Rudianto Manurung Kembali Terpilih Secara Aklamasi Pimpin PSTI Riau
Sabtu, 11 Oktober 2025 - 15:30 WIB
loading...
A
A
A
Mimpi itu bukan omong kosong. Di bawah Rudianto, PSTI Riau berhasil menghidupkan kembali kultur latihan dan kompetisi daerah.
Ia menanamkan manajemen terbuka, disiplin, namun tetap kekeluargaan. Setiap pengurus punya tanggung jawab yang jelas, setiap rupiah dana dicatat transparan.
Visinya jika dipercaya memimpin PSTI nasional sederhana tapi jelas: memperkuat pelatnas dengan sistem meritokrasi, menggandeng sponsor jangka panjang, dan memastikan kesejahteraan atlet sebagai prioritas.
“Sepak takraw bukan olahraga kecil. Ini warisan budaya yang bisa jadi kebanggaan bangsa,” ujarnya.
Baginya, olahraga Melayu itu bukan sekadar soal medali, tapi soal harga diri. Indonesia, negeri yang menjadi salah satu asal tradisi takraw, sudah seharusnya tak hanya menjadi penonton di arena dunia.
“Kalau anak-anak Riau bisa juara di Asia Tenggara,” katanya, “maka anak-anak Indonesia bisa juara dunia.”
Sumpah di Lapangan Malam
Suatu malam, selepas rapat di kantor PSTI Riau, Rudianto duduk di kursi plastik di pinggir lapangan. Beberapa anak muda masih berlatih, tertawa ketika bola jatuh. Rudianto memandang mereka lama. “Kalau nanti ada di antara mereka berdiri di podium dunia, itu sudah cukup bagi saya,” katanya.
Di hatinya, sepak takraw bukan soal penghargaan pribadi—melainkan tentang menyalakan api yang lebih besar.
Dan jika Munas PSTI yang tak lama lagi digelar benar-benar mencari pemimpin yang tak hanya pandai bicara tapi terbukti bekerja, barangkali jawabannya sudah ada di lapangan kecil itu—di bawah sinar lampu temaram—bersama seorang pria yang berjanji siap miskin demi sepak takraw Riau.
Ia menanamkan manajemen terbuka, disiplin, namun tetap kekeluargaan. Setiap pengurus punya tanggung jawab yang jelas, setiap rupiah dana dicatat transparan.
Visinya jika dipercaya memimpin PSTI nasional sederhana tapi jelas: memperkuat pelatnas dengan sistem meritokrasi, menggandeng sponsor jangka panjang, dan memastikan kesejahteraan atlet sebagai prioritas.
“Sepak takraw bukan olahraga kecil. Ini warisan budaya yang bisa jadi kebanggaan bangsa,” ujarnya.
Baginya, olahraga Melayu itu bukan sekadar soal medali, tapi soal harga diri. Indonesia, negeri yang menjadi salah satu asal tradisi takraw, sudah seharusnya tak hanya menjadi penonton di arena dunia.
“Kalau anak-anak Riau bisa juara di Asia Tenggara,” katanya, “maka anak-anak Indonesia bisa juara dunia.”
Sumpah di Lapangan Malam
Suatu malam, selepas rapat di kantor PSTI Riau, Rudianto duduk di kursi plastik di pinggir lapangan. Beberapa anak muda masih berlatih, tertawa ketika bola jatuh. Rudianto memandang mereka lama. “Kalau nanti ada di antara mereka berdiri di podium dunia, itu sudah cukup bagi saya,” katanya.
Di hatinya, sepak takraw bukan soal penghargaan pribadi—melainkan tentang menyalakan api yang lebih besar.
Dan jika Munas PSTI yang tak lama lagi digelar benar-benar mencari pemimpin yang tak hanya pandai bicara tapi terbukti bekerja, barangkali jawabannya sudah ada di lapangan kecil itu—di bawah sinar lampu temaram—bersama seorang pria yang berjanji siap miskin demi sepak takraw Riau.
(sto)
Lihat Juga :