Saat Pemain asal AS Invasi Tim-Tim Elite Eropa
Jum'at, 11 September 2020 - 13:35 WIB
Dari sisi Juve, mereka tentu mengontrak pemain karena dianggap memiliki kemampuan bagus. Seperti diketahui, McKennie sudah memperkuat klub Bundesliga Schalke 04 sejak akademi pada 2016 hingga memperkuat tim utama. Dari 91 penampilan, dia mencetak lima gol. (Baca juga: Tuntutlah Ilmu Walau ke Negeri China Ternyata Bukan Hadis Shahih)
Memang, ada banyak kekhawatiran apakah McKennie bisa beradaptasi di Juve atau tidak. Tapi, itu adalah situasi yang juga dialami pemain-pemain sepak bola dari mana pun, termasuk Benua Eropa dan Amerika Selatan.
Jika McKennie berhasil, dampaknya akan sangat besar. Seri A mungkin bukan liga asing paling populer di AS, tapi semua orang tahu tentang Juve, jauh sebelum Cristiano Ronaldo (CR7) dari Real Madrid. Visibilitas klub bahkan lebih tinggi sekarang. Untuk Juve, ini bisa menjadi jalan menumbuhkan brand dan memperbesar basis fans mereka di AS, walaupun McKennie bukanlah nama yang cukup besar untuk memiliki efek semacam itu.
Bergabungnya McKennie ke Juve menjadi indikasi klub-klub elite Eropa mulai memperhitungkan kemampuan pemain-pemain asal AS. Selain McKennie, sebelumnya ada beberapa kompatriotnya, yakni Christian Pulisic, 21, yang merupakan pemain termahal sepanjang sejarah AS saat bergabung ke Chelsea senilai 58 juta poundsterling, Januari 2019. Ada lagi Tyler Adams, 21, yang membawa RB Leipzig ke semifinal Liga Champions musim lalu, Giovanni Reyna, 17, di Borussia Dortmund hingga Sergino Dest, 19, di Ajax Amsterdam.
Bukan hanya pemain, pelatih asal AS juga sedang naik daun. Jesse Marsch, 46, sukses membawa RB Salzburg menjuarai Austrian Bundesliga 2019/2020 dan Austrian Cup 2019/2020. Bukan hanya itu, Marsch menjadi pelatih pertama asal AS yang menangani tim di Liga Champions. (Baca juga: Baru Disuntik Vaksin Buatan China, Pulang dari Semarang Relawan Ini Positif Corona)
Marsch mengatakan seluruh pemain dan pelatih AS merasa sangat tertantang menunjukkan bahwa kualitas mereka layak diperhitungkan di sepak bola elite Eropa. Dia ingin mematahkan anggapan bahwa pemain dan pelatih AS tidak mampu bersaing di level tertinggi.
Memang, ada banyak kekhawatiran apakah McKennie bisa beradaptasi di Juve atau tidak. Tapi, itu adalah situasi yang juga dialami pemain-pemain sepak bola dari mana pun, termasuk Benua Eropa dan Amerika Selatan.
Jika McKennie berhasil, dampaknya akan sangat besar. Seri A mungkin bukan liga asing paling populer di AS, tapi semua orang tahu tentang Juve, jauh sebelum Cristiano Ronaldo (CR7) dari Real Madrid. Visibilitas klub bahkan lebih tinggi sekarang. Untuk Juve, ini bisa menjadi jalan menumbuhkan brand dan memperbesar basis fans mereka di AS, walaupun McKennie bukanlah nama yang cukup besar untuk memiliki efek semacam itu.
Bergabungnya McKennie ke Juve menjadi indikasi klub-klub elite Eropa mulai memperhitungkan kemampuan pemain-pemain asal AS. Selain McKennie, sebelumnya ada beberapa kompatriotnya, yakni Christian Pulisic, 21, yang merupakan pemain termahal sepanjang sejarah AS saat bergabung ke Chelsea senilai 58 juta poundsterling, Januari 2019. Ada lagi Tyler Adams, 21, yang membawa RB Leipzig ke semifinal Liga Champions musim lalu, Giovanni Reyna, 17, di Borussia Dortmund hingga Sergino Dest, 19, di Ajax Amsterdam.
Bukan hanya pemain, pelatih asal AS juga sedang naik daun. Jesse Marsch, 46, sukses membawa RB Salzburg menjuarai Austrian Bundesliga 2019/2020 dan Austrian Cup 2019/2020. Bukan hanya itu, Marsch menjadi pelatih pertama asal AS yang menangani tim di Liga Champions. (Baca juga: Baru Disuntik Vaksin Buatan China, Pulang dari Semarang Relawan Ini Positif Corona)
Marsch mengatakan seluruh pemain dan pelatih AS merasa sangat tertantang menunjukkan bahwa kualitas mereka layak diperhitungkan di sepak bola elite Eropa. Dia ingin mematahkan anggapan bahwa pemain dan pelatih AS tidak mampu bersaing di level tertinggi.
Lihat Juga :