Profil Simon Tahamata, Legenda Belanda Keturunan Maluku Jadi Kepala Pemandu Bakat Timnas Indonesia?
Selasa, 20 Mei 2025 - 07:06 WIB
loading...
A
A
A
Dalam peran barunya, Tahamata akan bertanggung jawab untuk mencari bakat, baik di Indonesia sendiri maupun di antara pemain keturunan Indonesia di luar negeri, termasuk Belanda. Penunjukan ini sesuai dengan visi jangka panjang Persatuan Sepak Bola Indonesia yang berkomitmen pada pengembangan menuju Piala Dunia 2026. Meski demikian, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari PSSI terkait kabar mengenai Simon Tahamata ini.
Simon Tahamata, nama yang mungkin tak sefamiliar Johan Cruyff atau Marco van Basten bagi generasi kini, namun bagi para penggemar sepak bola Belanda era 70-an dan 80-an, ia adalah sosok winger lincah dan penuh talenta yang menghiasi lapangan hijau. Lahir di Vught, Belanda, pada tanggal 26 Mei 1956, darah Maluku yang mengalir dalam dirinya memberikan warna tersendiri dalam gaya bermainnya yang eksotis dan sulit ditebak.
Tahamata memulai karier profesionalnya di Ajax Amsterdam pada 1976. Di bawah asuhan pelatih legendaris Rinus Michels dan kemudian Leo Beenhakker, ia dengan cepat menunjukkan potensi luar biasanya. Kecepatan, dribbling yang memukau, dan umpan-umpan silang akurat menjadi ciri khas permainannya di sisi sayap.
Simon menjadi bagian penting dari skuad Ajax yang meraih berbagai gelar domestik, termasuk dua gelar Eredivisie (1976-77, 1978-79) dan satu Piala KNVB (1978-79).
Baca Juga: Drawing Piala Dunia Mini Football 2025, Debut Timnas Indonesia
Keberhasilannya di Ajax membawanya ke Standard Liege di Belgia pada 1980. Di sana, ia semakin matang sebagai pemain dan menjadi salah satu bintang utama tim. Bersama Standard Liege, Simon meraih dua gelar Liga Belgia secara beruntun (1981-82, 1982-83) dan mencapai final Piala Winners UEFA pada tahun 1982, meskipun akhirnya kalah dari Barcelona.
Profil Simon Tahamata
Simon Tahamata, nama yang mungkin tak sefamiliar Johan Cruyff atau Marco van Basten bagi generasi kini, namun bagi para penggemar sepak bola Belanda era 70-an dan 80-an, ia adalah sosok winger lincah dan penuh talenta yang menghiasi lapangan hijau. Lahir di Vught, Belanda, pada tanggal 26 Mei 1956, darah Maluku yang mengalir dalam dirinya memberikan warna tersendiri dalam gaya bermainnya yang eksotis dan sulit ditebak.
Tahamata memulai karier profesionalnya di Ajax Amsterdam pada 1976. Di bawah asuhan pelatih legendaris Rinus Michels dan kemudian Leo Beenhakker, ia dengan cepat menunjukkan potensi luar biasanya. Kecepatan, dribbling yang memukau, dan umpan-umpan silang akurat menjadi ciri khas permainannya di sisi sayap.
Simon menjadi bagian penting dari skuad Ajax yang meraih berbagai gelar domestik, termasuk dua gelar Eredivisie (1976-77, 1978-79) dan satu Piala KNVB (1978-79).
Baca Juga: Drawing Piala Dunia Mini Football 2025, Debut Timnas Indonesia
Keberhasilannya di Ajax membawanya ke Standard Liege di Belgia pada 1980. Di sana, ia semakin matang sebagai pemain dan menjadi salah satu bintang utama tim. Bersama Standard Liege, Simon meraih dua gelar Liga Belgia secara beruntun (1981-82, 1982-83) dan mencapai final Piala Winners UEFA pada tahun 1982, meskipun akhirnya kalah dari Barcelona.
Lihat Juga :