Rahasia Tiga Gelar Bayern Muenchen
Selasa, 25 Agustus 2020 - 11:35 WIB
loading...
A
A
A
Tentu tidak ada yang berani membayangkan Flick menghasilkan musim debut kepelatihan fenomenal yang pernah ada di dunia sepak bola. Dalam hal musim debut, tidak diragukan lagi Flick adalah yang terbaik di zaman modern. Lebih baik dari musim treble Guardiola (2008–09) dan Luis Enrique (2014–15) karena keduanya menjalani pramusim bersama Barcelona dan mendapat tambahan skuat yang signifikan.
Sebaliknya, saat menggantikan Niko Kovac pada 3 November 2019, Flick sebenarnya hanya diberi tugas sebagai pelatih sementara untuk menstabilkan Bayern yang sedang krisis sebelum solusi jangka panjang ditemukan. Namun, keraguan perlahan menghilang karena Flick membuktikan kapasitasnya hingga klub memberikan kontrak sampai 2023. (Baca juga: Konflik Belarusia Bisa Memicu Perang Eropa)
Beberapa faktor menjadi senjata andalan Flick dalam membangkitkan Bayern . Pernah bermain untuk klub periode 1985–90, membuatnya paham luar dalam klub. Flick pandai mengelola para pemainnya. Jika sedang berada dalam situasi sulit, dia menerapkan Mia san Mia, sebuah moto Bayern yang berarti jalan hidup untuk menang dan mampu mendongkrak semangat tim.
Flick juga piawai meramu strategi permainan. Menerapkan permainan ofensif, cerdas, passing pendek, ketenangan bermain dari belakang, penguasaan bola yang produktif, dan transisi cepat untuk melukai lawan melalui serangan balik menjadi andalan Bayern saat menghancurkan tim-tim di kompetisi domestik maupun Eropa. Tapi, satu fondasi yang menunjukkan bagaimana Flick mengubah Bayern adalah kepercayaan. Kepercayaannya kepada pemain-pemain senior Bayern macam Thomas Mueller dan Manuel Neuer. Itu dipadukan dengan kepercayaan Flick kepada pemain muda, seperti Joshua Kimmich dan Alphonso Davies.
Permainan ofensif Bayern ditopang kinerja apik sang bomber Robert Lewandoski (55 gol) dengan dukungan Muller dan Serge Gnabry. Pendekatan personal Flick membuat pemain sangat nyaman dan menaruh rasa hormat besar. Itu memudahkan Filck mengimplementasikan taktik dan strategi yang dibutuhkan sehingga Bayern selalu tampil oke. (Baca juga: Zulhas Sebut Gaya Kepemimpinan Amien Rais Ibarat Pesawat)
Kedigdayaan Die Roten yang tidak terkalahkan dalam 30 pertandingan kompetitif terakhir ( menang 29 kali dan seri satu kali), dianggap Flick berkat kerja keras seluruh anggota tim di semua pertandingan, termasuk kemenangan atas PSG di Final Liga Champions. “Saya tidak bisa banyak bicara sekarang. Saya hanya bangga dengan tim ini. Perkembangan kami sangat sensasional, kami telah melakukan segalanya dengan luar biasa, dan bahkan memanfaatkan pandemi Covid-19 dengan baik,” ungkap Flick dilansir bundesliga.com.
Sukacita Bayern otomatis mengubur ambisi PSG yang mengincar trofi Liga Champions pertamanya. Les Parisien pun gagal mencetak gol dalam satu pertandingan di kompetisi besar Eropa untuk pertama kalinya dalam 35 pertandingan. Mereka terakhir gagal mencetak gol dalam kekalahan 1-0 dari Manchester City pada April 2016.
Sebaliknya, saat menggantikan Niko Kovac pada 3 November 2019, Flick sebenarnya hanya diberi tugas sebagai pelatih sementara untuk menstabilkan Bayern yang sedang krisis sebelum solusi jangka panjang ditemukan. Namun, keraguan perlahan menghilang karena Flick membuktikan kapasitasnya hingga klub memberikan kontrak sampai 2023. (Baca juga: Konflik Belarusia Bisa Memicu Perang Eropa)
Beberapa faktor menjadi senjata andalan Flick dalam membangkitkan Bayern . Pernah bermain untuk klub periode 1985–90, membuatnya paham luar dalam klub. Flick pandai mengelola para pemainnya. Jika sedang berada dalam situasi sulit, dia menerapkan Mia san Mia, sebuah moto Bayern yang berarti jalan hidup untuk menang dan mampu mendongkrak semangat tim.
Flick juga piawai meramu strategi permainan. Menerapkan permainan ofensif, cerdas, passing pendek, ketenangan bermain dari belakang, penguasaan bola yang produktif, dan transisi cepat untuk melukai lawan melalui serangan balik menjadi andalan Bayern saat menghancurkan tim-tim di kompetisi domestik maupun Eropa. Tapi, satu fondasi yang menunjukkan bagaimana Flick mengubah Bayern adalah kepercayaan. Kepercayaannya kepada pemain-pemain senior Bayern macam Thomas Mueller dan Manuel Neuer. Itu dipadukan dengan kepercayaan Flick kepada pemain muda, seperti Joshua Kimmich dan Alphonso Davies.
Permainan ofensif Bayern ditopang kinerja apik sang bomber Robert Lewandoski (55 gol) dengan dukungan Muller dan Serge Gnabry. Pendekatan personal Flick membuat pemain sangat nyaman dan menaruh rasa hormat besar. Itu memudahkan Filck mengimplementasikan taktik dan strategi yang dibutuhkan sehingga Bayern selalu tampil oke. (Baca juga: Zulhas Sebut Gaya Kepemimpinan Amien Rais Ibarat Pesawat)
Kedigdayaan Die Roten yang tidak terkalahkan dalam 30 pertandingan kompetitif terakhir ( menang 29 kali dan seri satu kali), dianggap Flick berkat kerja keras seluruh anggota tim di semua pertandingan, termasuk kemenangan atas PSG di Final Liga Champions. “Saya tidak bisa banyak bicara sekarang. Saya hanya bangga dengan tim ini. Perkembangan kami sangat sensasional, kami telah melakukan segalanya dengan luar biasa, dan bahkan memanfaatkan pandemi Covid-19 dengan baik,” ungkap Flick dilansir bundesliga.com.
Sukacita Bayern otomatis mengubur ambisi PSG yang mengincar trofi Liga Champions pertamanya. Les Parisien pun gagal mencetak gol dalam satu pertandingan di kompetisi besar Eropa untuk pertama kalinya dalam 35 pertandingan. Mereka terakhir gagal mencetak gol dalam kekalahan 1-0 dari Manchester City pada April 2016.
Lihat Juga :