Medina Warda Aulia, Pecatur Andalan Bekasi Ini Borong 3 Medali di SEA Games 2025
Selasa, 23 Desember 2025 - 12:11 WIB
Di balik meja pertandingan, tubuhnya menanggung perubahan besar sebagai calon ibu dari anak pertamanya. Setiap langkah bidak adalah keputusan. Setiap detik adalah pertaruhan. Namun Medina tetap tenang seolah kehamilan tak menghalangi kejernihan pikirannya.
Padahal, perjalanan menuju Bangkok bukan perjalanan yang mudah. Pemanggilan pelatnas catur SEA Games 2025 dimulai sejak Desember 2024, lalu terhenti pada Februari 2025 akibat efisiensi anggaran. Saat itu, Medina bahkan belum mengetahui dirinya tengah mengandung.
Pelatnas kembali berjalan singkat, lalu kembali terhenti saat usia kehamilannya masih empat pekan. Baru pada September 2025, persiapan berjalan efektif. Saat itu, kandungannya telah memasuki 16 pekan. Kini, di SEA Games, usia kehamilan Medina sudah 30 pekan tujuh bulan.
Berbeda dengan cabang lain yang menjalani pemusatan latihan penuh, Medina harus menempuh latihan mandiri. Setiap hari, ia menyetir sendiri dari Condet ke Kabupaten Bekasi untuk berlatih di Sekolah Catur Utut Adianto (SCUA).
“Capeknya lebih terasa,” katanya Medina lirih. Tidak mengeluh. Tidak meminta perlakuan istimewa.
Dalam kesunyian perjuangan itu, Medina tidak sepenuhnya sendiri. Rekan-rekan satu tim pelatnas catur menjadi sandaran membantu membawa barang, mengurus keperluan kecil, hingga membelikan kelapa muda saat ia membutuhkannya di arena SEA Games.
Padahal, perjalanan menuju Bangkok bukan perjalanan yang mudah. Pemanggilan pelatnas catur SEA Games 2025 dimulai sejak Desember 2024, lalu terhenti pada Februari 2025 akibat efisiensi anggaran. Saat itu, Medina bahkan belum mengetahui dirinya tengah mengandung.
Pelatnas kembali berjalan singkat, lalu kembali terhenti saat usia kehamilannya masih empat pekan. Baru pada September 2025, persiapan berjalan efektif. Saat itu, kandungannya telah memasuki 16 pekan. Kini, di SEA Games, usia kehamilan Medina sudah 30 pekan tujuh bulan.
Berbeda dengan cabang lain yang menjalani pemusatan latihan penuh, Medina harus menempuh latihan mandiri. Setiap hari, ia menyetir sendiri dari Condet ke Kabupaten Bekasi untuk berlatih di Sekolah Catur Utut Adianto (SCUA).
“Capeknya lebih terasa,” katanya Medina lirih. Tidak mengeluh. Tidak meminta perlakuan istimewa.
Dalam kesunyian perjuangan itu, Medina tidak sepenuhnya sendiri. Rekan-rekan satu tim pelatnas catur menjadi sandaran membantu membawa barang, mengurus keperluan kecil, hingga membelikan kelapa muda saat ia membutuhkannya di arena SEA Games.
Lihat Juga :