Triple Crown: Mahkota Tersulit di Dunia Pacuan Kuda, Indonesia di Ambang Sejarah Baru!
Kamis, 10 Juli 2025 - 10:00 WIB
loading...
A
A
A
Sepanjang sejarah PORDASI, baru dua kuda saja yang berhasil meraih gelar Triple Crown: Manik Trisula pada 2002 dan Djohar Manik pada 2014. Sejak itu, satu dekade lebih, mahkota itu hanya menjadi kenangan indah yang sulit diulang.
Ketua Komisi Pacu PP PORDASI, Munawir, menjelaskan bahwa Triple Crown Indonesia menuntut daya tahan luar biasa, konsistensi tak tergoyahkan, strategi cermat, dan kesiapan menghadapi berbagai tantangan. "Realistis saja," ujar Munawir singkat, dalam keterangan persnya, Kamis (10/7/2025).
Munawir menjelaskan mengapa jarak Derby tidak dibuat sejauh 2.400 meter seperti di luar negeri. Karena, kata dia, kuda-kuda di sini belum kuat jaraknya sepanjang itu. Seperti di kebanyakan negara, kriteria peserta Triple Crown Indonesia juga adalah kuda berumur 3 tahun, yang berarti hanya ada satu peluang seumur hidup untuk meraih gelar bergengsi ini.
Kini, olahraga pacuan kuda di Indonesia berada di ambang pintu terciptanya sejarah baru Triple Crown. Setelah kemenangan di Indonesia’s Horse Racing (IHR) – Triple Crown Serie 1 pada April dan IHR – Triple Crown Serie 2 pada Mei lalu, rangkaian perebutan gelar Triple Crown 2025 di Indonesia tinggal menyisakan satu lagi kejuaraan: IHR – Kejurnas Serie 1 Indonesia Derby atau IHR – Indonesia Derby pada 27 Juli mendatang.
King Argentine, kuda perkasa yang telah memenangkan Kelas 3 Tahun Derby di dua seri sebelumnya, kini menghidupkan peluang untuk menjadi kuda ketiga peraih gelar Triple Crown di Indonesia. Selangkah lagi, dan kita semua berharap dapat melihat terukirnya sejarah baru di lintasan pacuan kuda Tanah Air.
Triple Crown bukan sekadar tiga kemenangan. Ini adalah ujian kesempurnaan tentang ketangguhan fisik, kecepatan yang konsisten, strategi matang, dan keberuntungan yang berpihak. Banyak yang mencoba, hanya sedikit yang berhasil – sejarah di seluruh dunia telah membuktikan. Kini, Indonesia menanti apakah pada 27 Juli nanti, mahkota itu akan kembali menemukan tuannya
Ketua Komisi Pacu PP PORDASI, Munawir, menjelaskan bahwa Triple Crown Indonesia menuntut daya tahan luar biasa, konsistensi tak tergoyahkan, strategi cermat, dan kesiapan menghadapi berbagai tantangan. "Realistis saja," ujar Munawir singkat, dalam keterangan persnya, Kamis (10/7/2025).
Munawir menjelaskan mengapa jarak Derby tidak dibuat sejauh 2.400 meter seperti di luar negeri. Karena, kata dia, kuda-kuda di sini belum kuat jaraknya sepanjang itu. Seperti di kebanyakan negara, kriteria peserta Triple Crown Indonesia juga adalah kuda berumur 3 tahun, yang berarti hanya ada satu peluang seumur hidup untuk meraih gelar bergengsi ini.
Di Ambang Pintu Sejarah Baru: King Argentine Menuju Triple Crown 2025
Kini, olahraga pacuan kuda di Indonesia berada di ambang pintu terciptanya sejarah baru Triple Crown. Setelah kemenangan di Indonesia’s Horse Racing (IHR) – Triple Crown Serie 1 pada April dan IHR – Triple Crown Serie 2 pada Mei lalu, rangkaian perebutan gelar Triple Crown 2025 di Indonesia tinggal menyisakan satu lagi kejuaraan: IHR – Kejurnas Serie 1 Indonesia Derby atau IHR – Indonesia Derby pada 27 Juli mendatang.
King Argentine, kuda perkasa yang telah memenangkan Kelas 3 Tahun Derby di dua seri sebelumnya, kini menghidupkan peluang untuk menjadi kuda ketiga peraih gelar Triple Crown di Indonesia. Selangkah lagi, dan kita semua berharap dapat melihat terukirnya sejarah baru di lintasan pacuan kuda Tanah Air.
Triple Crown bukan sekadar tiga kemenangan. Ini adalah ujian kesempurnaan tentang ketangguhan fisik, kecepatan yang konsisten, strategi matang, dan keberuntungan yang berpihak. Banyak yang mencoba, hanya sedikit yang berhasil – sejarah di seluruh dunia telah membuktikan. Kini, Indonesia menanti apakah pada 27 Juli nanti, mahkota itu akan kembali menemukan tuannya
(yov)
Lihat Juga :