Rahasia Tiga Gelar Bayern Muenchen
Selasa, 25 Agustus 2020 - 11:35 WIB
loading...
Bayern Muenchen mengembalikan supremasi Jerman di pentas sepak bola Eropa sekaligus mewujudkan treble winners musim ini. Foto/Reuters
A
A
A
LISBON - Bayern Muenchen mengembalikan supremasi Jerman di pentas sepak bola Eropa sekaligus mewujudkan treble winners musim ini seusai menang 1-0 atas Paris Saint Germain (PSG) di Final Liga Champions di Estadio do Sport, Lisbon, Portugal, Senin (24/8).
Hebatnya, Die Roten merengkuh trofi prestisius tersebut dengan torehan sempurna. Gol tunggal Kingsley Coman pada menit ke-59 menjadikan Bayern sebagai tim pertama sepanjang sejarah yang memenangkan semua pertandingan dalam perjalanan meraih gelar Liga Champions (11 pertandingan).
Rinciannya, Manuel Neuer dkk menang enam kali di fase grup, dua kali di babak 16 besar, satu kali di babak perempat final, satu kali di babak semifinal, dan satu kali di babak Final. Kualitas Bayern begitu terlihat lantaran di fase knockout menyisihkan tim-tim kuat dari tiga kompetisi top Eropa, seperti Chelsea (Liga Primer) dengan agregat 7-1 di babak 16 besar, Barcelona (Primera Liga) 8-2 saat perempat final, Olympique Lyon (Ligue 1) 3-0 fase semifinal, dan PSG (Ligue 1) 1-0 pada laga final.
![Rahasia Tiga Gelar Bayern Muenchen]()
Total ini merupakan trofi Liga Champions keenam Bayern setelah 1973–74, 1974–75, 1975–76, 2000–01, 2012–13. Mereka kini sejajar dengan Liverpool yang juga mengoleksi enam trofi. Selain itu, Bayern menjadi tim ketiga dalam sejarah Liga Champions yang mencetak 500 gol dalam kompetisi (total 500 gol), setelah Barcelona (517) dan Real Madrid (567). (Baca: Mobil Dibakar, Paris Membara Usai PSG Gagal di Final Liga Champions)
Gelar Liga Champions melengkapi torehan sensasional Bayern musim ini yang sebelumnya sukses merengkuh Bundesliga dan DFB Pokal. Keberhasilan meraih treble winners kedua sepanjang sejarah Bayern setelah era Jupp Heynckes pada musim 2012-13, membuat pelatih Hans-Dieter Flick banjir pujian.
Secara ajaib, pelatih berusia 55 tahun itu mengubah Die Roten menjadi tim klub terbaik Eropa. Liga Champions merupakan prestasi istimewa mengingat obsesi Bayern memenangkan trofi tersebut dalam beberapa tahun terakhir gagal diwujudkan pelatih sekaliber Pep Guardiola (2013–2016) dan Carlo Ancelotti (2016–2017).
Hebatnya, Die Roten merengkuh trofi prestisius tersebut dengan torehan sempurna. Gol tunggal Kingsley Coman pada menit ke-59 menjadikan Bayern sebagai tim pertama sepanjang sejarah yang memenangkan semua pertandingan dalam perjalanan meraih gelar Liga Champions (11 pertandingan).
Rinciannya, Manuel Neuer dkk menang enam kali di fase grup, dua kali di babak 16 besar, satu kali di babak perempat final, satu kali di babak semifinal, dan satu kali di babak Final. Kualitas Bayern begitu terlihat lantaran di fase knockout menyisihkan tim-tim kuat dari tiga kompetisi top Eropa, seperti Chelsea (Liga Primer) dengan agregat 7-1 di babak 16 besar, Barcelona (Primera Liga) 8-2 saat perempat final, Olympique Lyon (Ligue 1) 3-0 fase semifinal, dan PSG (Ligue 1) 1-0 pada laga final.

Total ini merupakan trofi Liga Champions keenam Bayern setelah 1973–74, 1974–75, 1975–76, 2000–01, 2012–13. Mereka kini sejajar dengan Liverpool yang juga mengoleksi enam trofi. Selain itu, Bayern menjadi tim ketiga dalam sejarah Liga Champions yang mencetak 500 gol dalam kompetisi (total 500 gol), setelah Barcelona (517) dan Real Madrid (567). (Baca: Mobil Dibakar, Paris Membara Usai PSG Gagal di Final Liga Champions)
Gelar Liga Champions melengkapi torehan sensasional Bayern musim ini yang sebelumnya sukses merengkuh Bundesliga dan DFB Pokal. Keberhasilan meraih treble winners kedua sepanjang sejarah Bayern setelah era Jupp Heynckes pada musim 2012-13, membuat pelatih Hans-Dieter Flick banjir pujian.
Secara ajaib, pelatih berusia 55 tahun itu mengubah Die Roten menjadi tim klub terbaik Eropa. Liga Champions merupakan prestasi istimewa mengingat obsesi Bayern memenangkan trofi tersebut dalam beberapa tahun terakhir gagal diwujudkan pelatih sekaliber Pep Guardiola (2013–2016) dan Carlo Ancelotti (2016–2017).
Lihat Juga :