Mercedez Ubah Warna, Livery Jadi Simbol Antirasisme
Kamis, 02 Juli 2020 - 12:32 WIB
Dia lantas berharap tindakan-tindakan kecil seperti ini bisa ditiru tim-tim lain untuk menunjukkan dukungan kepada mereka yang selalu didiskriminasi oleh kaum mayoritas.
“Saya ingin berterima kasih sebesar-besarnya kepada Toto Wolff dan Mercedes karena sudah mendengarkan dan memahami pengalaman saya menjadi korban rasisme, juga sudah mewujudkan pernyataan penting ini,” ucap Hamilton, dilansir The Guardian.
“Kami ingin membangun warisan yang melebihi F1. Jika kami bisa menjadi pemimpin perubahan dan mulai membentuk keragaman di dalam tim, itu akan mengirimkan pesan yang kuat,” tuturnya.
Sejauh ini, Hamilton memang menjadi satu-satunya pembalap kulit hitam yang berkiprah di ajang balapan jet darat tersebut. Pembalap asal Inggris itu menunjukkan bakatnya tidak kalah dengan para driver yang notabene mayoritas kulit putih. (Baca juga: Terkatung-katung, Vettel Disarankan Cuti Satu Tahun)
Terbukti, enam gelar juara dunia sudah dikoleksi pembalap kelahiran 7 Januari 1985 itu. Bahkan, dia mencetak hattrick juara dalam tiga musim terakhir.
Tidak hanya dari kalangan pembalap, ajang F1 juga terkesan kurang adil bagi negara-negara di Afrika. Jika balapan sudah digelar di Benua Eropa, Amerika, Asia, dan Australia, tidak demikian dengan Benua Hitam.
Tercatat terakhir kali balapan digelar pada 1993 di Kyalami, Afrika Selatan. Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, otoritas F1 mewacanakan untuk kembali menggelar balapan di Afrika.
“Saya ingin berterima kasih sebesar-besarnya kepada Toto Wolff dan Mercedes karena sudah mendengarkan dan memahami pengalaman saya menjadi korban rasisme, juga sudah mewujudkan pernyataan penting ini,” ucap Hamilton, dilansir The Guardian.
“Kami ingin membangun warisan yang melebihi F1. Jika kami bisa menjadi pemimpin perubahan dan mulai membentuk keragaman di dalam tim, itu akan mengirimkan pesan yang kuat,” tuturnya.
Sejauh ini, Hamilton memang menjadi satu-satunya pembalap kulit hitam yang berkiprah di ajang balapan jet darat tersebut. Pembalap asal Inggris itu menunjukkan bakatnya tidak kalah dengan para driver yang notabene mayoritas kulit putih. (Baca juga: Terkatung-katung, Vettel Disarankan Cuti Satu Tahun)
Terbukti, enam gelar juara dunia sudah dikoleksi pembalap kelahiran 7 Januari 1985 itu. Bahkan, dia mencetak hattrick juara dalam tiga musim terakhir.
Tidak hanya dari kalangan pembalap, ajang F1 juga terkesan kurang adil bagi negara-negara di Afrika. Jika balapan sudah digelar di Benua Eropa, Amerika, Asia, dan Australia, tidak demikian dengan Benua Hitam.
Tercatat terakhir kali balapan digelar pada 1993 di Kyalami, Afrika Selatan. Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, otoritas F1 mewacanakan untuk kembali menggelar balapan di Afrika.
Lihat Juga :