Sriwijaya FC tuding PT. Liga untungkan Arema Cronous
Kamis, 16 Januari 2014 - 13:40 WIB
Sriwijaya FC tuding PT. Liga untungkan Arema Cronous
A
A
A
Sindonews.com - Sriwijaya FC mengeluhkan keputusan PT. Liga Indonesia yang menunjuk Arema Cronous sebagai tuan rumah delapan besar Inter Island Cup (IIC) Grup A di Stadion Kanjuruhan. PT. Liga berdalih, pemilihan markas Singo Edan dan Stadion Manahan, Solo sebagai lokasi pertandingan babak delapan besar dengan pertimbangan keamanan.
Jika memang alasannya begitu, manajemen SFC merasa Palembang juga siap menjadi tuan rumah Pasalnya, keputusan tersebut akan menjadi keuntungan tersendiri bagi Arema. Apalagi sebelumnya mereka juga menjadi tuan rumah Zona Jawa 2. Jika melihat kembali ke belakang, Arema memiliki rekor fantastis ketika bertanding di depan Aremania.
Alhasil, di fase grup Arema sukses menyapu bersih semua laga dengan menaklukkan para pesaingnya di Zona Jawa 2 seperti Persela Lamongan, Persepam Madura United, serta Persija Jakarta. Kondisi yang sama juga terjadi saat Arema sukses merebut Piala Gubernur Jatim Desember lalu di East Java Tournament.
Saat itu, Arema juga meraih poin absolut setelah mengalahkan lawan-lawannya termasuk SFC, Persik Kediri dan Persegres Gresik United. Untuk diketahui, di Grup A, SFC akan berhadapan dengan Arema Cronous, Perseru Serui dan Barito Putera guna memperebutkan satu tiket ke babak final.
Tadinya, Pelatih SFC Subangkit berharap agar pertandingan babak delapan besar bisa diselenggarakan di zona netral dan bukan di markas klub yang lolos. Karena dengan begitu, tidak ada tim yang merasa diuntungkan ataupun sebaliknya.
''Kalau saya maunya pertandingan delapan besar dilaksakan di tempat netral seperti Solo, agar seluruh tim yang lolos tidak merasa diuntungkan dan tidak ada yang dirugikan. Kalau seperti ini, tentu akan sangat menguntungkan bagi tim Arema,”protes Subangkit..
Tetapi PT Liga tampaknya memiliki pendapat lain. Keputusan ini mengundang banyak pertanyaan. Apa sebenarnya yang menjadi dasar keputusan tersebut diambil. Apalagi di daerah Jawa, banyak stadion lain yang memiliki kualitas lebih baik.
Alhasil, bahkan banyak pihak menuding PT. Liga selaku operator kompetisi sengaja mengeluarkan keputusan itu, demi memuluskan jalan Arema Indonesia yang bertindak sebagai tuan rumah ke partai final. Selain itu, diduga antara PT Liga dengan manajemen klub Arema telah terjadi perjanjian tertentu.
Seperti diketahui, SFC akhirnya memastikan langkah kebabak delapan besar setelah unggul agregat gol 4-1 dari Semen Padang. Keunggulan agregat itu diraih setelah pada pertandingan kemarin Asri Akbar dkk sukses menaklukkan tim berjuluk Kabau Sirah itu 3-1, Selasa (14/1). Sebelumnya pada leg pertama di Padang, SFC berhasil menahan imbang 1-1.
''Dengan keputusan ini, secara otomatis Arema Indonesia sebagai tuan rumah akan diuntungkan. Karena mereka akan bermain dengan dukungan suporternya, tetapi mau bagaimana lagi keputusan sudah diambil dan mau tidak mau kami harus siap,”keluhnya.
Namun, Subangkit tidak mau terlalu larut dalam kekecewaan dan memilih fokus mempersiapkan timnya sebaik mungkin. Karena menurut dia, menjadi juara pada Turnamen IIC bukanlah target utama yang dibebankan manajemen klub kepadanya.
Manajer Tim SFC, Robert Heri, mengatakan bahwa keputusan perihal tuan rumah jelas sangat merugikan bagi timnya. Persoalan nonteknis menjadi salah satu kekhawatirannya, seperti yang dialami SFC saat mengikuti Piala Gubernur Jawa Timur beberapa waktu lalu. ''Seharusnya pertandingan penting seperti ini bisa dilakukan ditempat netral, keputusan ini sungguh merugikan kita dan tim lainnya,”tegasnya.
Jika memang alasannya begitu, manajemen SFC merasa Palembang juga siap menjadi tuan rumah Pasalnya, keputusan tersebut akan menjadi keuntungan tersendiri bagi Arema. Apalagi sebelumnya mereka juga menjadi tuan rumah Zona Jawa 2. Jika melihat kembali ke belakang, Arema memiliki rekor fantastis ketika bertanding di depan Aremania.
Alhasil, di fase grup Arema sukses menyapu bersih semua laga dengan menaklukkan para pesaingnya di Zona Jawa 2 seperti Persela Lamongan, Persepam Madura United, serta Persija Jakarta. Kondisi yang sama juga terjadi saat Arema sukses merebut Piala Gubernur Jatim Desember lalu di East Java Tournament.
Saat itu, Arema juga meraih poin absolut setelah mengalahkan lawan-lawannya termasuk SFC, Persik Kediri dan Persegres Gresik United. Untuk diketahui, di Grup A, SFC akan berhadapan dengan Arema Cronous, Perseru Serui dan Barito Putera guna memperebutkan satu tiket ke babak final.
Tadinya, Pelatih SFC Subangkit berharap agar pertandingan babak delapan besar bisa diselenggarakan di zona netral dan bukan di markas klub yang lolos. Karena dengan begitu, tidak ada tim yang merasa diuntungkan ataupun sebaliknya.
''Kalau saya maunya pertandingan delapan besar dilaksakan di tempat netral seperti Solo, agar seluruh tim yang lolos tidak merasa diuntungkan dan tidak ada yang dirugikan. Kalau seperti ini, tentu akan sangat menguntungkan bagi tim Arema,”protes Subangkit..
Tetapi PT Liga tampaknya memiliki pendapat lain. Keputusan ini mengundang banyak pertanyaan. Apa sebenarnya yang menjadi dasar keputusan tersebut diambil. Apalagi di daerah Jawa, banyak stadion lain yang memiliki kualitas lebih baik.
Alhasil, bahkan banyak pihak menuding PT. Liga selaku operator kompetisi sengaja mengeluarkan keputusan itu, demi memuluskan jalan Arema Indonesia yang bertindak sebagai tuan rumah ke partai final. Selain itu, diduga antara PT Liga dengan manajemen klub Arema telah terjadi perjanjian tertentu.
Seperti diketahui, SFC akhirnya memastikan langkah kebabak delapan besar setelah unggul agregat gol 4-1 dari Semen Padang. Keunggulan agregat itu diraih setelah pada pertandingan kemarin Asri Akbar dkk sukses menaklukkan tim berjuluk Kabau Sirah itu 3-1, Selasa (14/1). Sebelumnya pada leg pertama di Padang, SFC berhasil menahan imbang 1-1.
''Dengan keputusan ini, secara otomatis Arema Indonesia sebagai tuan rumah akan diuntungkan. Karena mereka akan bermain dengan dukungan suporternya, tetapi mau bagaimana lagi keputusan sudah diambil dan mau tidak mau kami harus siap,”keluhnya.
Namun, Subangkit tidak mau terlalu larut dalam kekecewaan dan memilih fokus mempersiapkan timnya sebaik mungkin. Karena menurut dia, menjadi juara pada Turnamen IIC bukanlah target utama yang dibebankan manajemen klub kepadanya.
Manajer Tim SFC, Robert Heri, mengatakan bahwa keputusan perihal tuan rumah jelas sangat merugikan bagi timnya. Persoalan nonteknis menjadi salah satu kekhawatirannya, seperti yang dialami SFC saat mengikuti Piala Gubernur Jawa Timur beberapa waktu lalu. ''Seharusnya pertandingan penting seperti ini bisa dilakukan ditempat netral, keputusan ini sungguh merugikan kita dan tim lainnya,”tegasnya.
(aww)