Leverkusen Tersingkir karena Minim Percaya Diri
Kamis, 19 Maret 2015 - 11:55 WIB
Leverkusen Tersingkir karena Minim Percaya Diri
A
A
A
MADRID - Mimpi Bayer Leverkusen untuk berprestasi di pentas Eropa kembali tertunda. Langkah Simon Rofles dkk di Liga Champions musim ini harus terhenti pada babak 16 besar seusai kalah 2-3 lewat drama adu penalti dari Atletico Madrid pada leg kedua dini hari kemarin.
Dari lima eksekutor Leverkusen, hanya Rofles dan Gonzalo Castro yang mencetak gol. Sementara tiga eksekutor lain, yakni Hakan Calhanoglu, Omer Torak, dan Stefan Kiessling gagal menjalankan tugasnya. Kegagalan tersebut membuat kemenangan 1-0 yang mereka raih pada legpertama menjadi sia-sia. Bagi Leverkusen, kekalahan dari Atletico membuat asa mereka melangkah lebih jauh di Liga Champions musnah.
Leverkusen semakin kesulitan untuk menyamai prestasi terbaik mereka ketika lolos ke final musim 2001/2002. Itu sekaligus memperpanjang catatan buruk Leverkusen di kompetisi ini. Pasalnya, pada tiga musim sebelumnya klub yang bermarkas di BayArena tersebut juga tersingkir pada babak 16 besar.
Mereka kalah agregat 2-6 dari Liverpool pada 2004/ 05, menyerah dengan agregat 2-10 dari Barcelona pada 2011/12, dan 1-6 dari Paris Saint Germain (PSG) pada 2013/2014. Tersingkirnya Leverkusen membuat para pemain sangat terpukul. Rofles mengatakan, kurangnya kepercayaan diri menjadi salah satu faktor kegagalan timnya mengimbangi permainan Atletico.
”Setelah adu penalti, sangat sulit untuk menganalisa pertandingan. Kami mungkin tidak menunjukkan cukup banyak keberanian, tetapi juga kurang beruntung. Sangat menyakitkan harus tersingkir lewat adu penalti. Atletico bermain sangat aktif, sedangkan kami tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup,” ungkap Rofles, dilansir BBC Sport.
Berbeda dengan Rofles, Pelatih Leverkusen Roger Schmidt lebih bijak dalam menanggapi hasil buruk yang dialami armadanya. Dia mengungkapkan, pengalaman minim timnya membuat mereka kesulitan menghadapi tekanantekanan yang diberikan Atletico. ”Saya ingin mengucapkan selamat kepada Atletico atas keberhasilan mereka melaju ke perempat final.
Pertandingan berjalan sangat cepat. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada pemain-pemain saya,” ucapnya. ”Kami bertahan dengan baik setelah Atletico mencetak gol pertama. Kami adalah tim muda tanpa pengalaman. Sangat sulit bermain di Estadio Vicente Calderon. Kami tidak memiliki cukup konsentrasi dan ketenangan dalam adu penalti,” katanya.
Kendati gagal melaju ke perempat final, Schmidt meminta pasukannya untuk tidak kecewa berlarut-larut. Pelatih berusia 48 tahun itu menegaskan, Leverkusen akan berkonsentrasi untuk menyelesaikan Bundesliga musim ini sebaik mungkin.
Alimansyah
Dari lima eksekutor Leverkusen, hanya Rofles dan Gonzalo Castro yang mencetak gol. Sementara tiga eksekutor lain, yakni Hakan Calhanoglu, Omer Torak, dan Stefan Kiessling gagal menjalankan tugasnya. Kegagalan tersebut membuat kemenangan 1-0 yang mereka raih pada legpertama menjadi sia-sia. Bagi Leverkusen, kekalahan dari Atletico membuat asa mereka melangkah lebih jauh di Liga Champions musnah.
Leverkusen semakin kesulitan untuk menyamai prestasi terbaik mereka ketika lolos ke final musim 2001/2002. Itu sekaligus memperpanjang catatan buruk Leverkusen di kompetisi ini. Pasalnya, pada tiga musim sebelumnya klub yang bermarkas di BayArena tersebut juga tersingkir pada babak 16 besar.
Mereka kalah agregat 2-6 dari Liverpool pada 2004/ 05, menyerah dengan agregat 2-10 dari Barcelona pada 2011/12, dan 1-6 dari Paris Saint Germain (PSG) pada 2013/2014. Tersingkirnya Leverkusen membuat para pemain sangat terpukul. Rofles mengatakan, kurangnya kepercayaan diri menjadi salah satu faktor kegagalan timnya mengimbangi permainan Atletico.
”Setelah adu penalti, sangat sulit untuk menganalisa pertandingan. Kami mungkin tidak menunjukkan cukup banyak keberanian, tetapi juga kurang beruntung. Sangat menyakitkan harus tersingkir lewat adu penalti. Atletico bermain sangat aktif, sedangkan kami tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup,” ungkap Rofles, dilansir BBC Sport.
Berbeda dengan Rofles, Pelatih Leverkusen Roger Schmidt lebih bijak dalam menanggapi hasil buruk yang dialami armadanya. Dia mengungkapkan, pengalaman minim timnya membuat mereka kesulitan menghadapi tekanantekanan yang diberikan Atletico. ”Saya ingin mengucapkan selamat kepada Atletico atas keberhasilan mereka melaju ke perempat final.
Pertandingan berjalan sangat cepat. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada pemain-pemain saya,” ucapnya. ”Kami bertahan dengan baik setelah Atletico mencetak gol pertama. Kami adalah tim muda tanpa pengalaman. Sangat sulit bermain di Estadio Vicente Calderon. Kami tidak memiliki cukup konsentrasi dan ketenangan dalam adu penalti,” katanya.
Kendati gagal melaju ke perempat final, Schmidt meminta pasukannya untuk tidak kecewa berlarut-larut. Pelatih berusia 48 tahun itu menegaskan, Leverkusen akan berkonsentrasi untuk menyelesaikan Bundesliga musim ini sebaik mungkin.
Alimansyah
(bbg)