Drama Adu Penalti Warnai Final Soccer Challenge Bandung 2025!
Senin, 02 Juni 2025 - 01:14 WIB
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, yang turut hadir menyaksikan laga final, menyampaikan apresiasinya terhadap potensi para pesepak bola putri muda Bandung. Ia berharap, melalui ajang seperti MilkLife Soccer Challenge, bibit-bibit unggul dapat terus berkembang dan mengisi skuad Timnas Putri Indonesia di masa depan.
"Saya sangat menikmati pertandingannya karena para putri tidak hanya mengejar dan menendang bola tapi mereka sudah bisa berpikir untuk menggunakan teknik dan menggunakan strategi. Tapi yang paling penting, terlepas dari menang atau kalah mereka telah menunjukkan motivasi dan sportivitas. Kalau usia sekarang usia mereka 10 dan 12 tahun lalu terus belajar, maka kita proyeksikan 15 tahun lagi mereka sudah sangat matang. Insya Allah sudah bisa jadi tim inti nasional," ujar Farhan.
Head Coach MilkLife Soccer Challenge, Timo Scheunemann, menekankan pentingnya dukungan dari orang tua dan sekolah dalam mengembangkan bakat sepak bola putri sejak usia dini. "Kemenangan para juara hari ini merupakan hal yang sangat positif. Ini bukan masalah juara tetapi soal berkembang dan kesenangan bermain bola. Jadi diharapkan orang tua dan sekolah jangan memberikan tekanan atau beban. Ini adalah masa kecil mereka dan kalau mereka memilih sepak bola harus senang dulu, jadi mereka rajin berlatih. Bila rajin berlatih mereka akan berkembang," kata Coach Timo.
Lebih lanjut, Timo menjelaskan bahwa MilkLife Soccer Challenge tidak hanya menggelar kompetisi untuk KU 10 dan KU 12, tetapi juga Festival SenengSoccer untuk KU 8. Inisiatif ini bertujuan untuk menumbuhkan minat dan menciptakan regenerasi pesepak bola putri sejak usia enam hingga delapan tahun.
"Kami berkomitmen untuk terus memupuk, menjaga dan merawat ekosistem sepak bola putri, sehingga kami memberikan wadah berupa Festival SenengSoccer yang bertujuan untuk menumbuhkan kesenangan bagi para putri khususnya di usia enam hingga delapan tahun (KU 8). Ini merupakan upaya kami untuk menjaga mata rantai regenerasi pesepak bola putri untuk jenjang selanjutnya di KU10 hingga KU 16," pungkas Coach Timo.
"Saya sangat menikmati pertandingannya karena para putri tidak hanya mengejar dan menendang bola tapi mereka sudah bisa berpikir untuk menggunakan teknik dan menggunakan strategi. Tapi yang paling penting, terlepas dari menang atau kalah mereka telah menunjukkan motivasi dan sportivitas. Kalau usia sekarang usia mereka 10 dan 12 tahun lalu terus belajar, maka kita proyeksikan 15 tahun lagi mereka sudah sangat matang. Insya Allah sudah bisa jadi tim inti nasional," ujar Farhan.
Head Coach MilkLife Soccer Challenge, Timo Scheunemann, menekankan pentingnya dukungan dari orang tua dan sekolah dalam mengembangkan bakat sepak bola putri sejak usia dini. "Kemenangan para juara hari ini merupakan hal yang sangat positif. Ini bukan masalah juara tetapi soal berkembang dan kesenangan bermain bola. Jadi diharapkan orang tua dan sekolah jangan memberikan tekanan atau beban. Ini adalah masa kecil mereka dan kalau mereka memilih sepak bola harus senang dulu, jadi mereka rajin berlatih. Bila rajin berlatih mereka akan berkembang," kata Coach Timo.
Lebih lanjut, Timo menjelaskan bahwa MilkLife Soccer Challenge tidak hanya menggelar kompetisi untuk KU 10 dan KU 12, tetapi juga Festival SenengSoccer untuk KU 8. Inisiatif ini bertujuan untuk menumbuhkan minat dan menciptakan regenerasi pesepak bola putri sejak usia enam hingga delapan tahun.
"Kami berkomitmen untuk terus memupuk, menjaga dan merawat ekosistem sepak bola putri, sehingga kami memberikan wadah berupa Festival SenengSoccer yang bertujuan untuk menumbuhkan kesenangan bagi para putri khususnya di usia enam hingga delapan tahun (KU 8). Ini merupakan upaya kami untuk menjaga mata rantai regenerasi pesepak bola putri untuk jenjang selanjutnya di KU10 hingga KU 16," pungkas Coach Timo.
(yov)
Lihat Juga :