Tantangan Sevilla di Level Tertinggi Eropa
Senin, 24 Agustus 2020 - 11:39 WIB
loading...
A
A
A
Kesuksesan Sevilla merajai Liga Europa musim ini jelas berkat tangan dingin sang pelatih Julen Lopetegui. Sebuah pencapaian terbaiknya di level klub, mengingat kariernya sempat menimbulkan kontroversi saat meninggalkan tim nasional Spanyol (2016–2018) untuk menangani Real Madrid dan dipecat (Juli–Oktober 2018).
Kepercayaan besar diberikan Sevilla yang mengajaknya bergabung pada 5 Juni 2019 pun berbuah manis. Lopetegui pun begitu bergembira bisa membawa timnya keluar sebagai juara. Secara khusus, dia mendedikasikan trofi Liga Europa bagi dua bintangnya yang tiada Antonio Puerta dan Jose Antonio Reyes serta seluruh fans Sevilla.
“Sebuah kegembiraan besar bagi saya, seperti juga untuk semua penggemar Sevilla. Kami memiliki klub yang luar biasa, semua orang berkontribusi dan membantu kami. Ini untuk para penggemar yang tidak bisa pergi dan merayakannya di jalanan karena pandemi. Saya meminta mereka semua berhati-hati, tetapi mari kita rayakan sebisa kami. Ini untuk mereka. Ini untuk Puerta dan Reyes, dan untuk semua orang yang mencintai kita,” ungkap Lopetegui dilansir marca.
Pelatih berusia 53 tahun tersebut mengatakan apa yang dicapai Sevilla musim ini (finis di urutan ketiga Primera Liga dan juara Liga Europa) adalah hasil kerja keras seluruh anggota tim. Lopetegui menyebut itu menjadi modal penting menghadapi tantangan lebih besar pada musim depan.
“Kami telah memenangkan gelar yang sangat penting dalam skenario sangat sulit. Para pemain sangat hebat dari apa yang mereka yakini, bagaimana mereka bekerja, apa yang mereka tunjukkan. Sekalipun kami tidak menang, kami akan sama hebatnya, tapi untungnya kami menang. Kami percaya, meski menghadapi semua kesulitan, kami tidak pernah menyerah,” kata Lopetegui. (Baca juga: Zulhas Sebut Gaya Kepemimpinan Amien Rais Ibarat Pesawat)
Di sisi lain, kegembiraan Sevilla yang menjadi klub tersukses di Liga Europa terasa getir bagi Inter. Itu merupakan kekalahan pertama I Nerazzurri di final besar kompetisi Eropa untuk pertama kalinya sejak Piala UEFA 1997 ketika mereka kalah adu penalti 1-4 dari Schalke 04.
Kekalahan sekaligus memperpanjang puasa gelar Inter di berbagai ajang sejak terakhir menjuara Coppa Italia 2010/11. Kegagalan Samir Handanovic dkk membuat pelatih Antonio Conte kecewa berat. Dia menilai Inter telah berjuang sekuat tenaga dan memberikan segala upaya, namun kalah.
Kepercayaan besar diberikan Sevilla yang mengajaknya bergabung pada 5 Juni 2019 pun berbuah manis. Lopetegui pun begitu bergembira bisa membawa timnya keluar sebagai juara. Secara khusus, dia mendedikasikan trofi Liga Europa bagi dua bintangnya yang tiada Antonio Puerta dan Jose Antonio Reyes serta seluruh fans Sevilla.
“Sebuah kegembiraan besar bagi saya, seperti juga untuk semua penggemar Sevilla. Kami memiliki klub yang luar biasa, semua orang berkontribusi dan membantu kami. Ini untuk para penggemar yang tidak bisa pergi dan merayakannya di jalanan karena pandemi. Saya meminta mereka semua berhati-hati, tetapi mari kita rayakan sebisa kami. Ini untuk mereka. Ini untuk Puerta dan Reyes, dan untuk semua orang yang mencintai kita,” ungkap Lopetegui dilansir marca.
Pelatih berusia 53 tahun tersebut mengatakan apa yang dicapai Sevilla musim ini (finis di urutan ketiga Primera Liga dan juara Liga Europa) adalah hasil kerja keras seluruh anggota tim. Lopetegui menyebut itu menjadi modal penting menghadapi tantangan lebih besar pada musim depan.
“Kami telah memenangkan gelar yang sangat penting dalam skenario sangat sulit. Para pemain sangat hebat dari apa yang mereka yakini, bagaimana mereka bekerja, apa yang mereka tunjukkan. Sekalipun kami tidak menang, kami akan sama hebatnya, tapi untungnya kami menang. Kami percaya, meski menghadapi semua kesulitan, kami tidak pernah menyerah,” kata Lopetegui. (Baca juga: Zulhas Sebut Gaya Kepemimpinan Amien Rais Ibarat Pesawat)
Di sisi lain, kegembiraan Sevilla yang menjadi klub tersukses di Liga Europa terasa getir bagi Inter. Itu merupakan kekalahan pertama I Nerazzurri di final besar kompetisi Eropa untuk pertama kalinya sejak Piala UEFA 1997 ketika mereka kalah adu penalti 1-4 dari Schalke 04.
Kekalahan sekaligus memperpanjang puasa gelar Inter di berbagai ajang sejak terakhir menjuara Coppa Italia 2010/11. Kegagalan Samir Handanovic dkk membuat pelatih Antonio Conte kecewa berat. Dia menilai Inter telah berjuang sekuat tenaga dan memberikan segala upaya, namun kalah.
Lihat Juga :