Jai Opetaia Petinju Tak Terkalahkan Rekor 28-0, Siapa Sanggup Stop sang Raja IBF?
Senin, 09 Juni 2025 - 06:41 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Junto Nakatani Lukai Mata Ryosuke Nishida, Menang TKO, Satukan Sabuk WBC dan IBF
Ia juga mampu menyarangkan serangan di bawah garis mata Opetaia, yang, terutama pada ronde kedua, membuat petinju Australia itu mengalami satu atau dua masalah kecil. Hal ini terjadi karena Squeo datang dengan posisi rendah dan Opetaia, dengan punggungnya di tali ring, menerima begitu saja bahwa ia akan dapat mencekik dan mengendalikan atlet Italia itu dari jarak dekat.
Terkadang ia benar, dan memang benar, namun sesekali Squeo berhasil lolos dengan satu atau dua serangan. Ia juga meraih kesuksesan pada ronde ketiga, dimana Squeo mendaratkan pukulan kanan yang solid dalam tiga kesempatan terpisah.
Opetaia, yang menjadi target terbuka, bergeming oleh pukulan-pukulan ini, namun itu adalah sebuah peringatan. Mereka mengingatkannya bahwa ada petarung lain di dalam ring dan bahwa laga ini, meskipun tidak seimbang, tidak akan menang dengan sendirinya. Ia harus maju dan menegaskan dominasinya.
Itulah yang dilakukan Opetaia pada ronde ketiga, mungkin sebagai jawaban atas pukulan kanan tersebut. Sedikit demi sedikit, Opetaia mulai mendesak Squeo ke posisi bertahan dan mengambil kendali, menusuk pertahanannya dengan cross kidalnya dan menghukumnya dengan serangan balik melalui hook kanan kapanpun Squeo menyerang dengan pukulan kirinya.
Satu serangan khusus, sebuah uppercut kanan dari jarak dekat, memicu Squeo untuk segera masuk ke dalam posisi clinch; tanda pertama bahwa ia mulai merasakan kekuatan lawannya. Pola ini berlanjut sampai ronde keempat dan pada ronde tersebut, Opetaia menyarangkan sebuah uppercut kiri ke tubuh Squeo dan membuat sang penantang itu berlutut.
Baca Juga: Pertaruhan Terakhir Manny Pacquiao: Nekat Atau Cuma Pertarungan Dagangan?
Ia juga mampu menyarangkan serangan di bawah garis mata Opetaia, yang, terutama pada ronde kedua, membuat petinju Australia itu mengalami satu atau dua masalah kecil. Hal ini terjadi karena Squeo datang dengan posisi rendah dan Opetaia, dengan punggungnya di tali ring, menerima begitu saja bahwa ia akan dapat mencekik dan mengendalikan atlet Italia itu dari jarak dekat.
Terkadang ia benar, dan memang benar, namun sesekali Squeo berhasil lolos dengan satu atau dua serangan. Ia juga meraih kesuksesan pada ronde ketiga, dimana Squeo mendaratkan pukulan kanan yang solid dalam tiga kesempatan terpisah.
Opetaia, yang menjadi target terbuka, bergeming oleh pukulan-pukulan ini, namun itu adalah sebuah peringatan. Mereka mengingatkannya bahwa ada petarung lain di dalam ring dan bahwa laga ini, meskipun tidak seimbang, tidak akan menang dengan sendirinya. Ia harus maju dan menegaskan dominasinya.
Itulah yang dilakukan Opetaia pada ronde ketiga, mungkin sebagai jawaban atas pukulan kanan tersebut. Sedikit demi sedikit, Opetaia mulai mendesak Squeo ke posisi bertahan dan mengambil kendali, menusuk pertahanannya dengan cross kidalnya dan menghukumnya dengan serangan balik melalui hook kanan kapanpun Squeo menyerang dengan pukulan kirinya.
Satu serangan khusus, sebuah uppercut kanan dari jarak dekat, memicu Squeo untuk segera masuk ke dalam posisi clinch; tanda pertama bahwa ia mulai merasakan kekuatan lawannya. Pola ini berlanjut sampai ronde keempat dan pada ronde tersebut, Opetaia menyarangkan sebuah uppercut kiri ke tubuh Squeo dan membuat sang penantang itu berlutut.
Baca Juga: Pertaruhan Terakhir Manny Pacquiao: Nekat Atau Cuma Pertarungan Dagangan?
Lihat Juga :