Peringatan 3 Tahun Tragedi Kanjuruhan, Keluarga Korban Masih Tuntut Keadilan
Kamis, 02 Oktober 2025 - 08:42 WIB
loading...
Keluarga korban tragedi Kanjuruhan menggelar doa bersama di Gate 13 Stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, mengenang peristiwa yang menewaskan 135 orang. Foto: SINDOnews/Avirista Midaada
A
A
A
MALANG - Tiga tahun setelah Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 135 orang, Arema FC bersama keluarga korban dan masyarakat Malang menggelar doa bersama di dua lokasi, yakni kantor Arema FC dan Stadion Kanjuruhan, Rabu (1/10/2025).
Di kantor Arema FC , sejumlah pemain, manajemen klub, dan keluarga korban mengikuti pembacaan Yasin serta tahlil. Suasana haru begitu terasa, banyak peserta yang tak kuasa menahan air mata ketika mendoakan para korban yang gugur pada 1 Oktober 2022 lalu.
Baca Juga: Megahnya Stadion Kanjuruhan Malang usai Direvitalisasi, Begini Penampakan Pintu 13
Pada malam harinya, ribuan orang kembali berkumpul di halaman Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang. Doa bersama dipadukan dengan tabligh akbar, terutama di sekitar pintu 13 yang menjadi titik paling banyak korban berjatuhan.
Area tersebut kini ditata lebih rapi, dengan bunga dan wangi minyak sebagai simbol penghormatan. Sejumlah bagian asli stadion tetap dipertahankan sebagai saksi bisu tragedi, dan direncanakan menjadi museum peringatan.
Nuri Hidayat, keluarga korban yang kehilangan Jovan Revallino, menyebut peringatan tiga tahun ini bukan sekadar mengenang, tetapi juga pengingat agar tragedi serupa tidak terulang.
“Doa ini untuk merawat ingatan. Jika kita melupakan, maka bukan tidak mungkin Kanjuruhan akan terulang kembali,” ujarnya.
Meski secara spiritual keluarganya mencoba ikhlas, Nuri menegaskan perjuangan mencari keadilan belum berhenti. “Hablumminallah kami ikhlas, tapi hablumminannas kami masih dongkol. Ada aktor-aktor yang belum tersentuh hukum, meski lima orang sudah divonis bersalah,” tegasnya.
Ia menambahkan, beberapa keluarga korban masih menempuh jalur hukum, termasuk melanjutkan banding ke Mabes Polri dan meminta audiensi dengan Komisi III DPR RI.
Sementara itu, General Manager Arema FC, Muhammad Yusrinal Fitriandi, menyampaikan duka mendalam yang tidak akan pernah hilang.
“Duka Kanjuruhan adalah duka abadi. Kami mewakili Arema FC sekali lagi memohon maaf yang sebesar-besarnya, terutama kepada keluarga korban, bila ikhtiar kami belum sepenuhnya memenuhi harapan,” ucapnya.
Yusrinal menegaskan, tragedi ini harus menjadi titik balik untuk membangun masa depan sepak bola Indonesia yang lebih manusiawi. Ia mencontohkan hubungan harmonis antara Aremania dan suporter klub lain sebagai wujud paradigma baru dukungan yang sehat.
“Keamanan dan kehormatan di stadion adalah tanggung jawab kita bersama. Tidak ada yang bisa menggantikan kehilangan, tapi kami berkomitmen untuk terus berjalan bersama keluarga korban,” katanya.
Agenda peringatan tiga tahun Tragedi Kanjuruhan ini juga diikuti jajaran karyawan, pelatih, dan staf Arema FC Football Academy sebagai bentuk penghormatan sekaligus pengingat bagi generasi mendatang.
Di kantor Arema FC , sejumlah pemain, manajemen klub, dan keluarga korban mengikuti pembacaan Yasin serta tahlil. Suasana haru begitu terasa, banyak peserta yang tak kuasa menahan air mata ketika mendoakan para korban yang gugur pada 1 Oktober 2022 lalu.
Baca Juga: Megahnya Stadion Kanjuruhan Malang usai Direvitalisasi, Begini Penampakan Pintu 13
Pada malam harinya, ribuan orang kembali berkumpul di halaman Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang. Doa bersama dipadukan dengan tabligh akbar, terutama di sekitar pintu 13 yang menjadi titik paling banyak korban berjatuhan.
Area tersebut kini ditata lebih rapi, dengan bunga dan wangi minyak sebagai simbol penghormatan. Sejumlah bagian asli stadion tetap dipertahankan sebagai saksi bisu tragedi, dan direncanakan menjadi museum peringatan.
Nuri Hidayat, keluarga korban yang kehilangan Jovan Revallino, menyebut peringatan tiga tahun ini bukan sekadar mengenang, tetapi juga pengingat agar tragedi serupa tidak terulang.
“Doa ini untuk merawat ingatan. Jika kita melupakan, maka bukan tidak mungkin Kanjuruhan akan terulang kembali,” ujarnya.
Meski secara spiritual keluarganya mencoba ikhlas, Nuri menegaskan perjuangan mencari keadilan belum berhenti. “Hablumminallah kami ikhlas, tapi hablumminannas kami masih dongkol. Ada aktor-aktor yang belum tersentuh hukum, meski lima orang sudah divonis bersalah,” tegasnya.
Ia menambahkan, beberapa keluarga korban masih menempuh jalur hukum, termasuk melanjutkan banding ke Mabes Polri dan meminta audiensi dengan Komisi III DPR RI.
Sementara itu, General Manager Arema FC, Muhammad Yusrinal Fitriandi, menyampaikan duka mendalam yang tidak akan pernah hilang.
“Duka Kanjuruhan adalah duka abadi. Kami mewakili Arema FC sekali lagi memohon maaf yang sebesar-besarnya, terutama kepada keluarga korban, bila ikhtiar kami belum sepenuhnya memenuhi harapan,” ucapnya.
Yusrinal menegaskan, tragedi ini harus menjadi titik balik untuk membangun masa depan sepak bola Indonesia yang lebih manusiawi. Ia mencontohkan hubungan harmonis antara Aremania dan suporter klub lain sebagai wujud paradigma baru dukungan yang sehat.
“Keamanan dan kehormatan di stadion adalah tanggung jawab kita bersama. Tidak ada yang bisa menggantikan kehilangan, tapi kami berkomitmen untuk terus berjalan bersama keluarga korban,” katanya.
Agenda peringatan tiga tahun Tragedi Kanjuruhan ini juga diikuti jajaran karyawan, pelatih, dan staf Arema FC Football Academy sebagai bentuk penghormatan sekaligus pengingat bagi generasi mendatang.
(sto)
Lihat Juga :