Piala Dunia 2026 dan Bayang-bayang Jet Pribadi Infantino
Senin, 22 Juni 2026 - 09:12 WIB
Namun, perluasan format Piala Dunia 2026 yang kini melibatkan 48 tim dan digelar di tiga negara tuan rumah membuat mobilitas tinggi semakin tak terhindarkan. Jumlah pertandingan yang meningkat dari 64 menjadi 104 laga turut memperbesar jejak perjalanan para pejabat FIFA.
Lembaga penilaian jejak karbon asal Prancis, Greenly, menyebut satu jam penerbangan jet pribadi dapat menghasilkan emisi setara dengan rata-rata emisi tahunan satu orang. Jika pola perjalanan Infantino berlanjut hingga akhir turnamen, estimasi emisi dari penerbangannya saja dapat mencapai 300 hingga 500 ton CO₂—setara jejak karbon tahunan 35 hingga 55 orang di Prancis.
FIFA sendiri membela kebijakan perjalanan para eksekutifnya dengan menyatakan bahwa penggunaan penerbangan komersial atau pribadi dipilih berdasarkan efisiensi dan biaya, serta seluruh biaya ditanggung organisasi. Namun, kritik tetap menguat. David Gogishvili, ahli geografi dari Universitas Lausanne, menyebut model penyelenggaraan Piala Dunia saat ini menciptakan "paradoks keberlanjutan", karena ketergantungan pada perjalanan udara beremisi tinggi akibat penyebaran stadion yang sangat luas.
Baca Juga: Uruguay vs Cape Verde 2-2: Tiket Fase Gugur Ditentukan di Laga Pemungkas
"Ini menormalisasi mobilitas tinggi dan memindahkan beban karbon ke wilayah tuan rumah serta para penggemar," ujar Gogishvili dikutip dari Korea Herald, Senin (22/6/2026).
Lembaga penilaian jejak karbon asal Prancis, Greenly, menyebut satu jam penerbangan jet pribadi dapat menghasilkan emisi setara dengan rata-rata emisi tahunan satu orang. Jika pola perjalanan Infantino berlanjut hingga akhir turnamen, estimasi emisi dari penerbangannya saja dapat mencapai 300 hingga 500 ton CO₂—setara jejak karbon tahunan 35 hingga 55 orang di Prancis.
FIFA sendiri membela kebijakan perjalanan para eksekutifnya dengan menyatakan bahwa penggunaan penerbangan komersial atau pribadi dipilih berdasarkan efisiensi dan biaya, serta seluruh biaya ditanggung organisasi. Namun, kritik tetap menguat. David Gogishvili, ahli geografi dari Universitas Lausanne, menyebut model penyelenggaraan Piala Dunia saat ini menciptakan "paradoks keberlanjutan", karena ketergantungan pada perjalanan udara beremisi tinggi akibat penyebaran stadion yang sangat luas.
Baca Juga: Uruguay vs Cape Verde 2-2: Tiket Fase Gugur Ditentukan di Laga Pemungkas
"Ini menormalisasi mobilitas tinggi dan memindahkan beban karbon ke wilayah tuan rumah serta para penggemar," ujar Gogishvili dikutip dari Korea Herald, Senin (22/6/2026).
Lihat Juga :