Tak Semua Atlet Indonesia Ikut Defile Opening Ceremony Olimpiade Paris 2024
Jum'at, 19 Juli 2024 - 07:07 WIB
Sekjen KOI, Wijaya Noeradi, mengungkapkan bahwa defile dari Kontingen Indonesia bakal mengenakan pakaian lengkap yang menjadi seragam mereka di Olimpiade Paris 2024, yang dirancang oleh desainer Tanah Air, Didiet Hediprasetyo, dalam upacara pembukaan nanti. Namun, selain itu juga bakal ada atlet yang menggunakan pakaian adat khas Indonesia.
"Memang untuk defile ini untuk atlet-atletnya dan official itu menggunakan (jersey kontingen) desain dari Mas Didit. Tetapi setahu saya memang ada yang juga memakai pakaian daerah, saya lupa satu atau dua orang, jadi itu surprise," kata Wijaya, Kamis (18/7/2024).
Lebih lanjut, Wijaya mengisyaratkan bahwa tak semua atlet Indonesia yang lolos ke Paris 2024 bakal turut serta dalam defile pada upacara pembukaan nanti. Sebab, pihak KOI tak ingin mengorbankan atlet yang memiliki jadwal bertanding dalam waktu dekat dari acara tersebut.
Baca Juga: POBSI Pool Circuit 2024 di Bandar Lampung Berebut Hadiah hingga Rp100 Juta
"Namun memang dalam defile kita juga enggak bisa memaksa para atlet. Sebagai contoh, ini defile tanggal 26 (Juli), dari lokasi defile sampai bisa kembali ke athlete village itu jaraknya cukup jauh, jadi kita tidak bisa mengorbankan atlet yang besoknya atau beberapa hari kemudian harus bertanding," jelasnya.
"Memang untuk defile ini untuk atlet-atletnya dan official itu menggunakan (jersey kontingen) desain dari Mas Didit. Tetapi setahu saya memang ada yang juga memakai pakaian daerah, saya lupa satu atau dua orang, jadi itu surprise," kata Wijaya, Kamis (18/7/2024).
Lebih lanjut, Wijaya mengisyaratkan bahwa tak semua atlet Indonesia yang lolos ke Paris 2024 bakal turut serta dalam defile pada upacara pembukaan nanti. Sebab, pihak KOI tak ingin mengorbankan atlet yang memiliki jadwal bertanding dalam waktu dekat dari acara tersebut.
Baca Juga: POBSI Pool Circuit 2024 di Bandar Lampung Berebut Hadiah hingga Rp100 Juta
"Namun memang dalam defile kita juga enggak bisa memaksa para atlet. Sebagai contoh, ini defile tanggal 26 (Juli), dari lokasi defile sampai bisa kembali ke athlete village itu jaraknya cukup jauh, jadi kita tidak bisa mengorbankan atlet yang besoknya atau beberapa hari kemudian harus bertanding," jelasnya.
Lihat Juga :