Pemerintah Gagas Pembangunan Laboratorium Doping Standar WADA
Kamis, 08 Oktober 2020 - 16:35 WIB
“Tahun depan, jumlah tes sampel akan ditingkatkan dan kita juga akan membangun laboratorium doping. Kita berharap, dengan adanya lab sendiri, jumlah tes terhadap atlet bisa terus ditingkatkan karena selama ini harus diperiksa di luar negeri,” ungkap Menpora Zainudin Amali seusai mengikuti virtual meeting dengan President WADA Witold Banka di Montreal, Kanada.
Menpora menegaskan, komitmen untuk membangun laboratorium bersertifikasi ini merupakan bentuk komitmen dari aturan penegakan antidoping. Menurut dia, pemerintah dalam hal ini Kemenpora tidak akan menoleransi semua bentuk pelanggaran dan menyiapkan sanksi berat bagi pelaku yang terlibat. (Baca juga: Miris, UU Ciptaker Tempatkan Pendidikan Sebagai Komoditas yang Diperdagangkan)
“Kami sangat mendukung program antidoping di Indonesia dan tidak menoleransi kasus doping sekecil apa pun. Komitmen peningkatan jumlah tes doping dan rencana pembangunan laboratorium doping ini juga merupakan bagian dari keseriusan kami dalam upaya bidding tuan rumah Olimpiade 2032" tambahnya.
Ketua LADI Zaini Khadafi Saragih menyatakan, ketersediaan laboratorium doping memang menjadi hal yang sangat mendesak di tengah upaya peningkatan prestasi olahraga nasional. Menurut dia, selama ini jumlah laboratorium bersertifikasi WADA memang masih sangat terbatas.
Sejauh ini, untuk memfasilitasi pemeriksaan sampel atlet, hanya tersedia 30 laboratorium di seluruh dunia. Khusus di Asia Tenggara hanya ada dua, yakni di Bangkok, Thailand dan Penang, Malaysia. Untuk atlet Indonesia, mayoritas sampel dikirim ke laboratorium di India, Qatar, atau Bangkok. Karena itu, dia menyatakan mendukung rencana Kemenpora untuk membangun laboratorium doping di Tanah Air. (Baca juga: Berpikir Positif Enyahkan Covid-19)
Menpora menegaskan, komitmen untuk membangun laboratorium bersertifikasi ini merupakan bentuk komitmen dari aturan penegakan antidoping. Menurut dia, pemerintah dalam hal ini Kemenpora tidak akan menoleransi semua bentuk pelanggaran dan menyiapkan sanksi berat bagi pelaku yang terlibat. (Baca juga: Miris, UU Ciptaker Tempatkan Pendidikan Sebagai Komoditas yang Diperdagangkan)
“Kami sangat mendukung program antidoping di Indonesia dan tidak menoleransi kasus doping sekecil apa pun. Komitmen peningkatan jumlah tes doping dan rencana pembangunan laboratorium doping ini juga merupakan bagian dari keseriusan kami dalam upaya bidding tuan rumah Olimpiade 2032" tambahnya.
Ketua LADI Zaini Khadafi Saragih menyatakan, ketersediaan laboratorium doping memang menjadi hal yang sangat mendesak di tengah upaya peningkatan prestasi olahraga nasional. Menurut dia, selama ini jumlah laboratorium bersertifikasi WADA memang masih sangat terbatas.
Sejauh ini, untuk memfasilitasi pemeriksaan sampel atlet, hanya tersedia 30 laboratorium di seluruh dunia. Khusus di Asia Tenggara hanya ada dua, yakni di Bangkok, Thailand dan Penang, Malaysia. Untuk atlet Indonesia, mayoritas sampel dikirim ke laboratorium di India, Qatar, atau Bangkok. Karena itu, dia menyatakan mendukung rencana Kemenpora untuk membangun laboratorium doping di Tanah Air. (Baca juga: Berpikir Positif Enyahkan Covid-19)
Lihat Juga :