Tidak Usah Berebut Pepesan Kosong Seperti Sekarang
Kamis, 30 April 2015 - 08:45 WIB
Tidak Usah Berebut Pepesan Kosong Seperti Sekarang
A
A
A
Niat Menpora Imam Nahrawi untuk menyatukan dua kubu Persebaya bakal berakhir siasia. Kubu Persebaya PT Mitra Muda Inti Berlian (MMIB) kini menolak melakukan rekonsiliasi dengan Persebaya di bawah bendera PT Persebaya Indonesia (PI).
CEO Persebaya PT MMIB Gede Widiade justru menantang Komisaris PT Persebaya Indonesia Saleh Mukadar agar timnya ikut kompetisi. ”Silakan ada dua Persebaya di Surabaya. Milan ada dua klub, yakni AC Milan dan Inter Milan, Manchester ada dua klub. Jadi, silakan kalau ada dua Persebaya,” kata Gede kemarin. Saat ini PT Persebaya Indonesia memang belum terbentuk tim. Terakhir, bermain di kompetisi Indonesia Premier League (IPL) dengan nama Persebaya 1927.
Sementara Persebaya PT MMIB berlaga di ajang Qatar Bank League (QBL/ISL) sebelum berhenti. Jika Persebaya 1927 memang berniat ingin membina sepak bola, bisa memulai kompetisi dari bawah, seperti Piala Nusantara (Divisi I) atau mengakuisisi klub Divisi Utama. ”Jangan bikin ribut saja. Persebaya yang saya ambil ini juga berdarahdarah di Divisi Utama,” ujarnya, menyindir. Bukan hanya mengakhir konflik, menurut Gede, banyak keuntungan jika Surabaya memiliki dua klub Persebaya, di antaranya membuka lapangan kerja dan menambah pendapatan Pemkot Surabaya.
Masyarakat juga banyak pilihan tontonan sepak bola. Tidak usah berebut pepesan kosong, seperti sekarang. Pria yang juga menjabat Ketua PSSI Surabaya ini juga heran dengan pihak PT Persebaya Indonesia, yang terus mempersoalkan masalah dualisme klub Persebaya. ”Yang diributkan itu apa? Mereka inginnya ribut terus, tapi enggak mau membesarkan Persebaya. Persebaya masih eksis, ayo didukung. Jangan malah meributkan yang sudah jalan,” ucapnya.
Solusi menjadikan Persebaya menjadi dua lebih memungkinkan daripada mengabungkan menjadi satu seperti keinginan Menpora Imam Nahrawi. ”Persebaya beda dengan Arema yang PT-nya satu tapi diperebutkan dua orang. Tidak perlu mediasi kalau PT-nya sendiri-sendiri,” ujar pengusaha asal Wonokromo, Surabaya, ini. Seandainya dipaksakan PT Persebaya Indonesia dan PT MMIB bergabung menjadi satu bakal lebih rumit. Sebab, kalau merger berarti harus beli saham.
”Entah itu saya beli saham mereka atau mereka beli saham saya. Tapi ngapain? Wongsaya sudah punya saham di PT lain. Saya punya tanggung jawab hukum di PT MMIB,” ujar Gede. Bukan hanya itu, tunggakan gaji yang menjerat tim Persebaya 1927 juga akan menjadi persoalan. Menurut Gede, merger harus dilakukan secara benar dan diikuti dengan finansial. Yang berkoar-koar itu masih punya utang ke pemain. Jangan ngomongsoal Persebaya, tapi tidak ngomongsoal finansial.
Apalagi, komposisi pemegang saham di PT Mitra Muda Inti Berlian (MMIB) telah berubah. Perusahaan yang menjadi badan hukum Persebaya tersebut telah dikuasai sepenuhnya oleh Gede Widiade. Proses akuisisi Persebaya sudah dilakukan dua bulan lalu. Gede menggunakan salah satu perusahaannya, yakni PT Permata Sejahtera Nusantara (PSN) untuk menguasai saham mayoritas di PT MMIB. ”Saham 90% PT MMIB dibeli PT PSN, sedangkan atas nama Gede Widiade sebanyak 10%,” ujar Gede.
Sementara Komisaris PT Persebaya Indonesia Saleh Ismail Mukadar mengaku sudah dihubungi tim dari Kemenpora. ”Dari orang Menpora memang sudah ada yang menghubungi saya, tapi baru omongomongbiasa saja,” ucap Saleh, yang enggan mengungkapkan isi pembicaraan.
Rachmad Tomy
CEO Persebaya PT MMIB Gede Widiade justru menantang Komisaris PT Persebaya Indonesia Saleh Mukadar agar timnya ikut kompetisi. ”Silakan ada dua Persebaya di Surabaya. Milan ada dua klub, yakni AC Milan dan Inter Milan, Manchester ada dua klub. Jadi, silakan kalau ada dua Persebaya,” kata Gede kemarin. Saat ini PT Persebaya Indonesia memang belum terbentuk tim. Terakhir, bermain di kompetisi Indonesia Premier League (IPL) dengan nama Persebaya 1927.
Sementara Persebaya PT MMIB berlaga di ajang Qatar Bank League (QBL/ISL) sebelum berhenti. Jika Persebaya 1927 memang berniat ingin membina sepak bola, bisa memulai kompetisi dari bawah, seperti Piala Nusantara (Divisi I) atau mengakuisisi klub Divisi Utama. ”Jangan bikin ribut saja. Persebaya yang saya ambil ini juga berdarahdarah di Divisi Utama,” ujarnya, menyindir. Bukan hanya mengakhir konflik, menurut Gede, banyak keuntungan jika Surabaya memiliki dua klub Persebaya, di antaranya membuka lapangan kerja dan menambah pendapatan Pemkot Surabaya.
Masyarakat juga banyak pilihan tontonan sepak bola. Tidak usah berebut pepesan kosong, seperti sekarang. Pria yang juga menjabat Ketua PSSI Surabaya ini juga heran dengan pihak PT Persebaya Indonesia, yang terus mempersoalkan masalah dualisme klub Persebaya. ”Yang diributkan itu apa? Mereka inginnya ribut terus, tapi enggak mau membesarkan Persebaya. Persebaya masih eksis, ayo didukung. Jangan malah meributkan yang sudah jalan,” ucapnya.
Solusi menjadikan Persebaya menjadi dua lebih memungkinkan daripada mengabungkan menjadi satu seperti keinginan Menpora Imam Nahrawi. ”Persebaya beda dengan Arema yang PT-nya satu tapi diperebutkan dua orang. Tidak perlu mediasi kalau PT-nya sendiri-sendiri,” ujar pengusaha asal Wonokromo, Surabaya, ini. Seandainya dipaksakan PT Persebaya Indonesia dan PT MMIB bergabung menjadi satu bakal lebih rumit. Sebab, kalau merger berarti harus beli saham.
”Entah itu saya beli saham mereka atau mereka beli saham saya. Tapi ngapain? Wongsaya sudah punya saham di PT lain. Saya punya tanggung jawab hukum di PT MMIB,” ujar Gede. Bukan hanya itu, tunggakan gaji yang menjerat tim Persebaya 1927 juga akan menjadi persoalan. Menurut Gede, merger harus dilakukan secara benar dan diikuti dengan finansial. Yang berkoar-koar itu masih punya utang ke pemain. Jangan ngomongsoal Persebaya, tapi tidak ngomongsoal finansial.
Apalagi, komposisi pemegang saham di PT Mitra Muda Inti Berlian (MMIB) telah berubah. Perusahaan yang menjadi badan hukum Persebaya tersebut telah dikuasai sepenuhnya oleh Gede Widiade. Proses akuisisi Persebaya sudah dilakukan dua bulan lalu. Gede menggunakan salah satu perusahaannya, yakni PT Permata Sejahtera Nusantara (PSN) untuk menguasai saham mayoritas di PT MMIB. ”Saham 90% PT MMIB dibeli PT PSN, sedangkan atas nama Gede Widiade sebanyak 10%,” ujar Gede.
Sementara Komisaris PT Persebaya Indonesia Saleh Ismail Mukadar mengaku sudah dihubungi tim dari Kemenpora. ”Dari orang Menpora memang sudah ada yang menghubungi saya, tapi baru omongomongbiasa saja,” ucap Saleh, yang enggan mengungkapkan isi pembicaraan.
Rachmad Tomy
(ars)