Dibebani dua emas, atlet DIY kurang terurus
Rabu, 02 April 2014 - 04:35 WIB
Dibebani dua emas, atlet DIY kurang terurus
A
A
A
Sindonews.com - Persiapan atlet-atlet DI Yogyakarta di cabang olahraga angkat berat, binaraga, dan angkat besi tidak maksimal untuk mengikuti Pra-PON 2015 mendatang. Pasalnya, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) DIY kurang memberikan perhatian. Padahal, target dari ketiga cabang tersebut pada Pon 2016 mendatang di Jawa Barat memperoleh dua medali emas.
Sukamto, pelatih Angkat Berat DIY mengatakan, pemusatan latihan daerah (pelatda) harusnya sudah digelar sejak Januari lalu oleh KONI DIY. Namun, hingga April ini, latihan para atletnya masih mandiri. ''Otomatis persiapan kita tak maksimal,''kata dia, ditemui Selasa (1/4).
Bukannya tanpa sebab dirinya berharap agar secepatnya dilakukan Pelatda. Karena cabang olahraga ini, tidak bisa diraih secara instan saja. Para atlet harus melakukan pembentukan dan penguatan otot, jauh-jauh hari sebelum ajang yang akan diikuti.''Pembangunan otot tidak bisa dua sampai tiga bulan saja. Ini memerlukan proses,''ucapnya.
Idealnya, latihan atlet binaraga, angkat besi, dan angkat berat dilakukan setiap hari dua kali. Masing-masing dalam durasi dua jam. Namun, saat ini hanya sekali saja setiap pagi. Sebab, selain digenjot latihan keras, juga diperlukan asupan nutrisi dan vitamin kepada para atlet. Supaya, input dan outputnya berjalan seimbang, dan ototpun bisa berkembang baik.''Kasihan atletnya kalau latihan dua kali sehari,''ucapnya.
Namun, dia tetap berupaya bisa meraih target pada PON XIX/2016 mendatang untuk membawa dua medali emas untuk DIY. Meski, memang beberapa daerah lain di cabang olahraga ini patut diwaspadai. Di antaranya seperti Lampung, Jawa Barat, dan Kalimantan Timur.''Di sana gudangnya atlet,''katanya.
Salah satu atlet didikannya, Rimawati mengatakan, dia berkeinginan untuk menunjukkan bahwa DIY mempunyai atlet berprestasi di cabang angkat berat pada PON 2016 mendatang.''Atlet cabang olahraga ini kan butuh suplemen dan nutrisi. Tapi dari Januari lalu tidak ada yang diberikan dari KONI (DIY),''ucapnya.
Sekretaris Pengda Persatuan Angkat Besi dan Berat Seluruh Indonesia (PABBSI) DIY, Diah Emilia Malahayati mengatakan, fasilitas yang diberikan dari pihak KONI DIY saat ini memang masih minim. Bagaimana tidak, satu contoh kecil ketika seorang atlet meraih prestasi di sebuah kejuaraan, hanya diberi bonus satu hingga enam juta rupiah.
Berbeda halnya dengan daerah lain, seperti Kalimantan, atau Jawa Barat, bisa lebih dari dua puluh juta rupiah. Jawa Tengah, yang paling kecil adalah Magelang saja, menurutnya, bonus ketika atletnya meraih prestasi bisa belasan juta rupiah.''Untuk berlatih, agar atlet bisa lebih bergairah ya kita berikan bonus. Tapi itu pun masih minim perhatian dibandingkan dengan daerah lain,''paparnya.
Sukamto, pelatih Angkat Berat DIY mengatakan, pemusatan latihan daerah (pelatda) harusnya sudah digelar sejak Januari lalu oleh KONI DIY. Namun, hingga April ini, latihan para atletnya masih mandiri. ''Otomatis persiapan kita tak maksimal,''kata dia, ditemui Selasa (1/4).
Bukannya tanpa sebab dirinya berharap agar secepatnya dilakukan Pelatda. Karena cabang olahraga ini, tidak bisa diraih secara instan saja. Para atlet harus melakukan pembentukan dan penguatan otot, jauh-jauh hari sebelum ajang yang akan diikuti.''Pembangunan otot tidak bisa dua sampai tiga bulan saja. Ini memerlukan proses,''ucapnya.
Idealnya, latihan atlet binaraga, angkat besi, dan angkat berat dilakukan setiap hari dua kali. Masing-masing dalam durasi dua jam. Namun, saat ini hanya sekali saja setiap pagi. Sebab, selain digenjot latihan keras, juga diperlukan asupan nutrisi dan vitamin kepada para atlet. Supaya, input dan outputnya berjalan seimbang, dan ototpun bisa berkembang baik.''Kasihan atletnya kalau latihan dua kali sehari,''ucapnya.
Namun, dia tetap berupaya bisa meraih target pada PON XIX/2016 mendatang untuk membawa dua medali emas untuk DIY. Meski, memang beberapa daerah lain di cabang olahraga ini patut diwaspadai. Di antaranya seperti Lampung, Jawa Barat, dan Kalimantan Timur.''Di sana gudangnya atlet,''katanya.
Salah satu atlet didikannya, Rimawati mengatakan, dia berkeinginan untuk menunjukkan bahwa DIY mempunyai atlet berprestasi di cabang angkat berat pada PON 2016 mendatang.''Atlet cabang olahraga ini kan butuh suplemen dan nutrisi. Tapi dari Januari lalu tidak ada yang diberikan dari KONI (DIY),''ucapnya.
Sekretaris Pengda Persatuan Angkat Besi dan Berat Seluruh Indonesia (PABBSI) DIY, Diah Emilia Malahayati mengatakan, fasilitas yang diberikan dari pihak KONI DIY saat ini memang masih minim. Bagaimana tidak, satu contoh kecil ketika seorang atlet meraih prestasi di sebuah kejuaraan, hanya diberi bonus satu hingga enam juta rupiah.
Berbeda halnya dengan daerah lain, seperti Kalimantan, atau Jawa Barat, bisa lebih dari dua puluh juta rupiah. Jawa Tengah, yang paling kecil adalah Magelang saja, menurutnya, bonus ketika atletnya meraih prestasi bisa belasan juta rupiah.''Untuk berlatih, agar atlet bisa lebih bergairah ya kita berikan bonus. Tapi itu pun masih minim perhatian dibandingkan dengan daerah lain,''paparnya.
(aww)