Kontroversi Taylor Townsend yang Menghina Hidangan Lokal China
Jum'at, 26 September 2025 - 12:42 WIB
loading...
Kisah Petenis Nomor 1 Dunia Taylor Townsend Hina Hidangan Lokal China
A
A
A
JAKARTA – - Karier Taylor Townsend di lapangan tenis kerap diwarnai sorotan, bukan hanya karena prestasinya tetapi juga kontroversi di luar arena. Baru-baru ini, petenis Amerika Serikat berusia 29 tahun itu kembali menuai kritik tajam setelah komentarnya tentang makanan tradisional China dianggap menghina budaya setempat.
Nama Townsend sebelumnya sudah ramai dibicarakan di US Open 2025. Kala itu, ia terlibat perseteruan dengan Jelena Ostapenko. Usai pertandingan, Ostapenko melontarkan komentar pedas dengan menyebut Townsend “tidak punya kelas” dan “tidak berpendidikan.” Ucapan itu memicu tudingan rasisme, meski kemudian Ostapenko meminta maaf dan mengaku salah ucap. Townsend sendiri menepis anggapan bahwa ia menjadi korban serangan rasial, namun peristiwa itu membuat namanya mencuat ke pemberitaan internasional.
Belum genap sebulan setelah insiden tersebut, Townsend kembali menjadi buah bibir. Saat memperkuat tim Amerika di Billie Jean King Cup Finals 2025 di Shenzhen, China, ia mengunggah video di Instagram yang memperlihatkan dirinya bersama rekan setim sedang melihat menu jamuan resmi turnamen. Beberapa hidangan khas, seperti teripang, kura-kura, dan kodok, justru ia komentari dengan ekspresi jijik dan nada meremehkan.
Unggahan itu langsung viral dan memicu reaksi keras di media sosial. Tagar bertema penghinaan terhadap makanan China sempat menjadi tren di platform Weibo. Warganet menilai komentar Townsend sangat tidak sensitif. “Kalau tidak suka, cukup diam. Jangan merendahkan budaya orang lain,” tulis seorang pengguna X.
Banyak penggemar tenis yang sebelumnya mendukung Townsend juga menyatakan kecewa. Seorang netizen menulis, “Saya sudah sering membela Taylor, tapi kali ini benar-benar tidak pantas. Jangan ejek budaya lain.”
Menyadari besarnya reaksi publik, Townsend akhirnya mengunggah video permintaan maaf. Ia menyatakan penyesalan mendalam atas komentar yang ia buat.
“Saya sangat bersyukur bisa keliling dunia dan belajar dari perbedaan budaya. Komentar saya tidak mewakili siapa saya sebenarnya. Tidak ada alasan, tidak ada kata-kata, dan bagi saya, saya harus menjadi lebih baik,” ujar Townsend.
Ia juga menambahkan bahwa selama di Shenzhen, ia justru mendapat pengalaman yang menyenangkan. “Turnamen ini sangat baik, semua orang ramah, dan saya merasa terhormat bisa berada di sini,” ucapnya.
Kasus ini tentu mencoreng persiapan tim Amerika yang dijadwalkan menghadapi Kazakhstan di babak perempat final Billie Jean King Cup. Townsend, yang kini menempati peringkat satu dunia di nomor ganda, seharusnya menjadi salah satu andalan tim. Namun, sorotan publik terlanjur bergeser pada perilakunya di luar lapangan.
Ironisnya, hanya dalam waktu singkat, Townsend pernah berada di dua posisi berbeda: sebagai korban komentar merendahkan di US Open, dan kini sebagai pelaku penghinaan terhadap budaya kuliner negara lain. Perjalanan kariernya mengingatkan bahwa reputasi atlet dunia tidak hanya ditentukan oleh performa di lapangan, tetapi juga sikap dan sensitivitas mereka dalam menghadapi keberagaman budaya.
Nama Townsend sebelumnya sudah ramai dibicarakan di US Open 2025. Kala itu, ia terlibat perseteruan dengan Jelena Ostapenko. Usai pertandingan, Ostapenko melontarkan komentar pedas dengan menyebut Townsend “tidak punya kelas” dan “tidak berpendidikan.” Ucapan itu memicu tudingan rasisme, meski kemudian Ostapenko meminta maaf dan mengaku salah ucap. Townsend sendiri menepis anggapan bahwa ia menjadi korban serangan rasial, namun peristiwa itu membuat namanya mencuat ke pemberitaan internasional.
Belum genap sebulan setelah insiden tersebut, Townsend kembali menjadi buah bibir. Saat memperkuat tim Amerika di Billie Jean King Cup Finals 2025 di Shenzhen, China, ia mengunggah video di Instagram yang memperlihatkan dirinya bersama rekan setim sedang melihat menu jamuan resmi turnamen. Beberapa hidangan khas, seperti teripang, kura-kura, dan kodok, justru ia komentari dengan ekspresi jijik dan nada meremehkan.
Komentar yang Memicu Kemarahan
Dalam video tersebut, Townsend sempat berkata, “Apa-apaan ini? Orang-orang benar-benar memakan ini?” Ia juga menilai sajian itu hanya layak mendapat skor “dua dari sepuluh.” Bahkan, dengan nada bercanda, ia menyebut dirinya “harus bicara dengan HR” dan mempertanyakan apakah kodok banteng beracun.Unggahan itu langsung viral dan memicu reaksi keras di media sosial. Tagar bertema penghinaan terhadap makanan China sempat menjadi tren di platform Weibo. Warganet menilai komentar Townsend sangat tidak sensitif. “Kalau tidak suka, cukup diam. Jangan merendahkan budaya orang lain,” tulis seorang pengguna X.
Banyak penggemar tenis yang sebelumnya mendukung Townsend juga menyatakan kecewa. Seorang netizen menulis, “Saya sudah sering membela Taylor, tapi kali ini benar-benar tidak pantas. Jangan ejek budaya lain.”
Menyadari besarnya reaksi publik, Townsend akhirnya mengunggah video permintaan maaf. Ia menyatakan penyesalan mendalam atas komentar yang ia buat.
“Saya sangat bersyukur bisa keliling dunia dan belajar dari perbedaan budaya. Komentar saya tidak mewakili siapa saya sebenarnya. Tidak ada alasan, tidak ada kata-kata, dan bagi saya, saya harus menjadi lebih baik,” ujar Townsend.
Ia juga menambahkan bahwa selama di Shenzhen, ia justru mendapat pengalaman yang menyenangkan. “Turnamen ini sangat baik, semua orang ramah, dan saya merasa terhormat bisa berada di sini,” ucapnya.
Kasus ini tentu mencoreng persiapan tim Amerika yang dijadwalkan menghadapi Kazakhstan di babak perempat final Billie Jean King Cup. Townsend, yang kini menempati peringkat satu dunia di nomor ganda, seharusnya menjadi salah satu andalan tim. Namun, sorotan publik terlanjur bergeser pada perilakunya di luar lapangan.
Ironisnya, hanya dalam waktu singkat, Townsend pernah berada di dua posisi berbeda: sebagai korban komentar merendahkan di US Open, dan kini sebagai pelaku penghinaan terhadap budaya kuliner negara lain. Perjalanan kariernya mengingatkan bahwa reputasi atlet dunia tidak hanya ditentukan oleh performa di lapangan, tetapi juga sikap dan sensitivitas mereka dalam menghadapi keberagaman budaya.
(sto)
Lihat Juga :