di klub yang menurut survei memiliki fans lebih dari 5 juta orang tersebut. Dalam empat musim dibawah pengelolaan PT PBB, hampir tak pernah terdengar adanya masalah tunggakan gaji pemain di Persib.
''Kalaupun ada keterlambatan hanya beberapa hari saja. Saya kira hal itu masih bisa di toleransi karena keterlambatannya tidak sampai berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Ini adalah komitmen Persib untuk tidak menelantarkan para pemain, khususnya menyangkut hak mereka,” jelas Manajer Persib, Umuh Muchtar.
Dengan kondisi keuangan yang jauh lebih sehat dibandingkan kontestan Indonesia Super League (ISL) lainnya. Pengurus teras PT PBB tidak mau terlalu reaktif dalam menyikapi seruan boikot yang didengungkan Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI).
Seperti diketahui APPI sempat menyampaikan imbauan seluruh pemain sepak bola nasional untuk memboikot kompetisi musim 2012/2013. Dengan catatan, masih terjadi persoalan klub melakukan penunggakan gaji kepada para pemainnya.
Acuannya adalah ketika banyak klub baik di kompetisi ISL maupun IPL menunggak gaji para pemain hingga berbulan-bulan. Bahkan klub PSPS Pekanbaru terlilit masalah hingga harus menangguhkan gaji pemain dan pelatihnya sampai 10 bulan.
Menyikapi persoalaan ini, Komisaris PT PBB, Kuswara S Taryono menyatakan perlu kajian lebih mendalam bagi pihaknya sebelum memastikan untuk mengikuti atau menolak ajakan APPI. “Saya kira persoalaan ini perlu dijawab secara institusi bukan perseorangan. Karena itu mengapa kita harus mengkaji dulu sebelum memberikan respons apa yang bakal kita lakukan terkait ajakan dari rekan-rekan dari APPI,” cetus Kuswara.
Lebih jauh Kuswara menyatakan yang sepantasnya menjawab dan merespons seruan dari APPI tersebut bukan klub melainkan pemain sebagai objek yang dimaksud APPI.
“Mungkin yang harus memberikan tanggapan dan aspirasinya adalah pemain. Karena yang menjadi objeknya adalah pemain. Meski begitu hal ini tetap ada kaitannya juga dengan klub. Menurut saya klub hanya bisa melakukan langkah untuk meyakinkan kepada pemain yang memperkuat klub. Bagi kami aspirasi merupakan dorongan untuk bisa menjaga dan meningkatkan profesionalisme klub yang sudah kami bangun,” tandas Kuswara.
Sejak PT Persib Bandung Bermartabat (PBB) mengambil alih hak pengelolaan Persib dari Pemerintah Kota Bandung, pertengahan tahun 2009 lalu. Tim yang berdiri pada 14 Maret 1933 tersebut, memiliki kondisi keuangan yang tergolong sehat.
Tidak mengherankan jika kemudian banyak pemain lokal maupun asing yang tak kuasa menolak saat mendapatkan tawaran bermain di klub yang menurut survei memiliki fans lebih dari 5 juta orang tersebut. Dalam empat musim dibawah pengelolaan PT PBB, hampir tak pernah terdengar adanya masalah tunggakan gaji pemain di Persib.
''Kalaupun ada keterlambatan hanya beberapa hari saja. Saya kira hal itu masih bisa di toleransi karena keterlambatannya tidak sampai berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Ini adalah komitmen Persib untuk tidak menelantarkan para pemain, khususnya menyangkut hak mereka,” jelas Manajer Persib, Umuh Muchtar.
Dengan kondisi keuangan yang jauh lebih sehat dibandingkan kontestan Indonesia Super League (ISL) lainnya. Pengurus teras PT PBB tidak mau terlalu reaktif dalam menyikapi seruan boikot yang didengungkan Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI).
Seperti diketahui APPI sempat menyampaikan imbauan seluruh pemain sepak bola nasional untuk memboikot kompetisi musim 2012/2013. Dengan catatan, masih terjadi persoalan klub melakukan penunggakan gaji kepada para pemainnya.
Acuannya adalah ketika banyak klub baik di kompetisi ISL maupun IPL menunggak gaji para pemain hingga berbulan-bulan. Bahkan klub PSPS Pekanbaru terlilit masalah hingga harus menangguhkan gaji pemain dan pelatihnya sampai 10 bulan.
Menyikapi persoalaan ini, Komisaris PT PBB, Kuswara S Taryono menyatakan perlu kajian lebih mendalam bagi pihaknya sebelum memastikan untuk mengikuti atau menolak ajakan APPI. “Saya kira persoalaan ini perlu dijawab secara institusi bukan perseorangan. Karena itu mengapa kita harus mengkaji dulu sebelum memberikan respons apa yang bakal kita lakukan terkait ajakan dari rekan-rekan dari APPI,” cetus Kuswara.
Lebih jauh Kuswara menyatakan yang sepantasnya menjawab dan merespons seruan dari APPI tersebut bukan klub melainkan pemain sebagai objek yang dimaksud APPI.
“Mungkin yang harus memberikan tanggapan dan aspirasinya adalah pemain. Karena yang menjadi objeknya adalah pemain. Meski begitu hal ini tetap ada kaitannya juga dengan klub. Menurut saya klub hanya bisa melakukan langkah untuk meyakinkan kepada pemain yang memperkuat klub. Bagi kami aspirasi merupakan dorongan untuk bisa menjaga dan meningkatkan profesionalisme klub yang sudah kami bangun,” tandas Kuswara.
(aww)