Supercomputer Opta Bocorkan Pemenang Final Liga Champions 2024/2025, PSG atau Inter Milan?
Sabtu, 31 Mei 2025 - 06:47 WIB
loading...
A
A
A
Solidnya pertahanan Inter tercermin dari persentase waktu mereka tertinggal dalam pertandingan Liga Champions musim ini, hanya 1,2 persen dari total waktu bermain. Mereka hanya tertinggal dalam tiga pertandingan, dan itupun tidak pernah lebih dari 370 detik.
Namun, Inter tidak hanya mengandalkan pertahanan rapat. Mereka juga mampu menunjukkan ketajaman di lini depan dengan mencetak 26 gol Liga Champions musim ini, menyamai rekor gol terbanyak mereka dalam satu musim kompetisi Eropa (2002-2003). Inter juga berpotensi menjadi tim ketiga yang mencetak minimal dua gol di setiap laga babak gugur hingga final, setelah Real Madrid (1959-1960) dan AC Milan (1993-1994).
Martinez berambisi menjadi pemain Inter pertama yang mencetak 10 gol dalam satu musim kompetisi Eropa. Meskipun memiliki sejarah panjang di kompetisi Eropa, ini akan menjadi pertemuan kompetitif pertama antara Inter dan PSG. Final ini juga menjadi debut pertemuan taktik antara Luis Enrique dan Simone Inzaghi.
Inter memiliki sedikit keunggulan dalam pengalaman di final Eropa, dengan tujuh penampilan dan tiga gelar juara. Namun, mereka kalah dalam final terakhir mereka melawan Manchester City pada 2023. PSG sendiri baru akan menjalani final Liga Champions kedua mereka.
Menariknya, supercomputer Opta memberikan keunggulan tipis kepada PSG. Dalam 10.000 simulasi pra-pertandingan, PSG keluar sebagai pemenang dalam 44,6 persen skenario dalam waktu 90 menit, sementara Inter hanya 29 persen.
Sisanya, 26,4 persen pertandingan berlanjut ke perpanjangan waktu dan berpotensi adu penalti. Secara keseluruhan, model Opta memfavoritkan PSG untuk mengangkat trofi dengan peluang 56,6 persen, berbanding 43,4 persen untuk Inter.
Namun, Inter tidak hanya mengandalkan pertahanan rapat. Mereka juga mampu menunjukkan ketajaman di lini depan dengan mencetak 26 gol Liga Champions musim ini, menyamai rekor gol terbanyak mereka dalam satu musim kompetisi Eropa (2002-2003). Inter juga berpotensi menjadi tim ketiga yang mencetak minimal dua gol di setiap laga babak gugur hingga final, setelah Real Madrid (1959-1960) dan AC Milan (1993-1994).
Duel Bintang di Lini Depan
Final ini juga akan menjadi panggung bagi para penyerang top Eropa. Ousmane Dembele tampil memukau untuk PSG dengan terlibat langsung dalam 12 gol Liga Champions (delapan gol, empat assist), terbanyak bagi pemain PSG dalam satu musim. Sementara itu, Lautaro Martinez menjadi motor serangan Inter dengan mencetak gol di babak 16 besar, perempat final, dan semifinal.Martinez berambisi menjadi pemain Inter pertama yang mencetak 10 gol dalam satu musim kompetisi Eropa. Meskipun memiliki sejarah panjang di kompetisi Eropa, ini akan menjadi pertemuan kompetitif pertama antara Inter dan PSG. Final ini juga menjadi debut pertemuan taktik antara Luis Enrique dan Simone Inzaghi.
Inter memiliki sedikit keunggulan dalam pengalaman di final Eropa, dengan tujuh penampilan dan tiga gelar juara. Namun, mereka kalah dalam final terakhir mereka melawan Manchester City pada 2023. PSG sendiri baru akan menjalani final Liga Champions kedua mereka.
Menariknya, supercomputer Opta memberikan keunggulan tipis kepada PSG. Dalam 10.000 simulasi pra-pertandingan, PSG keluar sebagai pemenang dalam 44,6 persen skenario dalam waktu 90 menit, sementara Inter hanya 29 persen.
Sisanya, 26,4 persen pertandingan berlanjut ke perpanjangan waktu dan berpotensi adu penalti. Secara keseluruhan, model Opta memfavoritkan PSG untuk mengangkat trofi dengan peluang 56,6 persen, berbanding 43,4 persen untuk Inter.
(yov)
Lihat Juga :