Rudianto Manurung Kembali Terpilih Secara Aklamasi Pimpin PSTI Riau
Sabtu, 11 Oktober 2025 - 15:30 WIB
loading...
A
A
A
Dua tahun kemudian, Riau menjadi salah satu daerah penyumbang atlet terbanyak bagi tim nasional sepak takraw Indonesia. Dari tanah Melayu ini lahir nama-nama seperti Muhammad Hafiz dan Wan Annisa, yang menyumbangkan medali emas, perak, dan perunggu di SEA Games 2023 di Kamboja.
“Anak-anak Riau bisa bersaing di level Asia Tenggara,” kata Rudianto dengan nada bangga tapi tertahan. “Mereka hasil kerja keras pembinaan yang kami tanam sejak awal.”
Rendah Hati dan Altruistik
Prestasi itu membuat namanya diperhitungkan. Tapi Rudianto tetap bersikap sama: sederhana, menolak berlebihan, dan enggan mengklaim kesuksesan pribadi.
“Saya hanya melanjutkan perjuangan orang-orang yang lebih dulu mencintai takraw,” ujarnya.
Sifat altruistiknya—tulus berkorban tanpa pamrih dan selalu mengutamakan kepentingan orang lain—membuat banyak pengurus daerah menaruh hormat.
Tak heran, menjelang Munas PB PSTI bulan depan, suara dukungan agar Rudianto maju ke level nasional kian nyaring.
“Beliau punya kerja nyata, bukan hanya pidato,” kata seorang pengurus KONI dari Sumatera Barat. “Figur seperti ini yang dibutuhkan untuk membawa sepak takraw Indonesia ke level dunia.”
Kabar terkini menyebutkan, dukungan dari pengprov kepada Rudianto untuk memimpin PB PSTI sudah mencapai lebih dari 50 persen.
Rudianto menanggapinya dengan tenang. Ia tak mau terlihat ambisius. Namun kepada rekan-rekan terdekatnya, ia kerap melontarkan cita-cita yang lebih besar: membawa sepak takraw Indonesia menjuarai Kejuaraan Dunia ISTAF yang digelar empat tahun sekali, serta King’s Cup—turnamen tahunan paling bergengsi di bawah Federasi Sepaktakraw Internasional.
Langkah ke Panggung Nasional
“Anak-anak Riau bisa bersaing di level Asia Tenggara,” kata Rudianto dengan nada bangga tapi tertahan. “Mereka hasil kerja keras pembinaan yang kami tanam sejak awal.”
Rendah Hati dan Altruistik
Prestasi itu membuat namanya diperhitungkan. Tapi Rudianto tetap bersikap sama: sederhana, menolak berlebihan, dan enggan mengklaim kesuksesan pribadi.
“Saya hanya melanjutkan perjuangan orang-orang yang lebih dulu mencintai takraw,” ujarnya.
Sifat altruistiknya—tulus berkorban tanpa pamrih dan selalu mengutamakan kepentingan orang lain—membuat banyak pengurus daerah menaruh hormat.
Tak heran, menjelang Munas PB PSTI bulan depan, suara dukungan agar Rudianto maju ke level nasional kian nyaring.
“Beliau punya kerja nyata, bukan hanya pidato,” kata seorang pengurus KONI dari Sumatera Barat. “Figur seperti ini yang dibutuhkan untuk membawa sepak takraw Indonesia ke level dunia.”
Kabar terkini menyebutkan, dukungan dari pengprov kepada Rudianto untuk memimpin PB PSTI sudah mencapai lebih dari 50 persen.
Rudianto menanggapinya dengan tenang. Ia tak mau terlihat ambisius. Namun kepada rekan-rekan terdekatnya, ia kerap melontarkan cita-cita yang lebih besar: membawa sepak takraw Indonesia menjuarai Kejuaraan Dunia ISTAF yang digelar empat tahun sekali, serta King’s Cup—turnamen tahunan paling bergengsi di bawah Federasi Sepaktakraw Internasional.
Langkah ke Panggung Nasional
Lihat Juga :