Piala Dunia 2026: FIFA Diam-Diam Ubah Ritual VAR
Selasa, 16 Juni 2026 - 08:59 WIB
loading...
Kontroversi gestur tangan yang dilakukan petugas VAR asal Australia, Shaun Evans, ternyata diikuti perubahan mencolok dalam siaran resmi Piala Dunia 2026 / Foto: BBC
A
A
A
JAKARTA - Kontroversi gestur tangan yang dilakukan petugas VAR asal Australia, Shaun Evans, ternyata diikuti perubahan mencolok dalam siaran resmi Piala Dunia 2026. Sebelumnya, FIFA menampilkan tim Video Assistant Referee (VAR) di pusat operasi wasit di Dallas sebagai bagian dari ritual pra-pertandingan.
Para petugas tampak menghadap kamera, berpose singkat, sementara nama dan peran masing-masing ditampilkan di layar. Namun, pola tersebut berubah setelah pertandingan Jerman melawan Curacao.
Dalam tiga laga berikutnya, para petugas VAR tidak lagi berpose di depan kamera. Sebaliknya, mereka hanya diperlihatkan sedang menghadap monitor dan menjalankan tugasnya.
Baca Juga: FIFA: Gestur Kontroversial Asisten Wasit VAR Tak Langgar Aturan
Perubahan itu terus diterapkan pada pertandingan-pertandingan selanjutnya. Hingga kini, FIFA belum memberikan penjelasan resmi mengenai alasan di balik perubahan tayangan tersebut.
Dalam permainan itu, seseorang membentuk lingkaran dengan jari di bawah pinggang dan orang yang melihatnya akan mendapat hukuman berupa pukulan ringan di bahu.
Namun, sejak 2017, simbol yang sama juga mulai digunakan sebagian kelompok sayap kanan ekstrem sebagai kode komunikasi. Pada 2019, organisasi anti-diskriminasi Anti-Defamation League (ADL) memasukkan simbol tersebut ke dalam daftar simbol kebencian.
Baca Juga: Kapten Iran: Perang Merampas Euforia Piala Dunia 2026
Jaringan antirasisme Fare, yang menjadi mitra FIFA dan UEFA dalam memerangi diskriminasi di sepak bola, sebelumnya juga mendesak FIFA untuk segera menyelidiki insiden tersebut.
"Saran dari para ahli kami menunjukkan bahwa gerakan tersebut jelas menyerupai simbol tangan 'OK' terbalik yang digunakan sebagai simbol 'kekuatan kulit putih' di kalangan sayap kanan ekstrem global," kata Fare.
Di sisi lain, organisasi antirasisme Inggris, Kick It Out, juga dilaporkan telah mengirim surat kepada FIFA untuk meminta klarifikasi terkait insiden tersebut.
Adapun Shaun Evans bukan nama baru di dunia perwasitan internasional. Wasit berusia 38 tahun itu telah masuk daftar wasit FIFA sejak 2017 dan merupakan salah satu petugas VAR berpengalaman yang juga bertugas pada Piala Dunia 2022 di Qatar. Di level domestik, Evans telah menjadi wasit Liga Australia sejak 2012 dan pernah memimpin Grand Final pada 2019.
Para petugas tampak menghadap kamera, berpose singkat, sementara nama dan peran masing-masing ditampilkan di layar. Namun, pola tersebut berubah setelah pertandingan Jerman melawan Curacao.
Dalam tiga laga berikutnya, para petugas VAR tidak lagi berpose di depan kamera. Sebaliknya, mereka hanya diperlihatkan sedang menghadap monitor dan menjalankan tugasnya.
Baca Juga: FIFA: Gestur Kontroversial Asisten Wasit VAR Tak Langgar Aturan
Perubahan itu terus diterapkan pada pertandingan-pertandingan selanjutnya. Hingga kini, FIFA belum memberikan penjelasan resmi mengenai alasan di balik perubahan tayangan tersebut.
Mengapa Tanda "OK" Terbalik Menjadi Kontroversi?
Gestur yang dilakukan Evans menyerupai simbol "OK" terbalik yang selama ini memiliki dua makna berbeda. Mengutip laporan BBC, Selasa (16/6/2026), di satu sisi, simbol tersebut identik dengan permainan iseng yang populer lewat sitkom Amerika Malcolm in the Middle dan kemudian berkembang menjadi meme internet.Dalam permainan itu, seseorang membentuk lingkaran dengan jari di bawah pinggang dan orang yang melihatnya akan mendapat hukuman berupa pukulan ringan di bahu.
Namun, sejak 2017, simbol yang sama juga mulai digunakan sebagian kelompok sayap kanan ekstrem sebagai kode komunikasi. Pada 2019, organisasi anti-diskriminasi Anti-Defamation League (ADL) memasukkan simbol tersebut ke dalam daftar simbol kebencian.
Baca Juga: Kapten Iran: Perang Merampas Euforia Piala Dunia 2026
Jaringan antirasisme Fare, yang menjadi mitra FIFA dan UEFA dalam memerangi diskriminasi di sepak bola, sebelumnya juga mendesak FIFA untuk segera menyelidiki insiden tersebut.
"Saran dari para ahli kami menunjukkan bahwa gerakan tersebut jelas menyerupai simbol tangan 'OK' terbalik yang digunakan sebagai simbol 'kekuatan kulit putih' di kalangan sayap kanan ekstrem global," kata Fare.
Di sisi lain, organisasi antirasisme Inggris, Kick It Out, juga dilaporkan telah mengirim surat kepada FIFA untuk meminta klarifikasi terkait insiden tersebut.
Adapun Shaun Evans bukan nama baru di dunia perwasitan internasional. Wasit berusia 38 tahun itu telah masuk daftar wasit FIFA sejak 2017 dan merupakan salah satu petugas VAR berpengalaman yang juga bertugas pada Piala Dunia 2022 di Qatar. Di level domestik, Evans telah menjadi wasit Liga Australia sejak 2012 dan pernah memimpin Grand Final pada 2019.
(yov)
Lihat Juga :