Masa Kecil Dmitry Bivol, Bertinju dengan Sepatu Balet dan Bertarung di Jalanan
Kamis, 10 Oktober 2024 - 15:38 WIB
loading...
A
A
A
Meskipun orang tuanya berusaha keras untuk menafkahi keluarga, Bivol memilih untuk bertanggung jawab atas nasibnya sendiri. Tumbuh di jalanan yang keras di Kirgistan pasca-Soviet, dia mengembangkan hasrat untuk berkelahi di jalanan, kenyataan yang sering terjadi di lingkungannya yang keras.
Perkelahian di jalanan, yang sering dianggap sebagai cara untuk menyelesaikan perselisihan atau menghabiskan waktu, menjadi bagian rutin masa kecil Bivol. "Terkadang kami berkelahi untuk bersenang-senang," akunya.
Baca juga; Jab Maut Dmitry Bivol Senjata Penakluk Saul Canelo Alvarez
Namun, ada satu aturan tak tertulis dalam perkelahian ini: setelah darah bercucuran, perkelahian berakhir. Namun, kekerasan dapat meningkat dengan cepat, dan Bivol tahu bahwa hal ini dapat mengakibatkan konsekuensi yang lebih berbahaya.
Untuk mencari cara menyalurkan agresinya, Bivol mulai bertinju karena merasa lingkungan yang terstruktur akan mengajarkannya disiplin sekaligus memungkinkannya mengekspresikan kecintaannya pada pertarungan.
![Masa Kecil Dmitry Bivol, Bertinju dengan Sepatu Balet dan Bertarung di Jalanan]()
“Dulu saya sering berkelahi di jalanan,” kata Bivol dikutip SINDOnews dari laman Daily Mail, Kamis (10/10/2024). "Kami melakukannya untuk bersenang-senang, ketika kami sedang nongkrong,” lanjutnya.
Bertinju di jalanan kadang dilakukan untuk menyelesaikan masalah ketika terjadi konflik yang menemui jalan buntu. “Namun, selalu ada dua aturan. Kami akan berkelahi dan berhenti sampai seseorang mulai berdarah atau ada yang meneteskan air mata,” ujarnya.
Perkelahian di jalanan, yang sering dianggap sebagai cara untuk menyelesaikan perselisihan atau menghabiskan waktu, menjadi bagian rutin masa kecil Bivol. "Terkadang kami berkelahi untuk bersenang-senang," akunya.
Baca juga; Jab Maut Dmitry Bivol Senjata Penakluk Saul Canelo Alvarez
Namun, ada satu aturan tak tertulis dalam perkelahian ini: setelah darah bercucuran, perkelahian berakhir. Namun, kekerasan dapat meningkat dengan cepat, dan Bivol tahu bahwa hal ini dapat mengakibatkan konsekuensi yang lebih berbahaya.
Untuk mencari cara menyalurkan agresinya, Bivol mulai bertinju karena merasa lingkungan yang terstruktur akan mengajarkannya disiplin sekaligus memungkinkannya mengekspresikan kecintaannya pada pertarungan.

“Dulu saya sering berkelahi di jalanan,” kata Bivol dikutip SINDOnews dari laman Daily Mail, Kamis (10/10/2024). "Kami melakukannya untuk bersenang-senang, ketika kami sedang nongkrong,” lanjutnya.
Bertinju di jalanan kadang dilakukan untuk menyelesaikan masalah ketika terjadi konflik yang menemui jalan buntu. “Namun, selalu ada dua aturan. Kami akan berkelahi dan berhenti sampai seseorang mulai berdarah atau ada yang meneteskan air mata,” ujarnya.
Lihat Juga :